Hits: 15

Umniyatiy Nurul Atqiya / Lolita Siregar

“Jadilah orang tua yang bijaksana. Jadi orang tua yang bijaksana itu enggak gampang. Ada proses dan harus banyak belajar. Belajar itu enggak cuma sekali dua kali bisa, tapi belajar itu seumur hidup.” – Marilyn Lievani

Pijar, Medan. Setiap insan di dunia ini pasti memiliki kelebihan dan kekurangan yang dititipkan Tuhan kepada kita. Hanya bagaimana seseorang mengelola kelebihan dan kekurangan tersebut agar dapat menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Marilyn Lievani, seorang gadis yang terlahir sebagai penyandang low vision ini mengubah stereotipe masyarakat bahwa keterbatasan tidak selamanya membatasi ruang untuk berbagi dan menginspirasi.

Masa Kecil Marilyn
Dalam masyarakat awam, istilah low vision masih belum banyak yang mengetahui. Low vision adalah sebuah keadaan di mana seseorang tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi tidak bisa dikategorikan buta. Semasa kecilnya, Marilyn pernah berobat ke dokter, ia berharap agar dapat disembuhkan. Namun, dokter tersebut membuat suatu pernyataan yang jauh dari dugaan Marilyn.

“Waktu masih kecil karena sayanya ini low vision, dan di Medan istilah low vision ini kayak masih asing ya. Untuk beberapa dokter juga masih nggak tahu mau diapakan saya-nya, disuruh, ‘ya udah bawa pulang aja itu, nggak bisa diapa-apain nih’ Ada yang bilang, ‘nanti dioperasi tunggu dia beberapa belas tahun dulu’,” ungkap Marilyn saat diwawancara langsung oleh reporter Pijar pada (4/11/2022).

Dalam masyarakat, low vision disebut dengan katarak kongenital, yakni penyakit yang ditemukan pada bayi yang baru lahir. Katarak tersebut menutup penglihatan yang menyebabkan mata terus berusaha mencari cahaya hingga bergoyang atau yang disebut dengan dancing eye. Akibatnya, Marilyn sering mendapat perilaku yang kurang baik dari sekitarnya.

“Nah, itulah yang membuat saya akhirnya dicap, ‘nggak sopan nih,’ ‘apaan ini mata melirik sana-sini,’ ‘kampungan banget,’ ‘kamu ini ngapain sih?’, Dari situlah proses pem-bully-an itu terjadi. Dari orang lain, dari guru-guru, dari orang tua yang dewasa menganggap, ‘enggak sopan ini, akhlaknya rendah, masa diajak ngomong, yang ngajak ngomong siapa, yang dilihat kemana’ Bagi anak-anak kecil ini tentu jadi ledekan dan bahan mainan,” jelas Marilyn.

Menemukan Titik Balik Kehidupan
“Waktu itu ada satu guru yang kasih perhatian. ‘Oh, kamu ini sebenarnya pintar, loh. Kamu cuma perlu belajar aja nanti saya bantu,’ kata ibu itu. Dan juga ada teman sebangku katanya, ‘kamu ini sebenarnya bisa, kamu cuma enggak bisa lihat aja, aku bantuin ya.’ Akhirnya ternyata saya sadar saya tuh enggak buruk-buruk amat kok. Bisa kok berprestasi 10 besar di kelas SMA,” jelas Marilyn, ketika ada seorang guru yang menyadari kepintarannya.

Hingga akhirnya Marilyn bertemu guru Bahasa Jepang yang memberinya perhatian dan bertanya mengenai impian. “Impian saya mau jadi pengemis, orang seperti saya kalau di TV itu ngemis-ngemis dia, saya mau jadi itu,” jelasnya saat itu.

Marilyn diminta memikirkan kembali impiannya dan memutuskan ingin naik kereta api tercepat di Jepang, Shinkansen. Dari situ, Marilyn mulai memikirkan cara menggapai impiannya, yaitu dengan cara mengikuti lomba pidato bahasa Jepang yang dapat membawanya ke negeri matahari terbit itu.

Berdirinya Yayasan Dwi Tuna Baru
Kehadiran seseorang dalam mendampingi kondisi psikologis orang yang mengalami disabilitas dan kekerasan itu sangat penting. Inilah yang menjadi alasan Marilyn mengambil jurusan psikologi dengan harapan ia dapat memberikan pendampingan serta bantuan kepada orang lain.

“Jadi anggapan orang yang seperti ‘Aduh, mereka ini mau diapain sih?’ ‘Apa mungkin mereka akan punya pekerjaan? Apa mungkin suatu saat mereka punya pasangan hidup? Jangan-jangan nanti menempel terus jadi benalu ke orang tuanya’. Tidak. Dengan pendampingan yang baik inilah mereka jadi punya kesempatan, begitu,” ungkap Marilyn.

