Hits: 210

Alvira Rosa Damayanti

“Penjahat dalam kisah kita bukanlah ibu tiri yang kejam, teman yang berkhianat, orang-orang yang merendahkan kita, tapi..our own insecurity” – Alvi Syahrin.

Pijar, Medan. Fisik yang dirasa kurang sempurna dan tidak menarik, terkadang menjadi alasan mengapa rasa insecurity itu ada dalam diri. Rasa marah karena tidak tau apa yang akan  terjadi di masa depan, ditambah dengan rasa iri karena melihat teman yang jauh lebih sukses, seakan menimbulkan rasa insecurity yang berlebihan.

Berbicara mengenai hal ini, ketika kamu merasa kehidupan tidak adil bagimu, kamu pasti akan mulai berpikir mengapa kamu tidak dianugerahi oleh Tuhan dengan paras yang sempurna? Atau kamu bisa langsung berpikir mengapa kamu tidak ditakdirkan menjadi orang kaya saja? Lalu di menit yang akan datang langsung disusul dengan pertanyaan-pertanyaan ‘mengapa’ lainnya dalam benakmu.

Pertanyaan yang meratapi seperti itulah, yang lambat laun secara perlahan-lahan, mulai mengusik pikiranmu. Namun percayalah, ketika kamu berada di fase ini, yang kamu butuhkan memang lebih dari sekadar motivasi.

Insecurity is my middle name merupakan buku karya Alvi Syahri mengenai penyembuhan diri sendiri. Buku ini merupakan buku pertama karya Alvi dalam seri self healing dengan 45 sub judul. Setelah sebelumnya ia sukses melahirkan buku seri ‘Jika Kita’ yang menghasilkan tiga jenis buku dengan judul yang berbeda.

Buku ini berisi tentang kumpulan-kumpulan rasa insecurity yang biasanya kerap dirasakan oleh setiap orang. Tentang bagaimana rasanya memiliki fisik yang dianggap kurang sempurna, tentang bagaimana rasa iri kepada seseorang, dan tentang rasa benci yang terkadang timbul pada diri sendiri.

Tapi, bagaimana kalau ternyata insecurity adalah sinyalmu untuk berkembang?” – hal 240.

Rasa insecurity tak hanya hadir untuk membuat kita berkeluh kesah. Rasa tersebut juga dapat hadir dengan melihat adanya perkembangan dalam diri kita. Biasanya insecurity yang tidak berlebihan memacu seseorang untuk menciptakan versi terbaik dari dirinya.

Dalam buku ini, Alvi memposisikan dirinya sebagai rasa insecurity yang ada pada setiap orang, kemudian dalam tulisannya ia memerankan diri layaknya seorang teman untuk bisa mengajak para pembaca  berdamai dengan rasa insecure yang ada.

Buku Insecurity is my middle name direkomendasikan untuk Sobat Pijar yang sedang merasa jatuh dan merasa tidak memiliki kemampuan apapun. Jika kamu masih meragukan dirimu sendiri dan masih terlalu mendengar perkataan orang lain tentang kejelekkan yang ada pada dirimu, yang kamu butuhkan hanyalah sebuah keyakinan. Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan keyainan atas dirimu bahwa kamu bisa melakukan apa pun, lebih dari apa yang mereka pikirkan tentangmu.

Lantas, bagaimana jika mulai sekarang, biasakan merubah pola pikirmu dari insecurity menjadi bersyukur. Shall we?

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment