Agnes Priscilla / Zain Fathurrahman

Pijar, Medan. Berbelanja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi siapa saja, baik wanita maupun pria. Berhasil mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan atau impikan akan memberikan efek kepuasan tersendiri bagi kita. Ditambah lagi, berbagai macam kemudahan seperti belanja secara online yang nyaman sudah kita dapatkan,  hanya dengan satu klik kita sudah bisa membeli sesuatu yang kita inginkan dengan cepat.

Perilaku berbelanja online sudah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama di tengah kondisi pandemi seperti saat ini yang mengharuskan kita untuk melakukan segala sesuatu dari rumah. Namun, terkadang keinginan serta kebutuhan sering kali menjadi titik permasalahan. Banyak orang cenderung membeli benda atau produk yang tidak terlalu dibutuhkan, hanya dengan alasan mengikuti tren. Apalagi jika barang-barang tersebut diberi potongan harga dan penawaran yang menarik, seperti saat sebuah toko retail yang berusaha menarik minat pembeli dengan obral atau menggunakan strategi pemasaran seperti buy 1 get 1 atau diskon 50% all item. Tidak heran jika orang-orang berburu untuk memborong barang-barang tersebut.

Bagi Anda si shopaholic tampaknya harus berhati-hati untuk tidak terlalu berlebihan dalam berbelanja, karena perilaku konsumtif ini termasuk dalam kecanduan berbelanja yang disebut Compulsive Shopping Disorder. Dilansir dari alodokter.com gangguan Compulsive Shopping Disorder atau yang juga dikenal sebagai compulsive buying disorder merupakan jenis gangguan kontrol impuls dan kecanduan perilaku, yang mungkin berkaitan dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD). Compulsive buying disorder menimbulkan keinginan tidak terkontrol untuk membeli sesuatu yang akhirnya mengakibatkan penyesalan yang mendalam.

Para psikoterapis juga angkat bicara terkait hal ini, mereka berpendapat bahwa kecanduan belanja secara online termasuk sebagai gangguan mental. Sebab, perilaku yang disebut Compulsive Shopping Disorder (CSD) ini memiliki kesamaan dengan kecanduan dan dorongan lain.  Compulsive Shopping Disorder juga dikategorikan oleh World Health Orgainization (WHO) sebagai penyakit mental.

Dikutip dari Very Well Mind, kecanduan belanja online ini dapat disebabkan oleh gangguan kontrol impuls karena pengidapnya merasa dengan belanja dapat melepaskan rasa stres yang dirasakan. Orang yang mengalami CSD biasanya berbelanja hanya untuk mengalihkan perasaan yang tidak nyaman di hatinya. Cara ini dapat membuatnya merasa lebih baik dan menghindari perasaan negatif, seperti kecemasan dan depresi.

Dilihat dari topik permasalahannya, kita mengira bahwa wanita mendominasi angka pengidap belanja kompulsif ini, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan di Stanford University menyatakan bahwa setidaknya 6% wanita dan 5,5% laki-laki adalah pembeli kompulsif.

Adapun karakteristik dari orang-orang yang mengidap CSD ini adalah sulit menolak untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, kesulitan finansial karena perilaku belanja yang tidak terkontrol, senang berbelanja benda-benda yang tidak terlalu dibutuhkan, bermasalah pada pekerjaan, sekolah, atau di rumah karena perilaku belanja tidak terkontrol, dan menghabiskan banyak waktu untuk meriset barang-barang impian.

Cara sederhana untuk mengatasi CSD adalah dengan mulai membuat list atau urutan kebutuhan berbelanja terlebih dahulu. Lalu langkah selanjutnya, pisahkan uang untuk belanja secukupnya dan hanya untuk keperluan yang penting saja.

Jika keadaan yang kamu alami termasuk ke dalam gangguan yang cukup parah atau kronis, bahkan kamu sudah melakukan cara-cara untuk mencegahnya, maka segeralah lakukan konseling dan terapi psikologis kepada dokter atau tenaga ahli terkait. Segera waspadai keinginan berbelanja yang berlebihan, jangan sampai aktivitas belanja yang seharusnya menyenangkan malah menjadi sumber masalah, ya, Sobat Pijar!

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment