Hits: 7

Lainatus Syifa Hasibuan

Cerpen ini bercerita tentang seseorang yang harus merelakan mimpinya sebagai atlet renang dan menemukan tujuan hidup baru di dunia musik bersama orang-orang yang menjadi keluarga barunya.

Dingin.

Setiap kali dunia menjelma bising, aku membayangkannya meluruhkan diri. Tenggelam dalam pelukan sunyi yang paling dalam, di mana suara-suara di atas permukaan hanya menjadi gumaman tak berarti. Baginya, air bukan hanya tempat singgah, namun satu-satunya rumah yang ia kenal sebelum daratan merenggutnya.

Dulu, seluruh semestanya hanyalah sebuah garis lurus di dasar kolam. Sejak jemari kecilnya menyentuh permukaan air, ia telah menyerahkan seluruh jiwanya pada aroma kaporit dan gema peluit yang memecah hening. Ia adalah penghuni sah dari kedalaman, seorang petarung yang mengejar kemegahan di balik riak-riak yang mendingin.

“Aku ingin menjadi atlet renang nasional.”

Kalimat itu menjadi sebuah tombak kehidupan yang ia bangun dengan susah payah. Bukan, mimpi itu bukan bualan seorang anak kecil, bukan hanya cita-cita yang diucapkan lalu dilupakan. Baginya, itu adalah sebuah janji suci yang ia bisikkan pada setiap butir air yang bercengkrama dengan kulitnya.

Teman-teman lamanya tak ayal kerap bercerita dengan nada takjub, mengenang bagaimana ia menghabiskan sisa remajanya. Bocah jangkung berkacamata itu selalu memiliki binar yang berbeda, sebuah kilau yang hanya akan menyala setiap kali ia membicarakan perihal renang.

“Saat kami sudah mandi dan bersiap pulang, dia masih di sana. Menambah sepuluh putaran lagi, dua puluh putaran lagi. Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tetapi matanya… matanya selalu mengarah pada garis finish. Ia seolah sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.”

Ia adalah ambisi yang dibalut kulit dan tulang. Ia rela membiarkan telapak tangannya keriput dan matanya memerah pedih demi memangkas sepersekian detik dari catatan waktunya. Ia ingin dunia mengenalnya bukan sebagai siapa-siapa, melainkan sebagai lelaki yang berhasil menaklukkan arus. Nama yang kelak akan terukir di papan skor nasional, dibicarakan dengan rasa hormat, dan dibanggakan oleh tanah airnya.

Namun, takdir adalah penulis yang gemar merahasiakan akhir cerita.

Ia pernah menjadi bagian dari air, hingga takdir memaksanya untuk tumbuh dewasa di bawah terik lampu panggung.

Takdir, dengan segala keangkuhannya, mematahkan garis lurus itu. Mimpi yang ia pupuk dengan keringat dan air mata selama bertahun-tahun mendadak harus terhenti. Dunia atlet yang ia puja berubah menjadi ruangan-ruangan yang tak lagi menyisakan tempat baginya. Ia dipaksa menepi, menggantung baju renangnya yang masih basah, dan berjalan pergi tanpa pernah sempat menyentuh podium nasional yang menjadi asanya sejak kecil.

Kini, ia berdiri di atas daratan yang asing, di tengah riuh rendah teriakan yang memuja namanya. Di sekelilingnya, ada empat pasang bahu lain yang kini menjadi penopangnya.  Bersama mereka, ia melangkah melampaui keheningan bawah air yang pernah membesarkannya, memasuki sebuah jagat yang penuh warna, harmoni, dan kehangatan yang melampaui batas imajinasinya.

Segala hal menjelma keajaiban baru bagi bocah yang dahulu hanya mengenal cara membelah heningnya riak air. Kehadiran keempat saudaranya membuka lembaran hidup yang lebih hangat.

Di sela-sela hari yang panjang, ia mulai menyulam gairah baru pada nada-nada yang sebelumnya asing di telinganya. Jika dahulu raganya terbiasa bergerak mengikuti arus kolam yang dingin, kini ia melatih tiap jengkal ototnya untuk menari, menaklukkan lantai dansa dengan kokoh. Ia berjuang melunakkan gerakan bahunya yang lebar, mengubah kekuatan seorang perenang menjadi keanggunan seorang bintang.

Dalam proses yang melelahkan itu, ia tidak lagi sendirian. Ia menemukan sebuah keluarga baru, sekumpulan insan seperjuangan yang mendekapnya erat saat kakinya gemetar karena lelah. Mereka adalah rumah kedua yang menemaninya memulai segalanya dari nol, merangkak dari gelap menuju terang panggung yang kini ia cintai.

“Aku mulai berenang sejak kelas dua atau tiga SD dan melanjutkannya sampai kelas tujuh,” ucapnya pelan, mungkin teringat kembali sosok bocah jangkung berkacamata logam yang selalu mengirimkan foto anjingnya, Cookie, di grup kelas.

“Aku benar-benar menikmati kompetisi di turnamen. Semuanya tentang persaingan, aku merasa senang berhadapan dengan orang lain di sana.”

Ia terdiam sejenak, ada binar halus yang berpendar di matanya. “Begitu kau menyelam… dan air membungkusmu dari kepala hingga ujung kaki, perasaan itu luar biasa. Sejujurnya, saat itu aku tidak banyak berpikir tentang kepercayaan diri atau harga diri, aku hanya melakukannya. Namun, setelah menjadi trainee, aku mulai menyadari banyak hal.”

Dunia panggung memberinya cara baru untuk bercerita. Hidupnya kini ia dedikasikan untuk rasa yang ia titipkan dalam setiap nada yang mengalun. Saat ditanya mengenai perubahan terbesar dalam karirnya, ia menjawab dengan senyuman manis.

“Ketika saya berhenti berenang dan memilih untuk menekuni musik dan tari,” ungkapnya dengan nada yang mantap.

“Saya menjalani hidup sebagai perenang untuk waktu yang lama, tetapi setelah bergabung dengan perusahaan ini saya menemukan kesenangan dan minat dalam musik.”

Ia melirik keempat member di sisinya, empat jiwa yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadinya. “Saya rasa saya menemukan kegembiraan terbesar saat tampil di atas panggung, bersama mereka.”

Mungkin, kalau ia tetap menjadi atlet, ia pun akan sangat dibanggakan dan dikenal sebagai atlet nasional dengan segala bakat renangnya. Namun, ia tidak akan hadir sebagai sosok idola yang aku kagumi dan aku banggakan hari ini. Bahkan, mungkin aku tidak akan pernah mengenal dirinya sama sekali.

Terima kasih karena telah memilih jalan untuk merajut kembali asa baru dan menciptakan melodi-melodi indah yang menenangkan hari.

Semoga dirimu tetap dapat bersahabat dengan air, meski mungkin kini hanya sebagai hobi yang kau singgahi di kala senggang.

Leave a comment