Bayu Herlambang / Zain Fathurrahman

Pijar, Medan. Tidak hanya malaikat pencabut nyawa, nyatanya manusia juga dapat mengakhiri nyawa seseorang hewan ataupu manusia lainnya. Hal ini disebut dengan Euthanasia. Dilansir dari Wikipedia, Euthanasia merupakan praktik menghakhiri kehidupan manusia ataupun hewan lewat metode yang dikira tidak memunculkan rasa sakit ataupun memunculkan rasa sakit yang minimum, umumnya dicoba dengan metode menyuntikkan cairan yang mematikan. Kata Euthanasia berasal dari bahasa Yunani yang berarti good death ataupun kematian yang baik.

Euthanasia dalam Doering (1994) didefinisikan sebagai physician-assisted death atau kematian yang dibantu oleh dokter. Bila didefinisikan bagaikan physician-assisted death, euthanasia hendak mencakup permasalahan aborsi, kematian sebab mal-praktek, serta eugenics. Penulis cenderung memakai sebutan kematian elektif (elective death) dengan anggapan kalau kematian seorang didahului oleh suatu proses yang mengaitkan banyak opsi menimpa konteks sosial serta konstruksi sosial kematian.

Euthanasia biasanya dilakukan kepada penderita sakit yang sangat parah serta nyaris tidak mempunyai harapan hidup. Misalnya mereka telah koma yang sudah sangat lama serta sangat bergantung pada perlengkapan yang melekat di badannya. Tetapi, Ketentuan hukum menimpa permasalahan ini berbeda-beda di masing-masing negara serta kerap kali berganti bersamaan dengan pergantian norma-norma budaya ataupun ketersediaan perawatan ataupun aksi kedokteran.

Akhir-akhir ini, dunia internasional diramaikan kembali dengan perdebatan pro-kontra mengenai legalisasi dari euthanasia setelah Selandia Baru menyatakan akan melakukan legalisasi berdasarkan pilihan dari 65,2% warganya. Apabila Undang-Undang Pilihan Akhir Kehidupan disahkan, maka Selandia Baru menjadi negara ke-11 yang melegalkan euthanasia  setelah Belanda, Belgia, Colombia, Luksemburg, Swiss, Jerman, Jepang, India, Amerika Serikat dan Perancis.

Di Indonesia perihal ini masih sangat diperdebatkan. Kasus euthanasia pertama dicatat di Indonesia pada tahun 2004 di Rumah Sakit Islam Bogor. Dimana Panca Satrya Hasan Kusumo melakukan permohonan praktik tersebut terhadap istrinya, Agian Isna Nauli Siregar, yang tergolek koma selama tiga bulan dan menderita kerusakan saraf permanen di otak. Melihat kondisi istrinya itu, Panca mengajukan permohonan euthanasia ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat namun permohonannya ditolak negara karena dianggap melanggar hukum.

Dikutip dari Kompas, Dekan Fakultas Medis Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ova Emilia, Meter. Med. Ed., SpOG( K)., PhD. mengatakan “Dalam etika medis senantiasa terdapat debat antara pro life serta pro choice. Pro life berarti mempertahankan kehidupan dengan bermacam upaya. Sementara pro choice memikirkan orang yang menghadapi, sebab orang yang menghadapi itu mempunyai hak terhadap hidupnya”. Setelah itu Ova juga mengatakan bahwa euthanasia sesungguhnya sama sekali tidak terdapat kaitannya dengan kedokteran, tetapi lebih kepada hak memilih untuk terus hidup ataupun mengakhirinya.

Berkaca pada hukum di Indonesia, euthanasia merupakan suatu perbuatan yang melawan hukum. Perihal ini bisa dilihat pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan “Barangsiapa melenyapkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata serta serius, dihukum penjara selama- lamanya 12 tahun”. Demikian pula tampak pada pasal-pasal 338, 340, 345, serta 359 KUHP yang bisa dikatakan memenuhi unsur- unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara resmi hukum yang berlaku di negeri kita memanglah tidak mengizinkan aksi eutanasia oleh siapa saja.

Sebaliknya, mereka yang mendukung euthanasia berkomentar bahwa warga yang beradab wajib memperbolehkan orang untuk memiliki hak mati dalam martabat serta tanpa rasa sakit, serta wajib membolehkan orang lain untuk menolong mereka melaksanakannya bila mereka tidak dapat melakukannya sendiri. Mereka berkata kalau badan merupakan hak prerogatif pemiliknya sendiri, sehingga kita diizinkan untuk melakukan apa yang kita mau dengan badan kita sendiri. Jadi, mereka menyangka kalau mengupayakan kehidupan yang lebih lama untuk yang tidak menginginkannya merupakan sesuatu yang salah. Apalagi membuat orang untuk terus hidup ketika mereka tidak menginginkannya merupakan pelanggaran kebebasan individu serta hak asasi manusia.

Nah, kalau Sobat Pijar merupakan golongan yang setuju atau yang tidak setuju dengan praktik euthaniasia ini?

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment