Hits: 3
Theodora Stephanie
Tak semua yang turun-temurun
datang sebagai doa.
Ada yang menjelma sunyi,
menetap di sela pertumbuhan,
mengakar tanpa pernah diminta.
Bertahun-tahun kusangka waktu
akan meluruhkannya seperti hujan
mengikis batu.
Nyatanya, ia hanya berganti rupa.
Menjadi jeda saat namamu disebut,
menjadi sesak yang tak selesai
setiap kali kenangan pulang.
Ada musim yang tak pernah benar-benar berganti.
Ia tinggal dalam dada,
berumah pada hal-hal yang tak sempat mati,
tumbuh diam-diam bersama usia.
Aku membawa geram ke banyak tempat,
membiarkannya menua bersama waktu.
Kuingat segala yang ingin kulupakan,
lalu kulupakan segala yang ingin kuingat.
Namun, setiap kali hendak membencimu,
hatiku selalu kalah oleh sesuatu
yang tak pernah sanggup kuberi nama.
Mungkin itu kasih.
Mungkin hanya sisa-sisa harapan
yang tak sempat padam.
Sebab sekeras apa pun aku meninggalkan,
ada bagian dari diriku
yang tetap diam-diam mendoakan:
“Semoga hidup berbaik hati kepadamu,”
“Semoga malam-malammu tak terlalu panjang,”
“Semoga yang tak pernah kuterima”
“dapat kau temukan dalam damai.”
Dan barangkali itulah yang paling menyedihkan:
bahwa luka dapat tinggal begitu lama,
namun kasih enggan benar-benar pergi.
Maka aku hidup di antaranya
separuh geram,
separuh doa;
separuh ingin melepaskan,
separuh masih menoleh ke belakang.
Seperti musim yang tak kunjung usai,
aku belajar menerima,
bahwa tidak semua yang menyakitkan
berhasil berhenti kucintai.

