Hati-Hati, Menganggap Rendah Perempuan Lain Ternyata Sebuah Penyakit!

Sumber Foto: duexpress.in

Maryam Mazaya/ Shilva Devira

Pijar, Medan. Menciptakan standar tertentu terhadap orang lain mungkin sering kita lakukan. Penetapan standar ini terjadi pada berbagai kalangan, terkhusus pada perempuan.  Kata-kata seperti, “Perempuan tuh harus pintar memasak,” ataupun “Perempuan tuh, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya juga bakal jadi ibu rumah tangga.”

Ternyata, tanpa disadari bisa saja kita mengidap “penyakit” yang biasa dikenal dengan istilah internalized misogyny. Internalized misogyny terjadi ketika kebencian terhadap perempuan tanpa disadari menjadi bagian dari cara pandang seseorang. Biasanya, seorang perempuan mudah menjauhkan diri atau merendahkan perempuan lain, yang menurutnya tidak sama dengan standar yang ia yakini.

Internalized misogyny merupakan perilaku maupun pemikiran masyarakat yang merendahkan wanita lainnya karena ketidaksesuaian persepsi yang ada pada dirinya dengan yang dimiliki wanita itu. Internalized misogyny ini terjadi karena bentukan dari keluarga dan konstruksi masyarakat yang kuat, terutama pada masyarakat yang menganut paham patriarki. Sebagai contoh, kita hidup dalam masyarakat yang suka mengatur dan menentukan keharusan diri pada perempuan dan laki-laki. Semisal, urusan make up. Katanya, perempuan harus mahir mengaplikasikan make up, karena ia dituntut menjadi cantik sesuai standar masyarakat. Perempuan yang gagal memenuhi ‘standar’ sering kali dicemooh, bahkan oleh perempuan sendiri. Di sisi lain, tak sedikit perempuan yang punya standar kecantikan dengan make up natural menganggap perempuan lain yang memakai make-up tebal sebagai perempuan penggoda. Anggapan tersebut telah menginternalisasikan misogini, melekatkan perempuan dengan stereotip tertentu. Padahal, mau tipis, tebal, atau tidak pakai make up sekalipun, itu hak setiap perempuan.

Untuk terlepas dari Internalized misogyny ini, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Pertama, kita harus menyadari dulu bahwa hal ini memang ada dan terjadi, bahwa ada beberapa hal yang secara tidak sadar membuat kita memiliki pandangan seperti ini terhadap kelompok kita, budaya patriarki yang kuat membuat kita secara tidak sadar benci kepada orang-orang yang harusnya kita dukung.

Kemudian coba cek lagi ucapan maupun perkataan kita selama ini,  dan dari situ pelan-pelan ubah  cara pandang kita supaya wanita bisa berhenti mendikotomikan satu sama lain. Agar kita bisa mulai memahami bahwa tidak semestinya kita memiliki standar khusus bagaimana seharusnya seorang wanita itu bertingkah laku. Dengan demikian, kita bisa meminimalisir pandangan Internalized misogyny yang telah ada.

Jadi sobat Pijar, wanita dapat menjadi apapun yang ia mau, tidak masalah kalau ia merasa feminim atau tomboi, karena tidak ada yang lebih baik dari siapapun dan pada dasarnya semua wanita itu spesial. Intinya, tetap jadi diri sendiri, karena siapapun kita, kita pantas untuk dicintai dan dihargai, dan yang paling penting ayo kita saling mendukung satu sama lain sebagai saudara, karena musuh kita yang sesungguhnya adalah kaum patriarki.

(Editor: Diva Vania)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *