Kejamnya Perilaku Ghosting Bagi Korbannya

Sumber Foto : Theforestscout.com

Naomi Adisty / Nia Nuryanti Barus

“Ghosting adalah perilaku yang menyakitkan dan membingungkan. Perilaku ini bukanlah tindakan yang dewasa.” – Psycircle.id

Pijar.Medan. Bingung dan menggoreskan luka, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana ketika seseorang yang kita sayang tiba-tiba menghilang dan menjauh dari kehidupan kita tanpa sebuah alasan yang jelas. Perilaku seperti ini biasa disebut dengan istilah “Ghosting”. 

Mungkin sebagian dari kita tanpa sadar pernah mengalami ataupun melakukan ghosting dalam menjalin sebuah hubungan. Baik hubungan dengan kekasih, sahabat, teman, maupun keluarga. Ghosting merupakan sebuah perilaku di mana seseorang atau pasangan menghilang dan memutuskan komunikasi secara tiba-tiba, tanpa adanya penjelasan terlebih dahulu. Orang yang melakukan ghosting terhadap orang lain biasa disebut dengan istilah ‘Ghoster’ dan korban dari perilaku ghosting disebut dengan ‘Ghostee’.

Perilaku ghosting hampir pernah dialami dan dilakukan oleh sebagian besar individu. Menurut survei yang dilakukan oleh psycircle.id, sekitar 80% orang yang berusia 18-33 tahun pernah menjadi korban ghosting dari pasangannya, baik pria maupun wanita. Ternyata ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan ghosting. 

Beberapa alasan yang dikumpulkan dari beberapa individu yang pernah melakukan perilaku ghosting terhadap pasangannya adalah karena sudah tidak suka atau cinta, ataupun sudah tertarik dengan orang lain. Hal ini merupakan salah satu sifat buruk manusia. Ketika menyukai orang lain, maka seseorang akan meninggalkan kita karena menganggap kita sudah tidak memiliki hal-hal yang membuatnya merasa tertarik lagi. 

Alasan selanjutnya adalah sibuk dalam kegiatan yang lain. Ketika seseorang menghilang atau memutuskan hubungan komunikasi dengan kita, sebenarnya bukan karena adanya unsur kesengajaan. Namun, karena orang tersebut memiliki urusan yang menyibukkan dirinya sehingga melupakan kita dan tidak ada waktu untuk memberikan kabar.

Kemudian, adanya konflik di dalam hubungan yang dibina, ataupun merasa tidak cocok dan tidak nyaman dengan hubungan yang terbina, terkadang sang ghoster merasa ilfeel terhadap perilaku pasangannya sehingga dia pun akhirnya menghilang tanpa kejujuran karena takut membuat ghostee merasa sakit hati dengan alasannya. Padahal, dengan menghilang begitu saja dapat membuat ghostee merasa lebih tersakiti. 

Alasan lainnya adalah pelaku sengaja mempermainkan perasaan, hal ini merupakan alasan yang sangat menyakitkan bagi sang korban ghosting, karena ternyata individu perilaku ghosting hanya ingin bermain-main di dalam hubungan tersebut tanpa melibatkan perasaan.

Perilaku ghosting tentu saja sangat berbahaya, terutama bagi korban yang mendapat perilaku ghosting dari pasangannya. Ghosting akan memberikan dampak negatif dan luka yang mendalam bagi korbannya.  

Sebagai individu yang pernah mendapat perilaku ghosting dari sahabatnya, Ayunda mengatakan bahwa dirinya merasa sangat kecewa dan sedih serta bingung, mengapa tiba-tiba sahabatnya tersebut memutuskan komunikasi dan menjauh begitu saja dengannya. Terkadang dia juga bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apa kesalahan yang ia perbuat sehingga sahabatnya menjauhinya. “Ya sedih dan kecewa sekali, kenapa dia menjauh begitu saja padahal aku juga nggak ada buat salah apa-apa, biasanya selalu main dan curhat bareng, tetapi sekarang dia menjauh tanpa alasan, buat aku jadi bingung dan bertanya-tanya sendiri,” ujar sang ghostee tersebut.

Bagi seseorang yang sudah merasa nyaman dan memberikan perasaannya secara penuh dalam sebuah hubungan, dapat menimbulkan dampak yang sangat buruk ketika individu tersebut mendapatkan perilaku ghosting. Hal ini dapat membuat individu tersebut merasakan sedih dan sakit hati yang berkepanjangan. Hingga pada akhirnya, hal tersebut dapat mengarah kepada depresi yang akan dialami korban ghosting tersebut dan dapat menimbulkan perilaku-perilaku yang membahayakan diri ghostee sendiri.

Bagi kamu yang pernah mendapatkan perilaku ghosting, di mana pasanganmu secara tiba-tiba menghilang dan memutuskan komunikasi denganmu, jangan jadikan itu sebagai luka yang dapat membuatmu tertekan. Kamu harus bangkit dan menyadari serta meyakinkan dirimu sendiri, bahwa dia bukanlah orang yang terbaik untukmu. Belajarlah menerima keadaan dan kenyataan, lakukanlah aktivitas yang kamu sukai untuk mengalihkan pikiranmu. Keluarkan keluh kesahmu kepada orang yang dapat kamu percaya, dan untuk penanganan yang lebih serius jika kamu sudah terlalu terluka akibat perilaku ghosting tersebut, kamu dapat berkonsultasi dengan profesional. 

Jika kamu salah satu pelaku ghosting, maka mulai sekarang kamu dapat lebih aware akan perasaan orang lain atau pasanganmu yah! Karena ghosting bukanlah sebuah tindakan sepele. Ghosting dapat melukai individu lain dan perilaku tersebut secara tidak langsung menggambarkan bahwa kamu bukanlah individu dewasa yang menyelesaikan masalah dengan menghilang tanpa alasan yang jelas. 

(Editor: Diva Vania)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *