Hustle Culture adalah suatu gaya hidup di mana seseorang merasa bahwa dirinya harus terus bekerja keras kapanpun dan di manapun dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat, dengan begitu ia dapat merasa bahwa dirinya sukses.
Banyak tanda-tanda yang dapat dilihat ketika seseorang melakukan self harm, di antaranya seperti terdapat bekas luka dengan pola yang sama dan berulang, selalu muncul luka baru, goresan, memar, bekas luka bakar atau gigitan, sering merasa tidak berharga dan mengunggah posting-an mengenai keputusasaan, cemas, depresi, dan menunjukan ketidakstabilan emosional.
Bisnis thrifting memiliki banyak keuntungan bagi mereka yang pintar melihat peluang. Dengan modal yang bisa dibilang sedikit, bisnis thrifting dapat menghasilkan keuntungan dari ratusan ribu hingga jutaan.
Dengan hanya menggunakan gadget yang kita miliki, kita bisa menonton berbagai vidio menarik, lucu, edukatif dan inspiratif yang bisa menemani kita melewati waktu kosong yang terasa berat karena harus tetap di rumah.
Belakangan ini kata toxic banyak dipakai oleh kalangan milenial untuk menjelaskan sesuatu yang menyusahkan dan merugikan orang lain. Mulai dari istilah toxic relationship, toxic positivity, hingga toxic masculinity yang menggambarkan deskripsi sempit tentang ‘kejantanan’.
Awalnya, toxic masculinity ini lahir dari konstruksi sosial masyarakat patriarkis, mengacu pada perilaku dan sikap kasar yang dikaitkan dengan lelaki. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1990 yang dikemukakan oleh pakar psikologis, Shepherd Bliss.
Meskipun telah memasuki era new normal, bukan berarti kita bisa bebas dan merasa tidak peduli atau bahkan menganggap virus ini tidak ada, sehingga kita lalai dan tidak menggunakan masker ketika bepergian ke luar rumah, berada di kerumunan, bus, pasar, atau tempat tempat umum lainnya.
Pada dasarnya, menjalin hubungan harus dipenuhi oleh rasa saling peduli dan mengasihi. Sebab, hubungan dengan tindakan kekerasan, baik fisik atau non-fisik, hanya akan merugikan satu pihak.
Pengguna media sosial di Indonesia berdasarkan hasil riset Wearesocial Hootsuite pada 2019, sudah mencapai angka 150 juta jiwa dari sekitar 268 juta jiwa populasi. Sehingga dapat diartikan bahwa sekitar 56% dari penduduk Indonesia telah terpapar oleh media baru yang satu ini. Lantas, apakah setiap pengguna media sosial di Indonesia sudah dapat dikatakan bijak dalam bermedia?
Sobat Pijar pasti pernah secara tidak sengaja merusak barang mau itu berupa gelas, piring, mangkuk, ataupun lainnya. Meskipun barang tersebut sudah pecah, jangan terburu-buru untuk membuangnya. Melalui kerajinan yang berasal dari Negeri Sakura ini, barang yang sudah terpecah belah tadi bisa diperbaiki, loh! Namanya yaitu, Kintsugi.
Pijar, Medan. Sobat Pijar pernahkah kamu membayangkan datang menonton konser musik live idola kamu? Atau di antara kamu, sudah ada yang sering menonton konser musik live idola. Bisa datang menonton konser musik idola secara langsung tentu merupakan mimpi setiap penggemar.
