Talitha Nabilah Ritonga

Pijar, Medan. Perihal menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah. Terlebih, banyaknya stigma di masyarakat yang semakin menyudutkan jati diri setiap perempuan. Perempuan harus pandai masak, perempuan harus lemah lembut, perempuan harus ini dan itu. Ini bukan hanya soal sumur, dapur, dan kasur, tetapi juga soal pencarian jati diri yang sesungguhnya. Begitulah situasi perempuan Inggris pada abad ke-19 dalam film Enola Holmes.

Enola Holmes merupakan film misteri petualangan yang disutradarai oleh Harry Bradbeer. Film yang tayang perdana pada 23 September 2020 di Netflix ini juga merupakan hasil adaptasi dari seri pertama buku Enola Holmes karya Nancy Springer. Sosok Enola yang diperankan oleh Millie Bobby Brown digambarkan sebagai sosok perempuan yang lincah, cerdik, pemberani meskipun sedikit liar.

Kisahnya dimulai saat Enola mendapati sang ibu, Eudoria, menghilang dan meninggalkannya bersama seorang asisten rumah tangga tepat di hari ulang tahunnya yang ke-16. Semasa bersama ibunya, Enola tumbuh dengan jiwa yang bebas. Ia tidak dididik seperti anak perempuan umumnya di Inggris kala itu. Ia belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Ia banyak membaca buku, berlatih bela diri, berolahraga dan bahkan mempelajari sains.

Salah satu adegan dalam film Enola Homes. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Tidak lama setelah ibunya menghilang, kedua kakaknya Sherlock Holmes dan Mycroft Holmes pun mengunjungi rumah yang telah lama mereka tinggalkan. Mereka sedikit terkejut dengan keadaan sang adik dan rumah yang telah mereka tinggalkan. Sejak saat itu, Mycroft selaku wali dari Enola memutuskan untuk menyekolahkan Enola di sekolah kepribadian khusus wanita. Tentu saja Enola menolak keputusan kakaknya tersebut. Ia bersikeras untuk mencari sang ibu dan berencana kabur dari kedua kakaknya.

Sebelum berencana kabur, Enola yang gemar dengan cipher (teka-teki susunan kata) ini menemukan petunjuk yang ditinggalkan Eudoria. Setelah memecahkan teka-teki tersebut ia pun bergegas kabur ke London mencari Eudoria. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan anak bangsawan, Viscount Tewksbury yang juga kabur dari rumahnya. Enola mulai dilanda dilema, antara misinya mencari Eudoria dan kemunculan sang Viscount yang penuh tanda tanya.

Film ini berhasil mematahkan stigma tentang perempuan yang harus berperilaku sopan dan santun, berpakaian yang anggun, mengatur gaya makan, dan lainnya. Sisi feminis juga menjadi sisi tersirat dalam film ini. Bagaimana film ini menggambarkan seorang perempuan juga bisa melakukan apa yang mereka inginkan tanpa harus memikirkan aturan yang sudah diekspetasikan kepada mereka.

Tidak hanya berbicara tentang feminisme, film ini juga meminjam latar sosial-politik Inggris kala itu. Hal ini digambarkan dengan adanya adegan persaingan untuk pengesahan Revisi Undang-Undang (RUU) Reformasi di Inggris pada tahun 1884.

Namun fokus cerita dalam film ini sedikit membingungkan. Di babak awal film kita akan disajikan cerita Enola yang gigih mencari ibunya. Tetapi di babak pertengahan, film ini menceritakan bagaimana Enola membantu Viscount Tewksbury sebagai keluarga bangsawan mewujudkan RUU Reformasi tersebut. Meskipun begitu, film Enola Holmes cukup menghibur dengan misteri petualangannya yang disajikan secara ringan. Seperti menggambarkan citra lain dari film detektif.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment