Hits: 10
Tasya Hapsari
Di kota biasa yang penuh kemacetan dan hujan, tiga orang asing tiba-tiba mendapatkan kemampuan aneh setelah selamat dari kecelakaan yang sama. Ketiganya benar-benar mencoba memahami kekuatan mereka masing-masing.
Zura, mahasiswi pendiam, bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya. Awalnya cuma sendok dan buku, sampai suatu hari tanpa sadar ia membuat motor terlempar saat panik.
Raka, kurir antar paket, memiliki kecepatan luar biasa. Orang lain cuman melihat angin lewat ketika ia bergerak. Dalam hitungan detik, ia bisa berpindah dari ujung jalan ke gedung lain.
Sedangkan Nara, cewek paling santai di antara mereka, memiliki kemampuan teleportasi. Kadang ia menghilang tiba-tiba hanya untuk mengambil makanan di minimarket, lalu kembali lagi beberapa detik kemudian.
Mereka bertemu secara tidak sengaja ketika Zura kehilangan kendali di sebuah pasar malam.
Gerobak makanan melayang.
Orang-orang berteriak.
Dan sebelum semuanya jatuh begitu saja, berserakan kemana-mana.
BRUK!
Seluruh gerobak sudah dipindahkan ke tempat aman oleh Raka dalam sekejap.
“Aku nggak sengaja… maaf ya…” ucap Zura dalam hati sambil gemetar.
“Ga usah takut, gue juga gitu,” jawab Raka santai.
Tiba-tiba Nara muncul begitu saja di samping mereka sambil makan es krim.
“Oke… jadi bukan cuma gue yang aneh.”
Sejak saat itu mereka mulai sering bersama, mencoba memakai kekuatan mereka untuk hal-hal kecil. Raka membantu mengejar pencopet, Nara suka kabur tanpa bayar parkir, sementara Zura perlahan belajar mengendalikan emosinya.
Sampai suatu malam, kota tersebut mendadak kacau.
Lampu-lampu padam total.
Mobil-mobil berhenti sendiri.
Seorang pria, bernama Darma muncul di tengah jalan sambil membawa alat aneh seperti remot.
“Akhirnya ketemu juga,” katanya sambil tersenyum.
“Orang-orang spesial.”
Ternyata Darma adalah mantan ilmuwan yang mengetahui asal kekuatan mereka. Ia percaya kemampuan itu bisa dipindahkan dan dijual.
Ia ingin menangkap mereka hidup-hidup.
Anak buah Darma menyerang lebih dulu.
Raka melesat seperti kilat menghajar mereka satu per satu.
Nara berteleportasi ke belakang musuh untuk mencuri senjata mereka.
Sementara Zura mengangkat tiang-tiang besi jalanan ke udara.
Pertarungan berubah kacau dan seru di tengah hujan kota.
Namun, Darma ternyata punya alat yang bisa melemahkan kekuatan mereka.
Zura terjatuh.
Raka mulai melambat.
Nara gagal teleportasi.
Saat keadaan hampir kalah, mereka sadar satu hal. Selama ini mereka bertarung sendiri-sendiri.
Raka tersenyum kecil, “Kita ga pernah nyatuin kekuatan kita, kalau kerja bareng gimana?”
Untuk pertama kalinya, mereka menggabungkan kemampuan.
Nara berteleportasi ke atas gedung.
Zura menjatuhkan seluruh papan reklame ke arah musuh.
Sementara Raka bergerak super cepat untuk menghancurkan alat milik Darma sebelum aktif kembali.
DUARR!
Alat itu hancur.
Lampu-lampu kota menyala lagi.
Darma akhirnya ditangkap polisi, sementara ketiga anak muda itu berdiri di atas gedung sambil melihat kota yang kembali tenang.
Nara memecah suasana.
“Jadi… kita ini superhero?”
Raka langsung menjawab, “Enggak usah norak.”
Zura tertawa kecil untuk pertama kalinya.
Pada malam itu, mereka sadar bahwa kadang orang aneh cuma butuh dipertemukan dengan orang aneh lainnya.

