Hannysa

“Selimut debu, selubung gunung, derai tangis, dan desing pertempuran, membungkus wajah Afghanistan yang sebenarnya negeri kuno dengan peradaban agung yang terkubur.” – Hal. 380

Pijar, Medan. Apa hal yang terlintas dipikiran Sobat Pijar jika mendengar kata ‘Afghanistan’? Mungkin tidak jauh-jauh dari peperangan, kemiskinan, atau rasa aman yang juga berdampingan dengan rasa takut. Dalam buku Selimut Debu ini, kita diajak untuk berpetualang dan menemukan sisi lain dari Afghanistan.

Agustinus Wibowo, penulis dari buku ini menceritakan kisahnya sendiri tentang perjalanan sebagai seorang backpacker yang berkelana ke setiap sudut negara tersebut. Perjalanannya dimulai dari mengunjungi Kota Kabul, ibu kota Afghanistan yang gemerlap untuk pertama kali. Dilanjutkan ke Bamiyan, kota suci di daerah Hazarajat peninggalan Buddha. Setelah itu, dilanjutkan ke Kandahar, wilayah konflik markas Taliban. Lalu, Kota Serat yang terkenal sebagai gerbang mengadu nasib ke Iran dan masih banyak lagi tempat-tempat lainnya. Dalam setiap tempat yang ia kunjungi, kita seolah diajak untuk ikut merasakan petualangannya.

Dalam perjalanannya, Agustinus menaiki kendaraan apa saja yang lewat seperti  truk, falang coach, bahkan traktor. Bermacam jenis jalanan juga dilewati dengan kendaraan yang tergopoh-gopoh, jalanan berbatu, sungai deras, padang berdebu, dan pegunungan curam. Kendaraan-kendaraan yang berbeda itu mengantarkannya ke setiap tempat yang berbeda pula. Setiap tempat yang ia kunjungi tentu memiliki karakteristik warga dan budaya yang tak sama, membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca.

Melangkah lebih jauh, sisi kemanusiaan sangat menonjol dalam buku 461 halaman ini. Agustinus menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat lokal serta berbaur dengan adat mereka yang berbeda-beda. Siklus hidup mereka yang bekerja keras, mengeluh tetapi tetap bekerja, keramahan mereka dalam menjamu tamu, bahkan kebiasaan minum kopi di kedai sambil bercerita juga dimuat.

 “Afghanistan adalah negara tua tempat peradaban mulai berayun, berputar, dan berjalan. Kota-kota kuno tegak, kejayaan masa lalu berpendar, kehidupan spiritual berbaur dengan adat dan embusan napas penduduk”  – Halaman  272.

Selama berpetualang, selain mendapatkan banyak pengalaman yang menarik tentu Agustinus juga kerap mengalami beberapa kesulitan. Mulai dari kehilangan dompet, ditertawakan pemuda karena memakai pakaian yang berbeda, sampai dipukuli oleh oknum di sana. Berbagai pengalamannya di Afghanistan diceritakan dengan jelas, membuat pembaca dapat membayangkan dan merasakan setiap detailnya.

Buku Selimut Debu tentu dapat menjadi jendela bagi pembaca untuk melihat Afghanistan dari berbagai sudut pandang. Negara ini tak melulu hanya tentang perang dan hal mengerikan lainnya. Ada keindahan penuh sejarah mulai dari tempat sampai peninggalan-peninggalan pemimpin masa lampau, ada bangunan megah berdampingan dengan reruntuhan, dan ada keramahtamahan masyarakat Afghanistan yang tulus kala menyambut tamu dari luar negaranya.

Dalam setiap bab, terdapat beberapa foto yang diselipkan penulis yang ia potret sendiri selama perjalanannya di sana. Foto-foto ini membuat pembaca bisa membayangkan lebih jelas bagaimana kondisi di Afghanistan. Buku Selimut Debu sangat direkomendasikan untuk Sobat Pijar yang menyukai genre travelling dan sosial.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment