Alvira Rosa Damayanti

Pijar, Medan. Bagi sebagian orang, menulis adalah hobi mereka. Entah hanya sekadar iseng ataupun memang benar-benar mencintai dunia tulisan. Namun, meskipun iseng dan hobi belaka, ide yang ada di benak janganlah sampai mengambang begitu saja. Tuliskan dan salurkan, agar tulisan kalian bisa bercerita kepada orang lain.

Itulah skema dari bincang daring mengenai “Setelah Punya Ide, Lalu apa” yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten besama SigiKata pada (21/10) melalui aplikasi Zoom meeting.

Dengan mengundang dua bintang tamu sebagai pembicara, Gita Romadhona (Penulis buku Cinta dan Kisah-Kisah yang Sulit Selesai, sekaligus Pemimpin Redaksi Penerbit SigiKata) dan Widyawati Oktavia (Editor Penerbit SigiKata), perbincangan berjalan dengan hangat dan penuh canda tawa.

“Tulisan bagus itu keluar dari apa yang kita kuasai,” ujar Gita Romadhona. Ia menyimpulkan pembicaraan mengenai tema dan alur cerita yang dibuat. Saat kita ingin menuliskan sebuah cerita, maka kita harus mengerti dan menguasai tentang apa yang kita tulis. Tidak menerka-nerka atau sekadar menulis hanya karena ingin terlihat keren oleh khalayak.

Untuk menjadi seorang penulis, haruslah banyak baca dan mempelajari semua hal. Tidak hanya membaca satu jenis buku kesukaan, namun juga membaca mengenai buku lama yang masih hangat di perbincangkan hingga sekarang.

Mengenai kata minder? Haruslah kita buang jauh-jauh dari benak dan pikiran kita. “Saat kita membaca buku karya orang lain dan kita tahu bahwa karyanya lebih bagus dari kita, harusnya kita menjadikan itu sebagai motivasi, bukan semakin minder. Karena dari membaca itulah kita belajar,” ucap Gita saat disinggung mengenai kata minder dalam dunia kepenulisan.

Lalu bagaimana dengan rasa malas yang ada dalam diri serta motivasi yang jelas untuk setiap ide cerita yang ingin kita tulis?

Nah, untuk kata ‘malas’, tidak ada lagi yang bisa di lanjutkan dalam hal ini. Intinya, jika kita ingin menulis dan melakukan hal dengan  sungguh-sungguh, maka kita akan mengenyahkan rasa malas. Kita harus mampu menggerakkan segala cara untuk tetap melanjutkan tulisan dan menuangkan ide dalam sesibuk apapun kita. Dan untuk perbincangan soal motivasi, Gita dan Widyawati tidak banyak berbicara mengenai hal ini. Sebab menurut mereka, setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk menunjang semangat dalam diri.

“Sebenarnya, seorang penulis itu harus punya motivasi yang jelas. Karena motivasi itu adalah hal yang paling utama. Dari motivasi yang jelas itu dapat membuat kita semangat untuk belajar,” tambah Widyawati memberikan komentar.

“Kalau mau jadi penulis, jangan mudah menyerah dan teruslah belajar,” tutupnya di akhir perbincangan.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment