Adaptation To Transformation di Era Pandemi Covid-19

Sumber Foto: Arsip Panitia

Hannysa / Rassya Priyandira

Pijar, Medan. Kondisi saat ini menuntut kita untuk menjalani sebuah fase kehidupan new normal. Selain itu, penting bagi kita untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ada seperti masa-masa saat ini. Karena itu, FETO (Festival of Engineering and Technology) Sampoerna University mengadakan webinar yang bertajuk “Metamorphosis Strategies During New Normal” pada Selasa, (22/12) pukul 13.00 WIB. Webinar ini berlangsung selama ±2 jam dan diikuti oleh lebih dari 100 peserta via aplikasi Zoom meeting.

Webinar kali ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Akbar Brojosaputro (CO Founder Conclave), Jodi Salahuddin Akbar (Community Development Bukalapak), dan Lukman Benjamin Mulian (Founder dan CEO Cretivox Broadcasting Network). Dalam kelancaran webinar sendiri, dipandu oleh Bari Iffat Joesoef selaku moderator.

Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Akbar Brojosaputro. Dalam paparannya, Akbar banyak berbicara tentang metamorphosis. Menurutnya metamorphosis itu penting, yaitu berupa soft skill dasar untuk masa depan, terlebih di era pandemi ini.

“Kita harus menyesuaikan diri dalam keadaan sekarang yang sulit ini. Kita dituntut untuk lebih mudah beradaptasi, apalagi di masa pandemi seperti ini,” jelas Akbar.

Ia juga memaparkan ada empat hal yang harus diterapkan untuk menciptakan ekosistem kolaboratif yang dinamis bagi para pengusaha, antara lain collaborative, creative, comfort, dan flexible.

Hal serupa juga disampaikan oleh Jodi Salahuddin Akbar. Ia banyak menjelaskan tentang apa saja yang sudah dilakukan Bukalapak di masa pandemi ini. Salah satu materi yang ia tampilkan ialah “Utilizing Technology to Colaborate in E-Commerce Bussiness”. Di webinar ini ia membahas mengenai inovasi Bukalapak dengan mitra pemerintah, mitra NGO, mitra komunitas, dan pengguna Bukalapak selama Pandemi Covid-19.

Bagi Jodi yang terpenting di era sekarang adalah kolaborasi daripada kompetisi antara satu sama lain. “Era sekarang udah collaborate. Semua udah punya pasar masing-masing. Sekarang tinggal collaborating dan bersaing secara sehat,” ujar Jodi.

Jodi juga menyampaikan Bukalapak memiliki tiga inovasi dan sudah dilakukan, yaitu, to provide, to support, dan to build. Ia juga menjelaskan maksud dari ketiga hal tersebut. To provide dilakukan dengan cara memberi kemudahan kepada pengguna seperti voucher gratis ongkir, to support dilakukan dengan mengumpulkan donasi melalui program Serbu Seru yang akan diberikan kepada pedagang kaki lima dan pengemudi ojek. Terakhir yaitu to build, Bukalapak berpartisipasi dalam “Kartu Prakerja” bersama pemerintah. Pengguna program ini akan mendapatkan manfaat dari insentif pemerintah dan voucher dari Bukalapak.

Pemaparan materi terakhir oleh Lukman Benjamin Mulia. Ia memaparkan tentang creative thinker, yang dimaksudkan dengan berpikir kreatif agar bisa struggling di masa pandemi ini. Menurutnya, kreatif adalah masa depan. Di mana saat ini zaman sudah tidak ada batasan untuk belajar apapun. Semuanya sudah serba digital. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak kreatif. Hal ini juga yang membuat Benjamin membuat Cretivox, ia ingin menampilkan konten-konten yang menghibur tetapi juga bermanfaat. Karena masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh apa yang ditonton generasi muda zaman sekarang.

Penyampaian materi oleh Lukman Benjamin di Webinar Road To FETO pada Selasa, (22/12).
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Pada sesi terakhir berjalan cukup santai karena Benjamin memakai gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh kawula muda. Ia juga memberikan beberapa kutipan-kutipan unik yang cukup memotivasi, salah satunya adalah “Just do your best and the rest will follow” sebagai penutup.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *