Ketidaksempurnaan Pencuri Perhatian dalam Imperfect The Series

Sumber Foto: Tribunnews.com

Alvira Rosa Damayanti

“Ubah insecure jadi bersyukur”- Imperfect 2019

Pijar, Medan. Siapa yang tidak mengenal film Imperfect karya Ernest Prakasa. Sebuah film yang ditayangkan tahun 2019 silam dan berhasil memotivasi perempuan Indonesia, untuk bisa berhenti insecure dan lebih banyak bersyukur.

Selain itu, film Imperfect karya Ernest tersebut juga berhasil menggaet lebih dari 2 juta penonton dalam waktu 16 hari penayangan. Kini setelah sukses mengguncang dunia perfilman Indonesia, Imperfect kembali diadaptasi dalam bentuk serial drama-komedi, pada platform WeTV.

Serial yang mulai ditayangkan di akhir Januari kemarin, ternyata tidak disutradarai langsung oleh Ernest Prakasa, melainkan disutradarai oleh seorang wanita, Naya Anindita, yang merupakan produksi Starvision Plus dan WeTV.

Namun tidak perlu khawatir, untuk para pemain peran sendiri, Imperfect The Series masih menggunakan pemain yang sama seperti pada pada film. Namun dengan penyajian alur cerita yang berbeda, yaitu mengulur waktu satu tahun sebelum adanya pertemuan antara Dika dan Rara.

Untuk ulasan tersendiri, Imperfect The Series merupakan spin off (Perpecahan kecil alur cerita dari film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan). Pada serial ini, mereka menambahkan beberapa pemeran baru yang tampil sebagai salah satu bagian dari keluarga.

Beberapa peran tambahan dibintangi oleh Arie Keriting, Ari Irham, Bintang Emon, Mumuk Gomez, dan Bela Graceva. Namun di sisi lain, ada juga beberapa pemeran pada film sebelumnya, yang tidak ikut tampil di dalam serial ini, seperti Jessica Mila, Boy Wiliam, dan Karina Suwandi.

Alur cerita pada Imperfect The Series juga lebih berfokus kepada kumpulan kisah percintaan, pekerjaan, dan drama kehidupan ala anak kos. Tentu saja, semua drama yang terjadi tak luput dari tingkah lucu dan luar biasa dari para anggota geng.

Kiki Saputri, Aci Resti, Zsa Zsa Utari, dan Neneng Wulandari adalah keempat pemeran utama dalam serial ini. Masing-masing dari mereka masih memegang erat karakter persis seperti apa yang pernah mereka tampilkan pada film. Karena peran tersebutlah, mereka berempat dapat membuat para penonton tak bosan akan semua guyonan mereka.

Mengangkat derajat ketidaksempurnaan yang ada pada setiap anggota geng, malah menjadikan serial ini sebagai salah satu karya terbaik Ernest Prakasa. Membahas seputar standar kecantikan, memang menjadi pilihan menarik untuk diangkat dan dibahas.

Menggunakan para pemeran utama yang tidak memiliki body goals ataupun pemenuhan standar kecantikan wanita, serial ini berhasil menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempurnaan di setiap dirinya masing-masing. Menghilangkan standar kecantikan yang selama ini cukup banyak digaungkan perempuan Indonesia.

Imperfect The Series kembali menunjukkan ketidaksempurnaan yang ada pada diri setiap orang. Ketidaksempurnaan yang justru bisa saja menjadi sebuah kelebihan untuk dirinya sendiri.

(Editor: Widya Tri Utami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *