Nurjannah Parinduri, menjadi salah satu perwakilan Sumatra Utara dalam ajang perlombaan MTQ Tingkat Nasional Cabang Tilawah, yang diadakan di Kalimantan Selatan pada tahun 2022.
Farrahany Diva Az Zahra atau biasa disapa Diva adalah mahasiswi USU Program Studi Kedokteran yang juga merupakan seorang atlet sepatu roda. Banyak menorehkankan prestasi menjadikannya sosok inspiratif anak muda yang ingin terjun di dunia sepatu roda.
Marilyn Lievani, seorang gadis yang terlahir sebagai penyandang low vision ini mengubah stereotipe masyarakat bahwa keterbatasan tidak selamanya membatasi ruang untuk berbagi dan menginspirasi.
Farid Haikal atau yang akrab disapa Haikal merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Prodi Manajemen Universitas Sumatera Utara. Walaupun masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, ia kerap mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya di Senyum Kecil.
Modis, cantik, dan berprestasi. Tiga kata yang sangat cocok untuk mendeskripsikan Nicke Widyawati. Sosok Ibu Nicke dapat menepis stigma masyarakat Indonesia yang mengatakan bahwa wanita karier tidak dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.
“Umur hanyalah angka, tetapi semangat tidak akan pernah padam,” sebuah kalimat yang menggambarkan sosok inspiratif kali ini. H. Muhammad Tok Wan Haria (TWH) merupakan mantan veteran sekaligus wartawan senior kelahiran 15 November 1932.
Zero waste merupakan sebuah filosofi atau prinsip gaya hidup yang mengupayakan setiap produk bisa digunakan kembali. Konsep zero waste mengajak kita untuk menggunakan produk sekali pakai dengan lebih bijak demi mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah yang akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ghanim Muhammad Al Muftah lahir pada 5 Mei 2002 di Doha, Qatar. Ghanim adalah seorang aktivis disabilitas yang menginspirasi orang banyak melalui konten akun Instagram dan kanal Youtube-nya. Namanya sendiri sudah cukup tersohor di Qatar.
Marsius Sitohang adalah dosen Universitas Sumatera Utara jurusan Etnomusikologi yang sangat menginspirasi banyak orang. Pria kelahiran 1 April 1953 yang berasal dari Kampung Palipi, Kabupaten Samosir ini tidak menyangka bahwa akhirnya ia menjadi dosen Universitas Sumatera Utara karena kecintaannya terhadap budaya daerah asalnya.
Melati Wijsen, perempuan berusia 21 tahun asal Bali. Wanita keturunan Indonesia-Belanda ini memulai perjalanannya sebagai aktivis lingkungan pada usia 12 tahun. Ia membuat gerakan Bye – Bye Plastic Bags di GIN (Global Initiative Network) Youth Conference pada tahun 2013.