Yayasan Dwi Tuna Harapan Baru merupakan sebuah sekolah yang ia dirikan bersama teman-temannya untuk penyadang disabilitas. Pada awal berdirinya, Marilyn dan teman-teman hanya memberikan apa yang mereka miliki saja. Kemudian, mereka mulai menelusuri sekolah apa yang dapat mengajarkan kurikulum yang dimiliki. Lalu, terinspirasilah mereka dengan SLB Dwituna Rawinala dan dari Rawinala inilah yang mengajarkan mereka teknik-teknik mengajar hingga sekarang menggunakna kurikulum dari mereka.

“Kepikiran awalnya ini dari pendiri sekolah, seminimal-minimalnya ini kami tamatan SMA sedangkan anak-anak ini dari SLB aja enggak diterima. Jadi terpikir dong, pendidikan ini kan hak semua orang. Tanpa adanya suatu pendidikan, anak-anak kita inikan dianggap tetangga-tetangganya sebagai anak yang enggak guna, teriak-teriak atau nangis-nangis aja, jadi kami terpikir untuk membuat sekolah. Apa yang kami bisa, kami kasih, kami berikan,” jelas Marilyn lugas.

Kenapa diberikan Nama SLB-G Dwituna Harapan Baru?
Nama SLB-G Dwituna Harapan Baru berarti harapan yang baru akan datang untuk semua orang. Melalui sekolah ini akan ada harapan dan impian yang baru yang dapat dicapai, sertamenjadi jembatan bagi siapapun untuk menggapai apa yang mereka cita-citakan.

“Karena Harapan Baru memberikan suatu pengharapan yang baru untuk orang-orang yang datang. Sama seperti tadi anak-anak di SLB lain enggak diterima, dan datang dengan satu yang takut dengan braille, yang satu suka sujud aja, enggak berbicara. Setelah di sini, bisa baca braille, padahal awalnya dia mau pegang aja takut dan jijik. Ada yang tadi sujud aja sekarang udah aktif banget keliling-keliling sekolah. Yang enggak berbicara, sudah mulai berbicara. Jadi akhirnya ini disebut dengan Harapan Baru,” terangnya.

Riwayat Pendidikan dan Prestasi yang Pernah dicapai
Marilyn pernah meraih peringkat 10 besar ketika SMA. Mahir berbahasa Jepang, ia juga pernah menyabet juara 1 lomba pidato Bahasa Jepang tingkat Sumatera Utara, dan mendapat juara 4 di tingkat nasional. Selain itu, dia juga pernah mengikuti lomba cerdas cermat dan memperoleh juara 3 beberapa kali.

Setelah lulus dari SMA Tri Murni Medan, Marilyn sempat melanjutkan pendidikannya di jurusan Psikologi Universitas Prima Indonesia. Sayangnya, Marilyn jatuh sakit dan fokus pada pengobatan yang mengharuskannya mengambil cuti perkuliahan di semester tujuh dan dengan mengorbankan pendidikannya yang tidak selesai.

“Kalau fase terberat untuk aku pribadi, waktu aku enggak bisa lanjut kuliah lagi, tapi mau gimana udah tinggal finish doang. Saya udah berusaha membujuk tapi pihak kampus tetap tidak mau, saya mau bilang apa lagi? Tidak bisa bilang apa-apa juga. Tapi semua itu pasti percaya atau tidak setiap manusia punya fase terberat tapi kalau kita jalani pasti akan terlewat juga,” ungkap Marilyn.

Role Model bagi Seorang Marilyn
Marilyn kecil sangat terinspirasi dengan Miyuki Chan, seorang tunanetra asal Jepang. Banyaknya kesamaan, seperti dituntut untuk menjadi sempurna selayaknya orang non-disabilitas dan pernah memenangkan lomba pidato tingkat nasional, membuat Marilyn mengidolakannya. Marilyn yang sangat suka berbahasa Jepang, belajar bahasa Jepang dan berpidato dari Miyuki Chan.

Beranjak dewasa, Marilyn terinspirasi dengan Kun San, pelukis terkenal asal Taiwan yang menggunakan mulutnya sebagai pengganti tangan. Sama seperti Marilyn, Kun San juga menyosialisasikan ke sekolah-sekolah bahwa disabilitas itu tidak berbeda, tidak butuh belas kasihan, hanya butuh pendampingan.

Harapan Marilyn
Besar harapan Marilyn agar pendidikan untuk semua orang dapat terealisasikan. Khususnya untuk orang tua agar dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya melalui sekolah. Menurutnya, membiarkan anak bersosialisasi dengan banyak orang memberikan dampak yang positif dan mengajarkan banyak hal kepada anak tersebut.

“Jadi saya berharap untuk pendidikan di Indonesia dari Kementrian Pendidikan, dari para guru, dari para pemilik sekolah untuk bersosialisasi kepada banyak orang untuk sekolahkan anaknya. Ajak anakmu keluar, sosialisasikan dengan orang sebanyak mungkin. Supaya anakmu mengenal bahwa dunia ini enggak sebesar kamarnya aja, enggak sebesar rumahnya aja. Tapi dunia ini luas,” tutup Marilyn.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment