Di era penggunaan chat dan emoji atau emoticon, salah paham bisa muncul hanya dari satu kata atau kalimat dari pesan singkat. Hal ini sering terjadi pada perempuan, seperti pesan singkat “Y. Oh, terserah. ” dapat memicu adanya konflik kesalahpahaman karena penafsiran nada emosi ketus ataupun jutek. Padahal, chat atau teks itu adalah media miskin karena tidak memiliki nada dan ekspresi. Manusialah yang memberinya emosi dengan perasaan.
Berangkat jauh untuk kembali lebih dekat, itulah yang dilakukan Siti Hawarina Simbolon, perempuan tangguh kelahiran tahun 2000 yang berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga ke luar negeri, dan telah meraih banyak pencapaian internasional di usia muda. Tak hanya mengejar gelar, ia pulang membawa visi untuk membangun masa depan perempuan Indonesia. Melalui Organisasi Women in The Future, ia menciptakan ruang aman dan nyaman bagi perempuan untuk tumbuh, bersuara, serta mengambil peran lebih besar dalam kehidupan.
Kekerasan (violent) terhadap perempuan merupakan isu yang penting dibahas pada saat ini. Tindakan kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Mulai dari kekerasan secara fisik, psikis, seksual, eksploitasi, penelantaran, perdagangan (trafficking) sampai pada sanksi sosial.
Dalam memperingati Bulan Sejarah Wanita, Direktorat Internasionalisasi dan Global Universitas Sumatera Utara (USU) bekerja sama dengan Konsulat Amerika Serikat di Medan dengan mengadakan screening movie. Acara ini berlangsung di Gade Creative Lounge, Ground Floor Universitas Sumatera Utara pada Jumat (17/3/23) pukul 09.00—11.00 WIB.
Setiap tahunnya pada delapan Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional sebagai bentuk apresiasi dalam menghargai prestasi dan perjuangan kesetaraan para perempuan di seluruh dunia.
Sejak 2014, seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Diskriminasi pada setiap 1 Maret. Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan solidaritas masyarakat dan menghapus segala bentuk diskriminasi.
Tahun ini K16HAKTP mengusung tema “Ciptakan Ruang Aman, Kenali UU TPKS”. Mengingat telah disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), kampanye diharap dapat membantu dalam menyosialisasikan dan menyebarluaskan informasi mengenai UU tersebut kepada masyarakat.
Alpha female didefinisikan sebagai perempuan yang benar-benar memahami dirinya, memiliki kekuatan terhadap dirinya sendiri, dan dapat mempengaruhi orang di sekitarnya. Buku The Alpha Girl’s Guide, mematahkan stigma bahwa perempuan si “makhluk paling lemah”.
Perguruan tinggi merupakan salah satu wadah yang tepat untuk mewujudkan pendidikan kesetaraan gender, misalnya melalui organisasi mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang merupakan kaum terpelajar seharusnya berperan sebagai agen perubahan menyuarakan nilai-nilai demokrasi dan kesetaraan hak antarsesama, salah satunya kesetaraan gender. Salah satu pertanyaan penting yang muncul adalah “apakah perempuan kerap menjadi pemimpin di organisasi mahasiswa?”
Dian Purnomo, seorang penulis isu sosial perempuan dan anak mengemas dengan rapi tradisi kawin tangkap dalam novelnya yang berjudul Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam.
