Ilustrator: Shofiyana Fadhiilah

Jasuari

Grifin Angelina Tobing

Mungkinkah terlintas di benak kita tentang bagaimana dunia ini jika dulu tidak ada patriarki? Tidak ada perbedaan yang mendasar di antara wanita dan laki-laki? Mungkin akan lebih indah dan damai. Tidak ada perjuangan berdarah dilema batin dan keinginan semata.

“Ri, kok melamun terus dari tadi? Dengarkan dong ibu itu menerangkan,” bisik Aurora.

“Hah, iya ini aku mendengarkan kok sambil berimajinasi. Hehehe” jawabku. Ibu ini juga menjelaskan materi yang tidak masuk akal. Perempuan itu tidak hanya di dapur, perempuan juga pantas mendapatkan pendidikan.

“Baiklah anak-anak, apakah ada pertanyaan mengenai materi ibu?” sontak Bu Herli bertanya kepada kami sekelas. Kelas seketika hening.

“Saya, bu. Saya kurang setuju dengan pernyataan ibu mengenai peran wanita di dapur. Apakah ibu tidak pernah berpikir bahwa posisi ibu di depan kami sebagai pengajar, terlihat tidak mungkin jika peran perempuan hanya di dapur?”

“Ri, pertanyaan kamu kok parah banget sih?” bisik Aurora terkejut mendengar pertanyaanku.

Aku tidak menyahut Aurora. Aku tetap memberikan pandangan dingin kepada Bu Herli. Tampaknya ibu itu bingung ingin menjawab apa. Ia hanya terpaku diam di depan kelas.

“Jasuari, temui ibu di kantor setelah pulang sekolah nanti. Untuk pertanyaan kamu, ibu suruh semua anggota kelas, untuk memberikan jawaban masing-masing menurut pendapat kalian sendiri,” tunjuk Bu Herli ke semua orang yang ada di kelas itu.

“Yah kan. Ah, kamu sih, Ri. Coba aja nggak buat pertanyaan itu, kan gak nambah tugas,” ujar Aurora sambil menghentakkan penanya di meja.

“Hahahaha maaf, maaf. Kan aku nggak tahu kalau pertayaan itu jadi tugas,” tegasku kepada Aurora.

Setelah bel sekolah berbunyi, aku datang ke kantor Bu Herli seperti yang ia katakan tadi. Aku tidak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi, tetapi aku sudah mempersiapkan beberapa jawaban dari kemungkinan-kemungkinan tersebut.

“Selamat Sore, bu. Saya Jasuari yang ibu suruh menemui ibu.”

“Silahkan duduk,” Bu Herli menunjuk kursi yang tepat di depan meja kerjanya. Raut wajah ibu itu sangat datar dan terlihat sengau mengetahui kehadiranku. Aku langsung duduk di kursi itu.

“Ibu perhatikan kamu selama Ibu menerangkan di kelas tadi. Kamu hanya melamun tidak ada mendengarkan Ibu. Tetapi, pertanyaan yang kamu berikan, sepertinya sudah lama kamu siapkan. Ibu sengaja berkata bahwa peran perempuan hanya di dapur untuk mencari siswa yang berpikiran beda dari yang lain. Awalnya ibu mengira kalau semuanya setuju dengan pernyataan ibu, tapi kamu tidak. Ibu menemukan apa yang ibu cari.” Sontak Bu Herli kepadaku sembari menunjukkan sebuah brosur yang tidak terlalu ku perhatikan.

“Ibu ini ternyata sengaja. Pantas ibu ini menyuruh sekelas mencari jawaban pertanyaanku tadi. Tidak ada yang protes terhadap pernyataan ibu ini,” batinku. Aku mengambil brosur tersebut dan membaca dengan seksama.

“Lomba esai bebas, bu?” Tanyaku setelah membaca brosur itu.

“Ini bukan lomba esai bebas sembarangan. Ibu tahu selama ini kamu ingin mengubah stigma perbedaan derajat di antara pria dan wanita. Kalau dilihat, di daerah kita ini masih banyak praktik itu, Jasuari. Masih banyak yang mengeksploitasi perempuan. Ini kesempatan kamu untuk mengubah itu. Menjadi juara, esainya akan dibawa ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan dipublikasikan ke berbagai media. Ini bisa mematahkan stigma itu,” tegas Bu Herli.

Aku sangat tertarik dengan penawaran ibu ini. Tetapi aku harus sadar kalau ini hal yang tidak mudah untuk dilakukan di daerah kami yang masih di pedalaman. Akan banyak tantangan kedepannya. Aku menyiutkan kedua alisku.

“Kamu ragu, Jasuari? Ibu akan membantu kamu,” ucap Bu Herli dengan halus.

“Baik, Bu. Saya akan mengikuti lomba ini.” Aku mencoba meyakinkan diriku. Aku pasti bisa mengangkat kasus ini. Aku pasti bisa.

Aku memulai penelitianku langsung pada hari itu juga. Dengan bermodalkan sepeda dan buku tulis, aku mulai menjelajahi desaku, Desa Simpangtio. Desa yang memiliki pemandangan alam bak surga bumi, tetapi sistem kuno bagaikan jerat perang dunia abadi. Semakin aku mendatangi dan mengamati rumah tangga di desaku, semakin aku bersemangat menyelesaikan lomba esai ini. Jika tidak ada yang bisa mewakilkan mereka, biar aku saja.

Betapa mirisnya, perempuan di desa ini hanya diperbolehkan merawat anak dan memasak di dapur. Mereka tidak boleh bekerja dan bahkan mengobrol dengan ibu rumah tangga lainnya. Ketika suami mereka pulang, mereka harus melayani bagaikan seorang pembantu dan tidak ada rasa kasih sayang di antara keduanya. Ini tidak bisa terjadi selamanya. Di lingkungan rumahku, untungnya keadaan sudah mulai berubah semenjak Ibu Karmis diperbolehkan suaminya bekerja menjadi seorang guru. Aku berinisiatif untuk menemui suaminya. Sore ini, sesuai perjanjian yang kami buat sebelumnya.

“Selamat Sore, Pak Danu. Ini saya Jasuari, pak,” sahutku sambil mengetuk pintu rumahnya.

“Eh, Jasuari. Tunggu sebentar bapak datang”, terdengar suara hentakan kaki Pak Danu menuju pintu rumah. Ia membuka pintu dan menyuruhku masuk. Ada Bu Karmis juga di dalam.

“Terima Kasih Pak Danu dan Bu Karmis untuk waktunya,” aku tersenyum kepada mereka berdua. Kali ini aku melihat sepasang sejoli yang memiliki cinta kasih sayang di antara mereka berdua selain orang tua ku.

“Jadi, ada apa tujuan Neng Jasuari buat datang kesini toh?” ujar Pak Danu.

“Eh iya, pak. Jadi saya mau nanya tentang Ibu Karmis yang bekerja sebagai guru. Kan kalau dipikir-pikir ya pak, di daerah kita ini masih jarang toh perempuan yang bekerja. Masih dilarang sama suaminya, pak.”

“Waduhh iya itu benar. Saya dulu tidak ada sama sekali berpikiran seperti itu sama ibu kamu ini, Ibu Karmis tersayang. Bapak menghargai dia sebagai perempuan yang juga sama seperti lelaki. Allah kan menciptakan perempuan itu sebanding toh dengan lelaki. Dulu itu jaman patriarki saja yang begitu. Kalau misalnya diperhatikan dengan seksama, dulu itu sebenarnya tujuannya untuk melindungi perempuan. Tetapi disalahgunakan dan diubah jadi yang seperti kita tahu menurut sejarah. Sama seperti halnya pekerjaan rumah seperti memasak. Memasak itu skill yang bisa dilatih. Laki-laki bisa masak dan tidak hanya perempuan. Bapak juga sedang membangun komunitas sesama laki-laki untuk menyadarkan bahwa perempuan itu sama derajatnya dengan laki-laki.” Tegas Pak Danu.

“Oh iya, pak? Saya baru tahu tentang komunitas ini, pak.”

“Oh iya. Tapi sayang tidak di desa ini. Bapak ditolak mentah-mentah di desa ini. Bapak bersama desa sebelah. Akan tetapi, tujuan kami bersatu ya untuk desa ini. Jadi istilahnya bapak cari kawan dulu, hehehe,” Pak Danu menggaruk kepalanya.

Hebat sekali bapak ini. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membahas tentang rencana Pak Danu dan teman-temannya untuk merangkul desa kami ini agar lebih menghargai perempuan. Aku paham bahwa pergerakan itu tidak hanya dilakukan oleh perempuan saja, tetapi masih banyak lelaki yang juga tidak setuju. Sejarah yang selama ini menuliskan betapa berperannya wanita-wanita hebat diluar sana. Ternyata, banyak lelaki yang berjuang bersama perempuannya juga seperti Pak Danu dan teman-temannya.

Aku juga diajak Pak Danu untuk bertemu teman-temannya yang sama-sama berjuang untuk mengubah stigma masyarakat desa kami mengenai perempuan. Aku bisa melihat banyak lelaki hebat dan perempuan hebat di posko mereka. Mereka saling membantu dan betul bahwa kasih sayang di antara keduanya nyata melalui ini. Mereka tidak hanya dibatasi kehadiran pencarian nafkah dan urusan rumah tangga semata.

Aku menyelesaikan esaiku dalam dua minggu bersama bantuan Bu Herli dan Pak Karmis serta teman-temannya. Bu Herli bahkan sangat kagum melihat esai yang kutulis. Esai itu kuberi judul “Perjuangan Berdarah Dilema Jerat Patriarki dan Kasih Sayang”. Karena dengan begitu, aku ingin semua orang mengetahui bahwa jika seorang perempuan tidak berdaya memperjuangkan haknya, maka lelakinya yang harus membantunya karena mereka berdua adalah sepadan.

“Jasuari, selamat ya!” teriak Aurora seketika aku masuk ke kelas. Satu kelas berubah menjadi heboh dan memberikan tepuk tangan kepadaku. Aku bingung apa yang mereka maksud. Aurora menghampiriku dan menunjukkan sesuatu di layar HP nya. Aku mendekatkan mukaku dan membaca,

“Jasuari, seorang remaja dari Desa Simpangtio, berhasil membuka mata banyak orang mengenai persamaan derajat dan kedudukan perempuan.”

Aku tersenyum manis melihat artikel tersebut. Semoga orang diluar sana mengerti bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat dan hak yang sama.

“Bukan hanya itu. Kamu juga masuk trending di Twitter tahu.” Teriak Aurora.

“Nah, sekarang mau kan berimajinasi kayak aku pas guru menerangkan?” Aku melihat Aurora dan kami berdua tertawa.

Perempuan diciptakan untuk mendampingi lelaki dan mereka adalah sepadan. Tidak ada perbedaan hak dan derajat. Semua dapat berubah jika ada kemauan dan sebuah titik balik yang ditanam di setiap orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *