Mengulik Makna Wibu dan Otaku yang Sering Disalah Artikan

Sumber Foto: https://www.timeout.com/tokyo/

Nurul Sukma / Achmad Syah Galang Ramadhan

Pijar, Medan. Siapa yang tak kenal dengan budaya Jepang pada zaman sekarang ini. Budaya ini pertama kali masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 1980–an dalam bentuk video kaset dan cukup populer hingga tahun 2000–an. Budaya populer Jepang sendiri terdiri dari berbagai jenis seperti anime, manga (komik), Japan music (J-pop), drama televisi Jepang, dan gim. Di antara semua produk budaya Jepang, anime-lah yang paling populer. Popularitas anime di kalangan masyarakat Indonesia turut menarik dua julukan, yaitu “otaku” dan “wibu” yang ditujukan untuk para penggemarnya. Kedua hal ini sering dianggap menganggu dan dipandang sebagai satu hal yang sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan mencolok antara otaku dan wibu.

Di Jepang sendiri, otaku sebenarnya memiliki makna seseorang yang bersungguh–sungguh dalam menekuni hobi dan passion-nya. Ketekunan yang dimaksud pun tidak hanya seputar anime atau gim, tapi bisa juga hobi–hobi lainnya seperti menulis dan menggambar. Para otaku biasanya dilabeli sebagai anti–sosial karena sikap mereka yang lebih fokus pada hobi mereka daripada bersosialisasi dengan orang lain. Berbeda dengan di negara barat sana, otaku lebih umum mengacu pada seseorang yang sangat antusias dengan anime. Kamar seorang otaku mungkin penuh dengan mainan dan figur mewah, atau rak buku yang penuh dengan manga, bahkan mungkin memiliki lebih banyak kostum anime dibandingkan pakaian formal. Tapi hobi mereka tidak mengambil alih rutinitas harian yang berdampak negarif pada hubungan sosial mereka.

Sedangkan wibu sendiri berasal dari bahasa Inggris “Weeaboo” yang memiliki makna orang asing atau non-Jepang yang memiliki obsesi berlebihan terhadap kebudayaan Jepang. Pada awalnya weeaboo berarti wapanese yang merupakan singkatan dari Want to be Japanese atau Japanese Wannabe. Namun pada pertengahan tahun 2000-an, istilah ini bergeser maknanya menjadi sebuah ejekan kepada orang–orang yang maniak kepada segala sesuatu yang berbau Jepang.

Berbeda dengan otaku yang cenderung tertutup dan hanya menikmati hobinya, banyak wibu yang justru bangga dan menunjukkan dirinya yang banyak tahu soal budaya Jepang. Mereka juga suka berpakaian dan menggunakan kosakata Jepang ketika berbicara dengan orang lain. Tak sedikit wibu yang terlalu mencintai kebudayaan Jepang hingga merendahkan budayanya sendiri. Hal ini lah yang menimbulkan stigma negatif masyarakat terhadap mereka.

Seorang otaku memang kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat yang juga berimbas pada wibu. Pasalnya seorang otaku belum tentu wibu, tapi seorang wibu sudah pasti otaku. Otaku dapat sangat terobsesi dengan karakter favoritnya. Otaku juga mempunyai penyakit sosial seperti kepercayaan diri yang rendah karena jarang bersosialisasi. Mereka juga terkadang lebih suka berandai–andai menjadi karakter favorit mereka ketimbang menjadi diri mereka sendiri. Karena obesesinya terhadap anime dan manga yang berlebihan, seorang otaku juga dapat menarik diri dari kehidupan sosialnya. Akibatnya mereka sering dicap sebagai “nolep” alias no life yang berarti tidak punya kehidupan.

Oleh karena itu, perlu diingat bahwa otaku adalah istilah bagi mereka yang terlalu menekuni hobi mereka hingga cenderung tertutup. Sedangkan wibu sendiri adalah istilah yang digunakan untuk orang non-Jepang yang mempunyai obsesi gila-gilaan terhadap budaya Jepang. Orang Jepang sendiri tidak terlalu menyukai keduanya karena menganggap terlalu berlebihan melakukan atau menggemari suatu hal, apalagi hal tersebut adalah tokoh kartun dan komik.

Segala sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Menyukai budaya asing tentu boleh-boleh saja, selama tidak melampaui batas dan tidak menganggu akivitas harian.

(Editor: Diva Vania)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *