Zikri Auliana / Aisha Tania Sinantan Sikoko

Pijar, Medan. Seminar yang bertajuk “Self-Diagnosed Mental Health Issue” sukses diselenggarakan oleh KMB-USU (Keluarga Mahasiswa Buddihis Sumatra Utara) untuk pertama kalinya pada Minggu (25/10) pukul 13.30-16.30 WIB. Seminar daring yang berlangsung selama tiga jam ini menjelaskan secara luas tentang self diagnosed, mulai dari pengertian hingga permasalahannya.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting yang dimoderatori oleh Shella Tan, mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU dan diikuti oleh 258 peserta. Seminar yang diselenggarakan oleh KMB-USU ini menghadirkan dua narasumber handal di bidang psikologi, yaitu Hakisukta, M.Psi. seorang psikolog klinis anak dan Rahma Safitri, M.psi. seorang psikolog klinis dewasa.

“Tema ini sengaja di ambil karena melihat kesadaran masyarakat atas kesehatan mental sudah semakin meningkat, namun seiring peningkatan ini, tidak sedikit pula individu yang mencoba mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan gejala-gejala yang beredar di media sosial ataupun dari internet, yang mana pemahaman-pemahaman ini mungkin saja berujung membawa kita kepada ha-hal yang tidak kita inginkan, maka dari itu melalui seminar ini semoga kita semua dapat memahami diri tanpa melakukan diagmosis secara individu,” ujar Stefen selaku ketua panitia.

“Sebelum kita membahas self diagnosed, kita harus paham terlebih dahulu apa itu kesehatan mental,” jelas Hakisukta.

Kesehatan mental adalah kesejahteraan-kesejahteraan emosional dan sosial di mana individu dapat mengatasi secara normal dan dapat menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik sehingga individu tersebut bisa mengatasi tekanan-tekanan hidup yang datang. Orang yang tidak terganggu secara mental akan jauh lebih produktif dibandingkan orang yang memiliki gangguan mental.

Sedangkan self-diagnosed merupakan ketika individu melakukan identifikasi terhadap dirinya sendiri bahwa ia memiliki masalah mental tertentu. Identifikasi yang dilakukan seperti ini dapat melibatkan emosi. Contohnya ‘aku sedih terus, sepertinya aku depresi’.

Rahma menyampaikan bahwa self-diagnosed membuat seseorang tidak fokus akan hal positif. “Ketika kita membaca literatur dan mendiagnosa diri sendiri dapat memicu kecemasan yang berlebihan. Pada akhirnya kita sendiri yang rugi dan jadi tidak fokus pada hal-hal positif yang bisa dilakukan,” tegasnya.

Seharusnya diagnosa ini hanya dilakukan oleh ahlinya saja, dalam hal ini psikolog. Seorang psikolog tentunya perlu memperhatikan segala faktor yang mungkin menjadi penyebab suatu gangguan mental sebelum mendiagnosa seorang pasien.

Penyebab seseorang melakukan self diagnosed yaitu faktor dalam diri dan pola berfikir yang sistematik, serta kasus nyata mengenai gangguan yang biasanya didapatkan dari lingkungan atau media yang kita gunakan.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment