Hits: 17

Cut Tasya Salsabila

Pijar, Medan. Hingga kini isu mengenai Tuberkolosis masih menyelimuti dunia. Salah satu penyakit pernapasan ini tengah diupayakan untuk diberantas oleh berbagai organisasi kesehatan dan kementerian kesehatan Indonesia. Selain isu kehadirannya yang tak kunjung usai, Tuberkolosis juga mengandung banyak permasalahan tersembunyi yang masih kurang dilirik oleh berbagai pihak khususnya jurnalis.

Menyadari isu tersebut, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta bekerja sama dengan POPTB Indonesia, mengupas secara mendalam mengenai ketimpangan dalam Tuberkolosis melalui diskusi online yang diselenggarakan melalui Zoom meeting dan kanal YouTube resmi mereka pada hari Selasa (13/4) pukul 14.00 WIB.

Diskusi dengan tema “Peran Jurnalis Mengeliminasi Tuberkolosis dengan Perspektif HAM dan Kesetaraan Gender” ini diisi oleh Ully Ulwiyah, Heny Akhmad, dan Nadia Tarmizi selaku pembicara, serta Nurul Nur Azizah dan Dewa Sitorus selaku penanggap.

Sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta Zoom dalam diskusi online Peran Jurnalis Mengeliminasi Tuberkolosis dengan Perspektif HAM dan Kesetaraan Gender yang berlangsung Selasa (13/4). (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Data World Health Organization (WHO) tahun 2020 menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua dengan kasus Tuberkolosis terbanyak yang pengidapnya bervariasi, mulai dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Pada tahun yang sama, Presiden Jokowi berjanji akan menerbitkan peraturan presiden untuk mempercepat penanggulangan penyakit tersebut. Meskipun belum dikeluarkan hingga saat ini, namun beliau telah memberikan tiga arahan yaitu pelacakan agresif, pelayanan diagnostik, dan perawatan Tuberkolosis yang harus tetap berlangsung sampai sembuh.

Di sisi lain, penyebaran komprehensif tentang penyakit ini harus dilakukan. Edukasi dari media massa pun sebaiknya turut berperan untuk menggaungkan pemberantasan Tuberkolosis. Namun, adanya pandemi Covid-19 malah membuat para pasien Tuberkolosis semakin takut hingga memperburuk kondisi mereka. Akhirnya, berbagai kegiatan investigasi mengenai Tuberkolosis ikut terhambat.

Pemberitaan mengenai Tuberkolosis sendiri masih minim tersebar di Indonesia, khususnya pada media mainstream. Info yang tersebar hanya mengenai fakta-fakta umum dan momentum seperti Hari Peringatan Tuberkolosis. Isu mengenai HAM dan bias gender pasien Tuberkolosis nyaris tidak terliput oleh media. Padahal menurut riset yang dibaca oleh salah satu penanggap, di sebuah rumah sakit Jember, penemuan penyakit Tuberkolosis kebanyakan terdapat pada perempuan, akan tetapi dalam hal penanganan lebih banyak didapati oleh laki-laki. Hal ini membuktikan bahwa adanya bias gender dalam penangan Tuberkolosis.

Fakta-fakta seperti inilah yang masih kurang lirikan dari media. Peran jurnalis tentu diperlukan untuk menyadarkan bahwa dalam Tuberkolosis, masih terdapat isu mengenai HAM dan bias gender yang harus turut diatasi apabila ingin menurunkan angka Tuberkolosis di Indonesia.

“Berbicara mengenai Tuberkolosis tidak hanya tentang angka, namun juga cerita di balik tiap angka tersebut berkenaan dengan perangkat hak yang diterima dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Perspektif HAM dan perspektif kesetaraan gender harus diperhatikan,” ujar Marina Nasution.

Salah satu penanggap, Nurul Nur Azizah menjelaskan beberapa cara efektif yang dapat digunakan jurnalis untuk meliput nilai-nilai HAM dan kesetaraan gender pada Tuberkolosis, yaitu jurnalis harus mengetahui masalah secara komprehensif dengan melakukan eksplorasi secara langsung.

Isu gender di Tuberkolosis sendiri tidak hanya sebatas antara laki-laki dan perempuan, namun perspektif gender lain seperti transpuan dan transmen harus turut digali. Selain itu, penulisan mengenai Tuberkolosis dapat ditarik berdasarkan sisi lain. Tidak hanya sekedar angka untuk melihat bagaimana kisah dan tantangan para pasien Tuberkolosis, karena pada bidang HAM dan bias gender pun juga cukup menarik untuk ditulis. Masalah Tuberkolosis ini sejatinya masih banyak yang dapat diberitakan oleh jurnalis kepada dunia, agar masyarakat lebih mengetahui dan mengerti hal-hal berkenaan Tuberkolosis selain mengenai angka.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment