Lagi-lagi tentang kebiasaan manusia yang terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain. Mengiyakan permintaan meski sedang tidak mampu, mengalah meski sebenarnya keberatan, hingga memilih diam karena takut dianggap tidak baik. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan, seseorang bisa lupa bahwa dirinya juga memiliki batas.
Lagi-lagi berlatar di Kota Jakarta. Tempat semuanya tampak megah, walau beberapa terseok menyambung kehidupan. Buku Dua Dini Hari mengungkap segala hal yang tumpang-tindih dari kota metropolitan, baik kemanusiaan maupun keadilan, terutama untuk mereka yang terpinggirkan.
Banyak hal di dalam kehidupan yang sering kita pikirkan, meskipun sebenarnya berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya. Ucapan orang lain, keputusan yang tidak sesuai harapan, serta cara seseorang memperlakukan kita sering kali menyita waktu dan energi tanpa menghasilkan perubahan nyata.
“Apakah perubahan menuju mindset tumbuh telah menyelesaikan seluruh persoalan? Tidak. Tetapi saya tau bahwa saya memiliki kehidupan yang berbeda berkat perubahan ini” — Mindset: Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda, hal 371.
Dari benda-benda yang tertinggal itu, Kim Sae Byoul membaca kisah hidup seseorang yang tidak lagi mampu menceritakannya sendiri. Gambaran cerita tersebut bukanlah sebuah fiksi, semuanya berasal dari kisah hidup atau pengalaman nyata dari Kim Sae Byoul, seorang pengurus barang peninggalan dari orang-orang yang telah meninggal di Korea Selatan.
Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk angka tahun atau dokumentasi yang kaku. Sering kali, esensi sejarah justru hidup dalam kisah personal mereka yang berani bersuara di tengah situasi yang mencekam. Salah satu bukti nyata dari hal tersebut adalah perjalanan hidup Wiji Thukul, seorang penyair sekaligus aktivis yang dedikasinya dirawat kembali oleh Tim Tempo melalui buku berjudul Teka-Teki Orang Hilang yang terbit pada tahun 2013.
Keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar terkadang mampu mengubah manusia menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Ambisi yang awalnya terlihat sederhana, dapat berkembang menjadi sebuah obsesi yang perlahan menghancurkan akal sehat dan nurani. Mulai dari takhta, kehormatan, dan kemenangan seolah menjadi tujuan akhir yang diinginkan banyak orang.
Dibalik nama yang diambil dari salah satu anatomi tubuh perempuan, karya Sasti Gotama yang satu ini didasarkan atas beberapa penelitian mendalamnya, seperti riset medis, penalaran hukum, serta pengalaman nyata. Dengan tujuan agar dapat menggambarkan narasi luka mendalam yang kerap dialami oleh hampir keseluruhan perempuan. Karya tulis tersebut, berjudul Korpus Uterus yang dapat menghantarkan pembaca dalam lingkaran paradoks mengenai salah satu anatomi tubuh perempuan.
Bagaimana mungkin benda sesederhana penutup dada dapat berkaitan dengan perjuangan hidup, bahkan bersinggungan dengan situasi politik? Pertanyaan inilah yang perlahan terjawab dalam novel Entrok, karya Okky Madasari, dengan mengangkat kisah perempuan di tengah perubahan besar dalam sejarah Indonesia.
Selama ini, sebutan “cinta” sering kali terdengar seperti sebuah kata atau ungkapan yang memiliki makna mendalam, bahkan cenderung berat untuk diucapkan karena dirasa memiliki tanggung jawab besar yang tersimpan di balik kata itu.
