Merasa cemas, tidak percaya diri, dan sering membanding-bandingkan suatu hal yang lebih dari orang lain. Ternyata, hal ini tak jarang menimbulkan dampak negatif bagi kamu, lo!
Saat ini, kesehatan mental menjadi topik primadona yang banyak diperbincangkan khususnya bagi para remaja. Untuk itu, Stunica BEM IKM FKUI, yaitu sebuah komunitas mahasiswa kedokteran dari Program Internasional Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengadakan kegiatan talkshow dan workshop bertajuk “Peran Identitas Diri pada Kesehatan Mental”.
Ia pernah menjadi perwakilan Indonesia ke Jerman hingga Dubai untuk konferensi-konferensi penting dunia. Bahkan, konferensi tersebut yang mengawali keinginannya menjadi terapis.
Para pengidap gejala hoarding disorder biasanya suka menumpuk barang yang tidak terpakai dalam jumlah yang berlebihan. Lantas, bagaimana kah kita mengenali gejala tersebut dan mengatasinya? Lalu, apakah perbedaan hoarding disorder dengan pengoleksi barang?
ASM Ariyanti selaku penyelenggara adalah sebuah akademi pendidikan profesional program 3 tahun (D3) yang dikenal sebagai pendidikan D3 Sekretaris dan Manajemen Administrasi dengan Akreditasi B. Webinar ini dihadiri oleh Ibu Haja Herawati selaku sekretaris yayasan pendidikan Ariyanti yang sedang berada di Arizona Amerika, narasumber yang berpengalaman yaitu Raissa Hadiman, M. PSI., seorang Psikolog, COO & Co-Founder Biro Psikolog Personale dan dibimbing oleh moderator Astri Firdasannah, S.PSI Candidate in Clinical Psychology.
Perhimpunan Pelajar Indonesia ( PPI ) Universitas Tokyo Jepang, menghadirkan webinar psikologis bersama Biro Konsultasi Emphaty dengan tema “Take care of your mental health” dengan tiga narasumbernya, yaitu Qurrota Ayuni Fitriana M.Psi, Olaffiqih Wibowo M.Psi, dan sharing session oleh Endri Budiwan, MPH.
Banyak tanda-tanda yang dapat dilihat ketika seseorang melakukan self harm, di antaranya seperti terdapat bekas luka dengan pola yang sama dan berulang, selalu muncul luka baru, goresan, memar, bekas luka bakar atau gigitan, sering merasa tidak berharga dan mengunggah posting-an mengenai keputusasaan, cemas, depresi, dan menunjukan ketidakstabilan emosional.
“Ketika kita membaca literatur dan mendiagnosa diri sendiri dapat memicu kecemasan yang berlebihan. Pada akhirnya kita sendiri yang rugi dan jadi tidak fokus pada hal-hal positif yang bisa dilakukan,”
