Catcalling sering terjadi di tempat-tempat umum, seperti halte, stasiun, dan tempat-tempat umum lain seperti di pinggiran jalan. Pada hakikatnya mereka sebagai pelaku atau catcaller mengakui hal tersebut adalah bentuk sebuah pujian untuk seorang wanita yang dianggap menarik, atau hanya sekedar candaan biasa. Tanpa disadari, wanita sebenarnya akan merasa terganggu dan terancam dengan tindakan para catcaller tersebut. Secara spontan mereka bisa saja akan merasa was-was dan menjadi panik. Bahkan menurut sebuah survei psikologis yang berbasis di Nex Jersey, catcalling dapat menyebabkan korbannya tanpa sadar melakukan penilaian atas diri sendiri seperti layaknya menilai benda (self-objectification).
Ternyata, tanpa disadari bisa saja kita mengidap “penyakit” yang biasa dikenal dengan istilah internalized misogyny. Internalized misogyny terjadi ketika kebencian terhadap perempuan tanpa disadari menjadi bagian dari cara pandang seseorang. Biasanya, seorang perempuan mudah menjauhkan diri atau merendahkan perempuan lain, yang menurutnya tidak sama dengan standar yang ia yakini.
Mungkin sebagian dari kita tanpa sadar pernah mengalami ataupun melakukan ghosting dalam menjalin sebuah hubungan. Baik hubungan dengan kekasih, sahabat, teman, maupun keluarga. Ghosting merupakan sebuah perilaku
Decluttering tidak hanya sekadar kegiatan merapikan biasa. Tren gaya hidup decluttering ini dapat memberikan dampak yang positif jika dilakukan secara terus-menerus, karena dapat mengurangi seseorang membeli barang-barang yang dianggap kurang dibutuhkan. Decluttering dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, hanya dengan bermodal mengosongkan sebuah tempat yang berisi barang-barang yang tidak terlalu penting, maka tren gaya hidup minimalis ini sudah dapat dilakukan. Jika sobat Pijar bingung ingin memulai dari mana, terdapat beberapa cara untuk mulai mengorganisir barang-barang yang kalian miliki yang mungkin dianggap sudah menumpuk serta perlu dibenahi.
Perilaku berbelanja online sudah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama di tengah kondisi pandemi seperti saat ini yang mengharuskan kita untuk melakukan segala sesuatu dari rumah. Namun, terkadang keinginan serta kebutuhan sering kali menjadi titik permasalahan. Banyak orang cenderung membeli benda atau produk yang tidak terlalu dibutuhkan, hanya dengan alasan mengikuti tren. Apalagi jika barang-barang tersebut diberi potongan harga dan penawaran yang menarik, seperti saat sebuah toko retail yang berusaha menarik minat pembeli dengan obral atau menggunakan strategi pemasaran seperti buy 1 get 1 atau diskon 50% all item. Tidak heran jika orang-orang berburu untuk memborong barang-barang tersebut.
Terima kasih, maaf dan tolong merupakan tiga kata ajaib yang sering terlupakan, bahkan dianggap sepele oleh sebagian orang. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya tiga kata ini sering digunakan untuk menghargai orang lain.
Menurut Oxford Dictionary tahun 2018, binge-watching adalah menonton beberapa episode serial TV terus-menerus secara berurutan, umumnya dengan menggunakan DVD atau streaming online. Biasanya pelaku binge-watching akan menghabiskan banyak waktu untuk menonton film seri secara sekaligus. Asal usul kata binge sendiri dimulai pada abad ke-19, binge diartikan sebagai merendam tong atau kapal kayu lainnya agar tidak bocor, yang akhirnya menjadi sebuah metafora untuk ‘basah kuyup’ atau minum berlebihan (Zimmer, 2013).
Fenomena tanaman hias janda bolong ini mulai meroket disebabkan tanaman ini menjadi tren di kalangan orang yang memiliki rumah minimalis serta kalangan elite. Bak primadona, para pecinta tanaman hias rela merogoh kocek yang cukup dalam untuk menjadi salah satu kolektor tanaman janda bolong yang akan menghiasi halaman rumah mereka.
Siapa yang tak kenal dengan budaya Jepang pada zaman sekarang ini. Budaya ini pertama kali masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 1980–an dalam bentuk video kaset dan cukup populer hingga tahun 2000–an. Budaya populer Jepang sendiri terdiri dari berbagai jenis seperti anime, manga (komik), Japan music (J-pop), drama televisi Jepang, dan gim. Di antara semua produk budaya Jepang, anime-lah yang paling populer. Popularitas anime di kalangan masyarakat Indonesia turut menarik dua julukan, yaitu “otaku” dan “wibu” yang ditujukan untuk para penggemarnya. Kedua hal ini sering dianggap menganggu dan dipandang sebagai satu hal yang sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan mencolok antara otaku dan wibu.
Di Indonesia perihal ini masih sangat diperdebatkan. Kasus euthanasia pertama dicatat di Indonesia pada tahun 2004 di Rumah Sakit Islam Bogor. Dimana Panca Satrya Hasan Kusumo melakukan permohonan praktik tersebut terhadap istrinya, Agian Isna Nauli Siregar, yang tergolek koma selama tiga bulan dan menderita kerusakan saraf permanen di otak. Melihat kondisi istrinya itu, Panca mengajukan permohonan euthanasia ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat namun permohonannya ditolak negara karena dianggap melanggar hukum.
