Dira Claudia Bahroeny

Pijar, Medan. Manusia memang terlahir dengan sifat yang tidak pernah puas. Ketika satu hal tercapai, kemudian ia berusaha menggapai hal-hal lainnya. Tetapi, apa yang sebenarnya kita cari? Apakah kepuasan, jati diri, atau sebenarnya kita hanya tenggelam di tengah sibuknya dunia dan berusaha mengikuti arus?

Setidaknya, itu yang Haenim Sunim coba kupas dalam bukunya The Things You Can See Only When You Slow Down yang terbit pada tahun 2012 di Korea. Melihat antusias masyarakat yang luar biasa, buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam 5 bahasa seperti Cina, Jepang, Thailand, Perancis, dan Inggris.

Sang penulis merupakan seorang biksu Zen yang sering kali dimintai saran perihal kehidupan. Bahagia melihat banyaknya orang yang terselamatkan lewat untaian katanya, ia pun memulai untuk menyebarkan kedamaian lewat media sosial dan berhasil menghipnotis para pembaca. Salah satunya ialah pihak penerbit Penguin Life yang kemudian menawarkan Haenim untuk membungkus tulisannya menjadi sebuah buku.

Buku dengan 265 halaman ini terbagi menjadi delapan bagian yang membahas berbagai aspek kehidupan. Mulai dari persahabatan hingga percintaan, masa depan hingga spiritualitas, serta cara menangani emosi negatif dan berdamai dengan diri sendiri. Bahkan buku ini juga membahas pentingnya istirahat dan menikmati hidup.

Setiap bab akan dibuka dengan sebuah esai yang kemudian diikuti oleh serangkaian pesan dan nasihat yang ditujukan langsung kepada pembaca untuk dipertimbangkan, diterapkan dalam kehidupan, dan menjadi suatu kebiasan. Oleh sebab itu, buku ini akan lebih indah jika kita tidak menghabiskannya dalam satu malam. Karena setiap pembaca membutuhkan waktu untuk mengobati satu luka sebelum mengobati luka yang lainnya.

Lalu pertanyaan besar pun muncul saat kita membuka bab pertama. Setidaknya, setiap orang pernah satu kali menanyakan hal ini dihidupnya.

Bab pertama pada buku The Things You Can See Only When You Slow Down. (Fotografer : Dira Claudia Bahroeny)

Kenapa dunia bergerak begitu cepat? Apakah memang dunia yang semakin sibuk atau justru pikiran saya yang sibuk?

Tidak. Dunia tidak sibuk. Dunia yang kita lihat adalah dunia berdasarkan jendela pikiran kita. Ketika pikiran penuh dengan kasih dan kebahagiaan, maka dunia akan jadi seperti itu. Sebaliknya, ketika pikiran kita penuh dengan ketakutan, dunia pun mengikuti.

Buku dengan cover biru ini mengajarkan kita pentingnya untuk memberi jeda dalam hidup. Musik akan terdengar indah ketika ada jeda dari satu nada dengan nada lainnya. Suatu pidato akan menjadi menarik ketika ada jeda di antara kalimatnya. Begitu pun dengan hidup. Kita perlu berhenti sejenak, mendengarkan nafas, dan menyadari hening dari setiap suara yang muncul.

Kalau sobat Pijar lelah dengan rutinitas yang sedang dijalankan, istirahat. Belajar untuk berjalan di tengah orang-orang yang berlari. Dunia memang bergerak dengan cepat, tetapi bukan berarti kita harus mengikutinya.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment