Sebagai seorang perempuan rasa aman merupakan hal langka yang dapat dinikmati. Segala bentuk kekerasan menjadi rasa takut yang menghantui setiap hari. Lantas, bagaimana perempuan dapat melindungi diri dari ancaman kekerasan seksual yang semakin rawan terjadi?
Mungkin Sobat Pijar pernah mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh kebanyakan perempuan bahwa lebih nyaman berteman dengan lelaki saja, karena perempuan itu cenderung ribet dan suka bergosip.
Perihal menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah. Terlebih, banyaknya stigma di masyarakat yang semakin menyudutkan jati diri setiap perempuan. Perempuan harus pandai masak, perempuan harus lemah lembut, perempuan harus ini dan itu. Ini bukan hanya soal sumur, dapur, dan kasur, tetapi juga soal pencarian jati diri yang sesungguhnya. Begitulah situasi perempuan Inggris pada abad ke-19 dalam film Enola Holmes.
Hingga kini isu mengenai Tuberkolosis masih menyelimuti dunia. Salah satu penyakit pernapasan ini tengah diupayakan untuk diberantas oleh berbagai organisasi kesehatan dan kementerian kesehatan Indonesia. Selain isu kehadirannya yang tak kunjung usai, Tuberkolosis juga mengandung banyak permasalahan tersembunyi yang masih kurang dilirik oleh berbagai pihak khususnya jurnalis.
Mungkinkah terlintas dibenak kita tentang bagaimana dunia ini jika dulu tidak ada patriarki? Tidak ada perbedaan yang mendasar di antara wanita dan laki-laki? Mungkin akan lebih indah dan damai. Tidak ada perjuangan berdarah dilema batin dan keinginan semata.
“Ubah insecure jadi bersyukur”- Imperfect 2019
Perempuan harus sejajar dengan laki-laki bukan tentang kompetisi, tetapi untuk menghilangkan stereotype terhadap perempuan yang ada di masyarakat karena kita tidak hanya memerangi bias gender, tetapi juga radikalisasi, kekerasan seksual, dan perundungan dalam pendidikan.
Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki–laki sebagai pemegang kekuasaan dan mendominasi dalam peran kepemimpinan, politik, otoritas, moral, dan hal lainnya. Hal yang telah membudaya dalam masyarakat ini mendorong Youth for Nation Banten untuk menyelenggarakan webinar dengan tema Women in Patriarchy yang membahas tentang patriarki dan feminis.
Ternyata, tanpa disadari bisa saja kita mengidap “penyakit” yang biasa dikenal dengan istilah internalized misogyny. Internalized misogyny terjadi ketika kebencian terhadap perempuan tanpa disadari menjadi bagian dari cara pandang seseorang. Biasanya, seorang perempuan mudah menjauhkan diri atau merendahkan perempuan lain, yang menurutnya tidak sama dengan standar yang ia yakini.
Rabu, 04 November 2020 Suri the Goods (Suri) mengadakan kegiatan webinar perdana se-Indonesia. Suri the Goods merupakan sebuah kewirausahaan sosial yang bergerak di bidang kecantikan, perawatan kulit, dan tubuh berbahan natural yang memberdayakan perempuan dan petani di Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Suri dengan Trinity Academia yang merupakan inkubator start up dan UMKM di Nusa Tenggara Timur.
