Hits: 21

Chairunnisa Asriani Lubis

“Kau anak paling kuat di keluarga ini, Amel. Itu benar sekali. Bukan kuat secara fisik, tapi kuat dari dalam. Kau adalah anak yang paling teguh hatinya, paling kokoh dengan pemahaman baik. Lihatlah, bahkan pembicaraan seperti ini tidak akan kita peroleh dari Kak Eli, Kak Pukat, apalagi Kak Burlian. Tapi kau, dengan usia yang jauh lebih muda, bisa menunjukkan kemampuan memahami dengan baik. Tidak usah dipikirkan, Bapak maafkan soal baju lungsuran itu.” – Hal 31

Pijar, Medan. Seseorang yang ditakdirkan menjadi anak bungsu terkadang berpikir takdir tersebut adalah hal yang tidak menyenangkan. Dia merasa direndahkan oleh kakak-kakaknya karena sering disuruh-suruh, dibentak, hingga menjadi sasaran empuk barang bekas pakai mereka. Bahkan, anak bungsu merasa dirinya seperti tidak layak menjadi dewasa karena selalu dianggap sebagai anak kecil.

Kira-kira seperti itulah perasaan awal Amelia yang digambarkan Tere Liye dalam bukunya berjudul Amelia.

Gadis yang akrab disapa Amel itu tak pernah senang terlahir sebagai anak bungsu. Hari-hari yang ia jalani penuh dengan teriakan perintah dari kakak sulungnya, Eliana. Tak hanya perintah, jeweran pun terkadang melayang di kuping Amel. Belum lagi sikap menyebalkan dua kakak laki-lakinya, Pukat dan Burlian.

Alih-alih akur, mereka sering menjahili Amel dengan kata-kata. Mereka menyebut Amel pemalas, cengeng, bahkan sebagai ‘penunggu rumah’. Dalam tradisi mereka, penunggu rumah berarti bahwa anak bungsu tidak akan pernah bisa menjelajahi dunia karena dia harus tetap berada di rumah menjaga orang tua.

“Kau anak bungsu Amel. Dimana-mana, anak bungsu hanya ‘menunggu rumah’.” – Hal 231

Namun, kisah Amel sebagai anak bungsu justru menjadikannya sosok yang dijuluki ‘Si Anak Kuat’. Bukan kuat secara fisik, melainkan kuat dalam memahami segala hal yang rumit. Seperti pada akhirnya, Amel sadar bahwa cerewetnya Eliana adalah bentuk kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Jika kakaknya tidak secerewet itu artinya sang kakak tak peduli dengan dirinya.

Amel juga berhasil mematahkan tradisi penunggu rumah untuk anak bungsu dengan kemampuannya bersekolah hingga ke luar negeri. Bahkan, ilmu yang ditimbanya di negeri Belanda itu mampu memberikan efek positif yang besar bagi kemajuan kampung halamannya.

Selain itu, kuatnya seorang Amelia juga tergambar dalam sikapnya yang pantang menyerah. Saat menghadapi Norris ‘si anak nakal’ salah satunya. Kegigihan dan sabarnya Amel mampu mengubah Norris menjadi anak yang lebih baik lagi.

Mempunyai tebal 392 halaman, novel ini dikemas dengan sangat apik dan memukau. Banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kegigihan, rasa sabar, dan sikap pantang menyerah Amelia dapat dijadikan pembelajaran bagi setiap pembaca. Lebih jauh, novel ini memberi pemahaman bahwa menjadi anak bungsu tidak selamanya dipandang lemah. Justru dapat membuat kita jauh lebih kuat.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment