Hits: 50

Lolita Wardah

Pijar, Medan. KMB Dhammavaddhana Universitas BINUS mengadakan sebuah seminar virtual (Webinar) dengan mengusung tema “Memperkuat Literasi di Tengah Pandemi”. Diskusi ini diadakan melalui platform Zoom dan disiarkan langsung di YouTube pada Senin (1/6) tepat pukul 15.00 -16.00 WIB.

Diskusi ini diadakan untuk menggiatkan literasi walaupun di tengah kondisi pandemi, mengingat banyaknya berita-berita hoax, judul berita yang clickbait, dan mahasiswa/pelajar yang dituntut lebih aktif serta mandiri dalam belajar di situasi saat ini.

Webinar dimulai dengan pembukaan oleh moderator Ifany yang merupakan mahasiswi Jurusan Design Universitas BINUS. Dilanjutkan dengan memasuki isi acara yang mengundang Jombang Santani Khairen yang merupakan salah satu penulis Indonesia.

J.S. Khairen merupakan penulis yang berasal dari Sumatera Barat. Hasil karyanya tak perlu diragukan lagi dengan buku berlabel bestseller yang berjudul Kami (Bukan) Sarjana Kertas dan Kami (Bukan) Jongos Berdasi.

Saat ditanya oleh moderator bagaimana pendapat pembicara mengenai minat baca yang ada di Indonesia, J.S. Khairen memiliki pandangan tersendri. Menurutnya, minat baca atau budaya literasi yang ada di Indonesia sudah meningkat. Hal itu ia lihat dari jumlah grafik penjualan buku tahun 2017-2018 yang meningkat.

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

“Dilihat dari grafik penjualan buku 2017-2018 sangat meningkat sehingga dapat mematahkan premis bahwa minat baca rendah. Nah, kalau dilihat minat baca pada media sosial juga kan sangat baik misalnya lihat threadthread di twitter, dan lain sebagainya.”

Saat ditanya mengenai bagaimana memulai suatu tulisan agar menjadi sebuah karya? J.S.Khairen mengatakan bahwa kuncinya cuma satu, yaitu ‘Menulis’.

“Wah pertanyaan seperti ini sering sekali saya jumpai saat di seminar maupun mengisi acara lainnya, bagaimana memulai suatu tulisan, jawaban saya cuman satu yaitu dengan menulis. Nanti setelah 10 halaman  20 halaman baru menggunakan imajinasi dan lainnya.” Ungkapnya.

Maraknya penjualan buku bajakan juga dibahas dari diskusi literasi ini. J.S. Khairen mengungkapkan adanya penjualan buku bajakan atau pembagian PDF buku bajakan sangat membuat industri tidak sehat dan merugikan penulis, editor, ilustrator dan semua yang terkait dengan rantai produksi.

“Ketika buku dibajak, tidak ada pemasukan kepada penulis, editor, ilustrator dan lainnya. Nantinya pekerjaan itu tidak lagi menarik. Sehingga akan berdampak kepada penulis yang tidak ingin menghasilkan suatu karya lagi.” Ungkapnya.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

Leave a comment