Icha Kumala Dewi

“Ada yang berbeda dari energi hantu perempuan ini. Beda dengan energi lain yang ada di sana. Saya merasakan sedih yang teramat sangat, perasaan sakit hati, perasaan ditinggalkan, dan ditolak. Rasanya persis seperti putus cinta, lebih tepatnya diputuskan. Kecewa karena dibohongi dan merasa dipermainkan. Saya merasakan itu semua saat saya melihatnya.” – Hal. 4

Pijar, Medan. Dari sekian banyak sosok tak kasatmata yang pernah Sara temui dalam hidupnya, ia hanya memilih sosok hantu yang menurutnya paling berkesan. Tidak hanya berkesan tetapi ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok tersebut. 7 sosok hantu yang akhirnya ia pilih dan putuskan untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Wingit merupakan sebuah novel karya Sara Wijanto yang akrab disapa dengan sebutan “Nyai”. Novel yang dibaluti cover warna hitam pekat terkesan selaras dengan judulnya. Wingit berasal dari bahasa jawa yang artinya angker. Novel ini diangkat dari kisah nyata pengalaman hidup Sara yang dikenal memiliki hubungan dengan kehidupan mistis.

Dari 7 sosok kisah makhluk tak kasatmata tersebut, Sara membaginya menjadi 7 bab. Setiap bab diawali dengan ilustrasi sosok yang akan diceritakan. Ilustrasi tersebut dibuat semirip mungkin dengan yang aslinya oleh adik Sara yang bernama Wisnu Hardana. Ilustrasi ini lah yang akan membuat para pembaca ikut membayangkan sosok yang tengah bercerita.

Setiap bab dimulai dari saat pertama kali Sara bertemu dengan sosok tersebut. Tentang bagaimana perasaannya saat sosok tersebut menampakkan diri. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkomunikasi dan menuangkan kisah hidup hantu tersebut di dalam buku.

Di setiap kisah Sara begitu detail dalam menceritakan sosok tersebut. Mulai dari latar belakang nama, alamat, hingga ciri-ciri fisik sosok yang tengah diceritakan. Mengenai perjalanan hidup sosok hingga permasalahan yang membawanya ke dalam malapetaka.

Membaca novel ini tak kalah sensasinya dengan menonton film horor secara langsung. Perasaan greget, merinding, marah, sedih, bisa kita rasakan di sini. Kisah yang disajikan Sara di dalam novel ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan novel mistis lainnya. Karena Sara menceritakan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dari sudut pandang Sara sendiri, sudut pandang sosok hantu tersebut, maupun sudut pandang dari hantu lainnya. Hal itulah yang bisa membuat pembaca ikut merasakan menjadi sosok yang diceritakan tersebut.

Sosok Marni merupakan salah satu hantu yang sangat berkesan bagi Sara. Seorang sinden berparas cantik yang mirip sekali dengan Dewi Soekarno. Perpaduan tubuh yang sempurna bak model kebangsaan Amerika, Marilyn Monroe. Marni merupakan sosok hantu yang agak agresif menurut Sara bahkan awalnya ia enggan untuk berkomunikasi. Sampai akhirnya ia mengerti bahwa sosok Marni ini sebenarnya ingin membagikan kisah hidupnya dengan Sara.

Tidak mudah bagi Sara untuk menuliskan novel ini. Selain membutuhkan waktu lebih dari 3 tahun lamanya, ia juga harus berinteraksi beberapa kali dengan sosok tersebut. Tidak cukup hanya berinteraksi sekali saja, karena setiap sosok sebenarnya seperti manusia juga yang memiliki karakter berbeda-beda. Ada yang sulit untuk diajak berkomunikasi dan ada juga yang susah untuk ditemui. Terlebih lagi Sara juga harus bolak-balik datang ke tempat-tempat angker tersebut. Sikap optimis tersebut ditanamkan dalam dirinya supaya dapat menyajikan kisah yang sebenarnya terjadi dan tidak ada direkayasa.

Seperti halnya manusia pasti memiliki pilihannya sendiri dalam membuat keputusan. Begitu juga dengan novel ini, kita bisa belajar dari mana saja termasuk pengalaman spiritual. Ketika mereka pernah membuat sebuah pilihan dan ternyata bisa saja pilihan tersebut merupakan pilihan yang salah. Dari situlah kita dapat belajar jangan sampai terjebak pada pilihan yang salah. Karena terkadang keputusan yang salah tanpa memikirkan kedepannya dapat berakibat malapetaka yang berujung kematian.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment