Pernahkah kita bertanya apakah kita sudah berpikir secara rasional dalam menjalani keseharian, atau ketika berargumen? Apakah kita sering melakukan kesalahan berpikir yang membuat argumen kita menjadi tidak nyambung?
Kesadaran Masyarakat Indonesia untuk menerapkan gaya hidup sehat semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir ini. Salah satu tren yang paling menonjol adalah meningkatnya kebiasaan minum air putih secara rutin, terutama di kalangan anak muda seperti mahasiswa, pelajar, dan pekerja urban.
Perubahan iklim yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir, berdampak pada banyak aspek dalam kehidupan; kesehatan hingga kesejahteraan. Sebagian manusia yang merasakan langsung perubahan iklim tersebut pastinya merasakan keresahan sewaktu-waktu saat kejadian. Ditambah dengan arus media sosial yang kian cepat menyebar, meningkatkan stres hingga kecemasan, depresi, dan hilangnya harapan untuk masa depan. Fenomena ini, lebih dikenal dengan istilah Climate Anxiety atau kecemasan iklim.
Perkembangan teknologi keuangan dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar kepada masyarakat Indonesia, yang mulai memasuki era tanpa uang tunai. Dalam kehidupan sehari-hari yang semuanya semakin serba cepat, kita pasti sering mendengar istilah “cashless society” atau yang dimaksud dengan era masyarakat tanpa uang tunai.
“Wah! kamu kurusan ya, jadi lebih enak dilihat.” Kalimat seperti ini terdengar seperti pujian, tetapi ada sesuatu yang terasa aneh. Ada lapisan halus yang membuat penerimanya bertanya dalam hati. Apakah ini benar-benar pujian, atau ada sesuatu yang sedang diselipkan. Ini adalah contoh klasik dari Backhanded Compliment. Sebuah komentar yang manis di awal, tetapi terasa getir di bagian akhirnya.
Seluruh masyarakat dunia tentu menggunakan media sosial secara aktif. Bukan sekadar penyedia hiburan, kini media sosial menjelma menjadi media multifungsi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi lintas kepentingan. Salah satunya ialah menjadi wadah bagi industri media untuk melancarkan ragam informasi.
Fenomena ini dikenal sebagai Peer Pressure, yaitu tekanan yang muncul dari teman sebaya terhadap pilihan gaya hidup seseorang. Tekanan ini bersifat halus dan bukan muncul dari paksaan langsung, melainkan dari kebutuhan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Saat ini, fenomena tsunami informasi dan mudahnya akses ke konten digital membuat masyarakat seakan tidak bisa lepas dari ketergantungan konsumsi konten ringan secara berlebihan. Akibatnya, sering kali seseorang akhirnya merasa sulit fokus saat bekerja, atau mendadak kehilangan waktu karena terus berselancar di media sosial.
Kita memiliki waktu 24 jam dalam satu hari. Namun, mengapa rasanya waktu begitu cepat berlalu? Saat tugas menumpuk, tenggat mendesak, dan berbagai aktivitas harus dijalankan, sehari seolah tidak pernah cukup. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya manajemen waktu agar seluruh kegiatan dapat terencana dan terlaksana dengan baik setiap harinya.
Di dunia kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang mulai sadar bahwa hidup bukan hanya mengenai pekerjaan yang tanpa henti. Dari kesadaran itu, muncul istilah yang kini populer di kalangan pekerja muda, yaitu Tenggo. Istilah ini cukup sederhana, tetapi mempunyai makna tersendiri. “Teng” menggambarkan bunyi jam atau bel yang menandakan waktu pulang, sedangkan “Go” berasal dari bahasa Inggris yang artinya pergi.
