“Take Care of Your Mental Health” bersama PPI Todai dan Biro Konsultasi Emphaty  

Sumber foto: Instagram @ppi.todai

Grifin  Angelina Tobing/ Rahmat Harun Harahap

Pijar, Medan. Perhimpunan Pelajar Indonesia ( PPI ) Universitas Tokyo Jepang, menghadirkan webinar psikologis bersama Biro Konsultasi Emphaty dengan tema “Take care of your mental health” dengan tiga narasumbernya, yaitu Qurrota Ayuni Fitriana M.Psi, Olaffiqih Wibowo M.Psi, dan sharing session oleh Endri Budiwan, MPH.

Webinar yang berlangsung pada hari minggu (29/11) pukul 13.00–16.00 WIB melalui platform  Zoom meeting ini, tuntas mengupas isu-isu kesehatan mental bagi mahasiswa PPI di Jepang dan kesiapan mental mahasiswa Indonesia yang ingin berkuliah di luar negeri.

Webinar ini dibuka dengan pemaparan hasil survey terbuka PPI Jepang mengenai keadaan mental pelajar Indonesia yang tengah mengikuti studi di Jepang tahun 2020. Dengan melihat hasil survey tersebut, terdapat beberapa faktor kecenderungan para pelajar mengalami masalah kesehatan mental selama studi di sana. Masalah yang ada pun seperti home sick, culture shock, adaptasi musim, dan manajemen waktu. Berdasarkan survey tersebut, tingkat depresi para pelajar juga cenderung berada di kelas sedang dan tinggi dengan angka lebih dari 50 persen.

Sesi pertama webinar ini dipandu oleh Qurrofa Ayuni Fitriana dengan materi kesehatan mental dan cara mengetahuinya. Dengan mengetahui kesehatan mental, kita akan lebih mudah mengatasi dan mengontrol keadaan kita.

“Kesehatan mental itu berada dalam kontinum yang memiliki dua sumbu positif dan negatif. Yang tidak memiliki sebuah titik yang pasti,” tegas Qurrofa di tengah pemaparan materi.

Pemaparan materi oleh narasumber (Sumber foto: dokumentasi pribadi)

Kemudian, sesi kedua diisi dengan pemaparan oleh Olaffiqih Wibowo dengan materi yang sama, tetapi mengambil fokus terhadap langkah pertama dalam mengenal kesehatan mental dan metode Pyschological first aid. Metode ini sering dipakai dalam penanggulangan bencana dalam tindakan pertama untuk masalah kesehatan mental. Terdapat beberapa poin penting dalam pengenalan gejala masalah kesehatan yaitu Mindfulness, jurnal emosi, dan mencari bantuan. Ketiga poin ini sangat membantu seseorang dalam mengenali kesehatan mentalnya.

Qlaffiqih menegaskan bahwa pentingnya kesehatan mental itu sama seperti pentingnya kesehatan fisik yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Setiap orang memiliki masalahnya sendiri namun dengan cara mengatasi yang berbeda. “Mengakui saat sedang tidak baik-baik saja tidak membuat kita tampak lemah. Justru itu adalah bukti bahwa kita peduli pada diri sendiri dan orang yang kita,” ujar Olaffiqih diakhir pemaparannya.

Dalam sesi ketiga, sharing session oleh Endri Budiwan, MPH., sedikit berbeda dengan kedua sesi sebelumnya. Dalam sesi ini, Endri menceritakan langsung kisah hidupnya sebagai suicide and depression survivor. Ia mengatakan bahwa dalam setiap hidup seseorang pasti pernah menjumpai sebuah titik terendah, sama seperti yang pernah dialaminya. Mencoba terbuka, mencari seseorang untuk bercerita, dan mengunjungi pihak professional adalah hal yang sangat membantu.

“Perhatikan sekitarmu. Lihatlah siapa yang membutuhkan bantuanmu. Kau akan sangat berguna,” ucapnya.

Endri juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang masih belum terbuka terhadap kesehatan mental. Orang-orang yang memiliki masalah dengan kesehatan mental pasti akan disebut orang gila. Inilah yang menjadi tolakan bagi orang yang sedang berjuang dengan mentalnya di Indonesia. Padahal di negara-negara lain, masalah kesehatan mental sudah menjadi topik yang tabu untuk dibahas. Ia berharap Indonesia akan lebih mengarahkan perhatian terhadap masalah ini kedepannya.

A big hug can make a change,” kata Endri diakhir sesinya.

Acara yang dihadiri sekitar 80 peserta ini, ditutup setelah diadakan sesi tanya jawab antara peserta dengan narasumber yang dipandu oleh moderator.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *