Medan menjadi salah satu kota yang dikunjungi para pemeran film Sri Asih untuk penyelenggaraan temu sapa (meet and greet) dalam rangka mempromosikan film. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (5/11) pukul 15.30 WIB di Atrium Utara Plaza Medan Fair lantai 1 dan dihadiri oleh Pevita Pearce, Jefri Nichol, dan Revaldo.
Our Father menyajikan kasus “hangat” tanpa korban meninggal tapi lebih mengerikan. Film yang dikemas dengan nuansa horor ini digarap oleh Blumhouse yaitu rumah produksi yang terkenal dengan film bergenre thriller horornya seperti Get Out (2017), The Invisible Man (2020), hingga Insidious (2010).
Setelah sukses dengan Harry Potter dan dua serial Fantastic Beats sebelumnya, J.K Rowling kembali menyapa para penggemarnya dengan karya baru yang merupakan sekuel Fantastic Beats dengan judul Fantastic Beats: The Secret of Dumbledore.
Bruno seorang anak yang dicekoki paham antisemit juga propaganda Nazi membuatnya kebingungan memilih antara paham yang diajarkan padanya atau pengalaman berteman seorang anak keturunan Yahudi.
Jujutsu Kaisen mengkisahkan tentang Yuji Itadori yang masuk ke dunia Jujutsu setelah menelan jari roh kutukan Sukuna. Serial bergenre fantasi supranatural karya Gege Akutami ini baru saja mendapat adaptasi film yang dirilis pada 16 Maret lalu di Indonesia.
Sebagai makhluk hidup, manusia membutuhkan uang untuk memenuhi segala kebutuhannya. Hal itu dikaitkan dengan permasalahan insomnia yang dialami oleh para remaja. Dari penggabungan dua hal ini, muncul satu pertanyaan, “Bagaimana jika waktu tidur yang dikorbankan dibayar dengan sejumah uang?”
Jika berbicara tentang sahabat pena, hal pertama yang kebanyakan terlintas di pikiran adalah kegiatan surat menyurat. Film Mary and Max hadir dengan menyajikan kisah mengenai sahabat pena. Film ini diangkat dari kisah nyata yang dialami langsung oleh sutradaranya.
Sebagai film dokumenter, The Tinder Swindler diadaptasi dari kisah nyata. Simon Leviev yang mempunyai nama asli Shimon Yehuda Hayut rupanya seorang penipu handal.
Pada film Luca, kalian akan menemukan banyak kalimat berbahasa Italia salah satunya adalah “Silenzio, Bruno”. Kalimat ini menjelaskan, bahwa suara-suara yang ada di kepala dan menghalangi untuk melakukan hal yang ingin kita lakukan, merupakan bentuk dari rasa takut yang membuat kita enggan melakukan hal tersebut.
