Widya Tri Utami

Pijar, Medan. Pemaknaan mengenai inspirasi dan imitasi sungguh banyak. Beberapa orang menganggapnya hampir serupa tapi tak sama. Inspirasi diartikan sebagai tindakan setelah mencari dan mempelajari referensi, sedangkan imitasi adalah tindakan meniru. Suatu budaya baru yang tanpa disadari terjadi yakni knockoff culture, terjebak di antara kedua kata itu.

Banyak yang belum menyadari knockoff culture ada dan terjadi. Pada media sosial, terdapat unggahan-unggahan yang memuat produk bisnis nyaris mirip dengan merek-merek ternama dunia. Baik itu dari segi penamaan hingga logo yang tertera. Lantas, apakah itu terinspirasi atau justru merupakan imitasi?

Knockoff culture sering ditemukan terkhusus pada ranah fesyen. Para pelaku desain memang berlomba-lomba menghasilkan karya yang menarik untuk dilirik. Menilik referensi sebagai inspirasi memang kerap dilakukan. Namun, tak sedikit barang-barang yang ditemukan terlihat mirip atau dirasa familiar.

Dikutip dari The Finery Report, pendiri dari Calla The Label, Yeri Afriani mengatakan bahwa antara inspirasi dan imitasi memang masih sulit untuk didefinisikan. “Di Indonesia, perancang busana menggunakan referensi adalah hal yang umum, sulit untuk membedakan tiruan dengan inspirasi karena semuanya tidak jelas.”

Knockoff culture juga sering diduga memiliki arti yang sama dengan counterfeit atau barang “KW”, namun ternyata tidaklah demikian. “Knockoff mostly are not counterfeits. People tend to conflate them but they’re not the same (Knockoff sebagian besar bukanlah barang palsu. Orang cenderung menyamakannya tetapi mereka tidak sama),” jelas Christopher Sprigman yang dilansir dari kanal YouTube Vox.

Barang counterfeit alias palsu dan “KW” sungguh berbeda dengan knockoff cuture karena menyalin simbol maupun logo suatu merek aslinya yang dibuat bukan oleh pemiliknya. Hal ini karena terdapat pemaknaan orisinil yang jelas dan tercantum kuat di mata hukum dengan adanya kepemilikan identitas seperti logo di dalamnya. Sehingga penyelesaiannya pun dapat terbayang nyata.

Merek-merek ternama yang terbilang menjadi ‘korban’ dari knockoff culture ini memberikan beragam reaksi. Beberapa di antaranya hanya mengabaikan, namun beberapa yang lainnya bertindak. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan si pihak orisinil. Karena balik lagi pada definisi inspirasi dan imitasi yang masih sulit diartikan keterkaitannya. Akibatnya, justru tak sering berakhir terambang di tengah jalan. Selain itu, tidak banyak pula negara yang memiliki hukum kuat terkait hal ini.

Mengikuti tren dan keinginan masyarakat serta berpijak pada standarisasi yang ada menjadi faktor pendorong budaya knockoff dapat terjadi. Teknik berbisnis dan pemasaran berperan di dalamnya untuk memikat konsumen agar membeli produk mereka. Masyarakat dirasa lebih ingin membeli barang yang terkesan familiar dan mengikuti tren saat itu dengan harga yang lebih terjangkau. Terlebih lagi, inovasi bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Nah, apakah sobat Pijar merupakan salah satu pecinta barang-barang Knockoff ini?

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment