Buku berjudul Berani Tidak Disukai yang ditulis oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini, memberikan gambaran mengenai orang-orang yang diibaratkan sebagai pemuda yang tidak bisa menerima dirinya sendiri.
Jika berbicara mengenai seorang reporter, biasanya tak jauh-jauh dengan kata cerdas, sigap, dan kompeten. Namun bagaimana jadinya jika kita mencoba melihat dari sisi yang berbeda?
Sejatinya, pulang tidak dapat dimaknai secara tunggal. Seperti yang tertuang dalam novel karya Tere Liye ini.
Apa yang terlintas di benak kamu ketika mendengar kata ‘introver’? Seorang introver kerap sekali dibandingkan dengan seorang ekstrover.
Fisik yang dirasa kurang sempurna dan tidak menarik, terkadang menjadi alasan mengapa rasa insecurity itu ada dalam diri. Rasa marah karena tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, ditambah dengan rasa iri karena melihat teman yang jauh lebih sukses, seakan menimbulkan rasa insecurity yang berlebiha
Berbicara hidup berarti berbicara proses kehidupan itu sendiri. Cara setiap orang menjalaninya pun berbeda-beda. Ada beberapa orang yang menjalani hidup berdasarkan penilaian dan pendapat orang lain. Namun pernahkah Sobat Pijar berpikir, bahwa hidup yang didasari standar orang lain justru membuat kita tidak menjadi diri sendiri?
Kata baku dalam bahasa sehari-hari tampaknya jarang ditemui dan terdengar aneh. Belum lagi, berbahasa Indonesia di era sekarang ini sering dicampurkan dengan bahasa asing. Sebut saja kata yang sering kita dengar, kata offline dan online. Dua kata ini sering muncul di era pandemi, padahal kata tersebut bisa digantikan dengan daring (dalam jaringan) atau luring (luar jaringan).
Ivan Lanin, seseorang yang dijuluki sebagai ‘kamus berjalan’ melahirkan anak barunya yang berjudul “Recehan Bahasa”. Buku keduanya ini membahas mengenai kata-kata atau bahasa Indonesia yang sering ia bagikan di media sosial kemudian dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah buku.
Apa hal yang terlintas dipikiran Sobat Pijar jika mendengar kata ‘Afghanistan’? Mungkin tidak jauh-jauh dari peperangan, kemiskinan, atau rasa aman yang juga berdampingan dengan rasa takut. Dalam buku Selimut Debu ini, kita diajak untuk berpetualang dan menemukan sisi lain dari Afghanistan.
Manusia memang terlahir dengan sifat yang tidak pernah puas. Ketika satu hal tercapai, kemudian ia berusaha menggapai hal-hal lainnya. Tetapi, apa yang sebenarnya kita cari? Apakah kepuasan, jati diri, atau sebenarnya kita hanya tenggelam di tengah sibuknya dunia dan berusaha mengikuti arus?
Setidaknya, itu yang Haenim Sunim coba kupas dalam bukunya The Things You Can See Only When You Slow Down yang terbit pada tahun 2012 di Korea. Melihat antusias masyarakat yang luar biasa, buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam 5 bahasa seperti Cina, Jepang, Thailand, Perancis, dan Inggris.
Dari sekian banyak sosok tak kasatmata yang pernah Sara temui dalam hidupnya, ia hanya memilih sosok hantu yang menurutnya paling berkesan. Tidak hanya berkesan tetapi ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok tersebut. 7 sosok hantu yang akhirnya ia pilih dan putuskan untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan.
Wingit merupakan sebuah novel karya Sara Wijanto yang akrab disapa dengan sebutan “Nyai”. Novel yang dibaluti cover warna hitam pekat terkesan selaras dengan judulnya. Wingit berasal dari bahasa jawa yang artinya angker. Novel ini diangkat dari kisah nyata pengalaman hidup Sara yang dikenal memiliki hubungan dengan kehidupan mistis.
