Samuel Sinurat

Medan, Pijar.  Baru-baru ini, media sosial digemparkan dengan fenomena sebuah kamar indekos yang penuh dengan sampah. Usut punya usut, ternyata sampah-sampah tersebut sengaja tidak dibuang oleh pemiliknya. Sampah-sampah tersebut berupa sampah plastik bungkus jajanan, sampah kertas yang terdiri dari koran bekas, sampah kaca, dan sampah eletronik yang berupa televisi rusak. Potret tersebut menimbulkan banyak perbincangan di Twitter, karena seperti yang kita ketahui, kamar pada umumnya merupakan tempat ternyaman untuk tidur malah digunakan sebagai tempat menimbun sampah sehingga membuat siapa saja menolak untuk berlama-lama (apalagi tidur) di ruangan tersebut. Seiring dengan viralnya kasus tersebut, istilah hoarding disorder” pun mulai banyak dibicarakan.

Dikutip dari Psychiatry, hoarding disorder merupakan orang dengan gangguan menimbun berbagai barang yang dianggap tidak berharga oleh orang lain. Laman Kesehatan Nasional Inggris National Health Service (NHS) menuliskan bahwa seseorang mengalami hoarding disorder karena adanya depresi berat, gangguan psikotik, seperti skizofrenia, dan obesesif kompulsif. Selain itu, pengabaian diri juga bisa memicu terjadinya hoarding disorder. Hal tersebut dapat kita temui pada kasus seseorang yang hidup sendiri tanpa didampingi keluarga, tinggal di lingkungan yang berantakan, dan tidak memiliki pasangan.

Para pengidap gejala hoarding disorder biasanya suka menumpuk barang tak terpakai dalam jumlah yang berlebihan, sehingga barang yang ditumpuk tersebut menimbulkan suasana kacau dan mengakibatkan si pengidap susah untuk membuangnya. Selain itu, penderita juga mengalami kesulitan dalam membuat keputusan. Ditambah lagi, dampak dari gejala hoarding disorder pada hubungan sosial, pekerjaan, dan berbagai urusan hidup sehari-hari dapat menjadi masalah kesehatan fisik yang serius, seperti terkena penyakit pernapasaan dan pencernaan.

Jika ditanya, sepertinya masih banyak yang sulit membedakan hoarding disorder dengan pengoleksi barang. Tetapi, perbedaan mendasarnya dapat kita lihat dari bentuk dan jenis barang tersebut. Orang yang suka mengoleksi barang biasanya menyimpan barangnya dengan rapi dan sesuatu yang dikoleksinya cenderung khusus atau satu jenis saja. Lalu, barang yang dikoleksi sudah pasti berharga dan memiliki nilai guna. Berbeda dengan hoarding disorder yang menyimpan semua jenis barang, bahkan yang disimpan kerap kali tidak memiliki nilai guna atau tidak berharga.

Dikutip dari laman Kompas Health, untuk mengatasi gejala hoarding disorder dapat mengikuti metode terapi Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Pada metode ini, terapis biasanya membantu pasien untuk memahami apa yang membuatnya sulit untuk membuang barang-barang yang ditimbunnya. Terapis memberikan tugas kepada pasien pengidap hoarding disorder untuk membersihkan timbunan barang yang dibuatnya. Selain itu, gejala hoarding disorder bisa diatasi dengan bantuan obat dari psikiater. Di sisi lain, dukungan dari keluarga dan teman juga sangat diperlukan untuk mengatasi gejala hoarding disorder, sebab orang terdekat akan selalu membantu kita.

Hoarding disorder tidak bisa disepelekan, sehingga membutuhkan penanganan yang tepat agar hidup pengidapnya tidak terganggu. Untuk itu, jika kamu atau kerabatmu mengalami gejala dari hoarding disorder, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan psikiater guna mendapatkan penanganan yang tepat.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment