Anggrek bulan bersandar pada cahaya senja
Menyimpan makna dalam diam yang terasa
Sehalus embun yang jatuh tanpa suara
Namun tegar, meski tak tampak oleh mata
Tiga bulan purnama telah berlalu semenjak Alis meninggalkan kota kecil yang biasa ia panggil rumah. Hari demi hari ia lewati dengan rasa hampa. Berlembar-lembar kertas ia coret untuk menuliskan surat kepada keluarga di kampung halamannya. Tidak terhitung berapa tetes air mata yang telah jatuh sejak hari pertama ia pindah ke kota besar, Jakarta.
Bahwa ternyata, dengan menjadi perempuan yang mencintainya pun,
Tetap menjadikanku sesuatu yang mudah ia hempaskan dari rencana hidupnya
Rumah itu masih berdiri di ujung gang, cat dindingnya mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan lama yang pernah lebih cerah. Pagar besinya berderit setiap kali disentuh angin. Halamannya dipenuhi daun kering yang tidak pernah benar-benar habis, meski hampir setiap pagi disapu.
“Mas Aji, paket saya kapan sampai ya?”
“Mas, surat saya sudah sampai?”
Dari salah satu sudut Kota Jakarta, kalimat-kalimat tersebut seolah sudah menjadi sapaan hangat yang tidak asing lagi bagi seorang pria muda berkulit coklat dengan senyuman manis di wajahnya.
Masih jatuh di tempat yang sama
Melelahkan dan terus berulang
Hits: 33Adelima Patricya Masih enggan pikiranku berhenti Memikirkanmu yang duduk bersamaku disini Bersama melenyapkan dinginnya sepi Bersama menunggu sinar yang…
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada sesuatu yang retak, sesuatu yang terasa sampai ke tulang. Kakakku sedang berperang dengan pikirannya sendiri antara mau meledak atau membeku.
Senja itu kupandang siluetmu di balik cahaya jingganya,
Walau hanya hitam gelap,
Barangkali puisi yang pernah ditulis oleh Sapardi Djoko Damono bertajuk Hujan Bulan Juni, bukan Januari. Merupakan puisi romantis yang melankolis, rindu yang sengaja disembunyikan, dan luka yang hadir dengan emosional.
