Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga saat ini masih menjadi persoalan sosial yang terus terjadi di tengah masyarakat. Namun, yang sering luput disadari adalah bagaimana berbagai bentuk kekerasan perlahan dinormalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kasus yang terjadi di kebun warga Cipocok Jaya, Kota Serang, melibatkan wanita bernama Babay (41) yang ditemukan tewas tergantung oleh pacarnya, berinisial AS (47). Kasus ini bermula saat kedua pihak bertemu pada pukul 03.00 WIB, di mana korban juga berniat untuk meminjam uang kepada pelaku sebesar Rp600.000, dengan jaminan telepon genggam milik korban, pada Senin (11/5/2026).
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, sebanyak 35 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Riau diduga dilakukan dengan sengaja, khususnya untuk membuka lahan. Selain itu, berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup, Polda Riau mengungkap terdapat 44 orang yang menjadi tersangka dari kasus tersebut.
Kehidupan mahasiswa identik dengan masa yang penuh semangat, tantangan, dan pencarian jati diri. Namun, di balik semangat itu tersimpan tekanan besar dari berbagai arah. Mulai dari tugas kuliah yang menumpuk, kegiatan organisasi, hingga tuntutan keluarga dan sosial. Tekanan inilah yang perlahan dapat menggerus kesehatan mental mahasiswa jika tidak dikelola dengan baik.
Di era penggunaan chat dan emoji atau emoticon, salah paham bisa muncul hanya dari satu kata atau kalimat dari pesan singkat. Hal ini sering terjadi pada perempuan, seperti pesan singkat “Y. Oh, terserah. ” dapat memicu adanya konflik kesalahpahaman karena penafsiran nada emosi ketus ataupun jutek. Padahal, chat atau teks itu adalah media miskin karena tidak memiliki nada dan ekspresi. Manusialah yang memberinya emosi dengan perasaan.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. AI menawarkan berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran, mulai dari otomatisasi tugas rutin, hingga memberikan pengalaman belajar yang lebih personal. Namun, penerapannya juga menimbulkan tantangan, terutama dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang terkandung dalam Pancasila.
Rasanya hoaks bukan lagi hal asing bagi kebanyakan pengguna media sosial. Bahkan, bisa dibilang bahwa hoaks sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pengguna media sosial. Akan tetapi kita perlu kembali mengingat apa yang sebenarnya dimaksud dengan hoaks. Hoaks dapat diartikan sebagai sebuah berita palsu yang memiliki kecenderungan untuk menyampaikan ujaran kebencian, memprovokasi, dengan maksud dan tujuan tertentu. Penyebaran hoaks yang semakin merajalela ini tentunya menjadi salah satu hal yang mengkhawatirkan
Strict parents adalah orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter, di mana mereka menetapkan aturan yang tidak bisa ditawar dan menuntut anak untuk tunduk tanpa banyak ruang diskusi. Orang tua jenis ini cenderung memberikan hukuman keras jika anak tidak mematuhi aturan, membatasi kebebasan anak dalam berinteraksi sosial, dan mengatur jadwal anak secara ketat, terutama dalam hal akademik dan kegiatan ekstrakurikuler.
Sebagai lingkungan pertama yang dikenali seorang anak sejak ia lahir, keluarga memegang peran penting dalam membentuk kepribadian, nilai, dan moralnya. Salah satu aspek penting dalam keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah pola asuh yang diterapkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mendengar anggapan seperti ini: “Wajar saja dia pintar, dia kan anak pertama” atau sebaliknya, “Maklum bungsu, pasti manja”. Rasanya, urutan kelahiran sering kali dijadikan alasan utama dalam menilai kepribadian dan kecerdasan seseorang.
