Hits: 7

Siti Farrah Aini

“Duluan, ya, Dam,” pamit Satria sembari menepuk bahu Adam, teman dekatnya di kantor.

Lelaki berusia 28 tahun yang kini keluar dari gedung kantor itu bernama Satria. Hari ini adalah hari terakhirnya lembur di kantor setelah seminggu lebih seperti robot. Meski akhirnya ada sedikit jeda di antara hari yang sibuknya ada saja, tetapi apa daya sudah akhir bulan. Satria harus segera mengatur lagi finansialnya, memastikan ia dan orang-orang yang ia tanggung tercukupi hingga bulan depan.

Pekerjaannya memang sudah bercelah, tetapi kehidupannya semakin terasa begah.

Ia bukan langsung pulang, melainkan berbelok di pertigaan jalan. Lantas, ikut mengantre bersama orang-orang yang mungkin senasib dengannya: mengecek saldo di akhir bulan. Begitu tiba gilirannya, dengan lihai ia menekan angka demi angka pada mesin penyimpan uang. Setelah menunggu mesin itu bekerja, deretan nominal miliknya terpampang jelas.

Masih cukup untuk Tara dan Nenek,” batinnya.

Ia mengambil nominal yang tak banyak, berniat membeli kebutuhannya yang semakin menipis. Beberapa dari nominal itu ia kirim kepada sang adik, Tara, dan neneknya yang tinggal di kota sebelah.

Beranjak dari sana, Satria mampir ke minimarket yang tak jauh dari tempat sebelumnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi dengan sebungkus kresek. Kebutuhan yang dimaksud adalah beberapa kopi kaleng untuk amunisi bekerja, bungkusan mi instan, sebungkus roti tawar, dan bubuk teh. Jika sudah akhir bulan, ia berhemat hingga tengah bulan berikutnya. Lalu, mengulangi siklus yang sama lagi.

Sedikit lagi, sampai Tara lunas uang kuliahnya,” batinnya, lagi dan lagi.

Satria bukan tak punya cukup uang, tetapi ia digempur banyak pengeluaran. Belum selesai soal finansial, tuntutan hidup lainnya juga mengejar. Satria memang tak terlalu mengindahkan segala tuntutan itu, tetapi yang namanya tuntutan tetap saja bagian dari fase kehidupan. Ada kalanya ia sudah harus punya rumah dan kendaraan sendiri, mungkin juga berumah tangga.

Satria sedikit memijat pelipisnya, membuang pikiran melelahkan itu. Ia tetap melanjutkan perjalanan pulang ke kos. Perjalanan itu melewati sebuah taman kecil, yang lebih tepat disebut sebagai taman bermain. Kalau sudah sore, anak-anak mulai berkumpul, membentuk lingkarannya masing-masing. Yang laki-laki bermain bola, yang perempuan bermain masak-masakan. Ada juga yang mengantre untuk membeli jajanan di area taman. Seperti yang saat ini ia saksikan.

“Enak, ya, kalau antrenya untuk beli es krim, bukan ngecek saldo,” gumamnya sambil melihat taman yang dipenuhi anak-anak itu.

Ia sempatkan mampir ke penjual es krim keliling yang mangkal di taman, berniat membeli satu cup es krim seharga Rp5.000-an itu. Namun, matanya menangkap seorang anak perempuan, dengan bedak yang memutihkan hampir seluruh wajah. Ia bersungut kecil, memandangi … mungkin teman-temannya, yang sudah menenteng es krim di tangan.

Wlee! Enggak bisa makan es krim!” ledek seorang anak laki-laki dengan corong es krim di tangannya.

“Jahat! Aku bisa makan es krim, kok!” sungut anak perempuan itu.

“Aku kasih tahu ke Tante Ara, ah!” timpal anak laki-laki itu lagi, “Lariiii!”

Sebelum si anak perempuan itu bersiap untuk memukul, anak laki-laki dan rombongannya itu sudah berlari ke arah taman.

Satria menggeleng kecil, memaklumi keusilan itu. Kini, pandangannya beralih ke si anak perempuan. Ia mendekat, lalu berjongkok supaya setara dengan tinggi anak itu.

“Memangnya kalau beli es krim, kenapa? Kamu dilarang sama ibu kamu?”

Si anak perempuan melihat Satria, sedikit takut menjawab. Namun, akhirnya ia membuka mulutnya. “Kata Mama, Hani enggak boleh makan es krim karena baru batuk. Kalau makan es krim diam-diam, entar si Didi bilang ke Mama. Dia orangnya cepu!”

Nama anak itu Hani. “Kalau gitu, aku beliin jus jeruk buat Hani, mau? Enggak usah pakai es batu biar enggak batuk lagi.”

“Enggak mau. Hani enggak suka kalau enggak ada es-nya.”

Hani terlalu mirip seperti Tara semasa kecil, sehingga Satria tak berhenti membujuknya. “Ya udah, deh. Kalau gitu, aku beli sendiri aja. Hani, kan, enggak mau.”

Baru beberapa detik ia beranjak dari jongkok, Hani menarik ujung bajunya. Yah, Satria sudah menduga hal ini akan berhasil, anak kecil mana yang menolak makanan atau minuman manis?

Dua cup jus jeruk tanpa es batu sudah ada di tangan Satria dan Hani. Si anak kecil itu sedang asyik menyeruput jus jeruk, sementara Satria masih memegangnya dengan utuh. Keduanya duduk di bangku taman.

“Makasih, ya, Kak. Hani jadi bisa jajan, deh. Jadi Kakak enak, ya, bisa beli apa aja, bisa beliin Hani juga. Sama kayak Kakak Hani di rumah,” ujarnya mengalir begitu saja.

“Hani mau cepat-cepat besar aja. Selain biar bisa beli jajan sendiri, juga supaya enggak diejekin Didi mulu!

Satria tersenyum kecil. Mungkin bagi anak-anak, membelikan satu cup jus jeruk sudah luar biasa, tetapi baginya ini adalah hal kecil yang dapat dibelinya kapan saja. Anak-anak lebih menghargai hal kecil sebagai sesuatu yang hebat.

“Kakak-nya Hani sering beliin jajan?” tanggap Satria mengikuti bicara Hani.

Hani meletakkan cup itu di samping kanannya. “Sering, apalagi es krim! Tapi, Kakak enggak dibolehin Mama kasih es krim ke Hani lagi. Katanya, Hani jadi batuk karena es krim. Hani memang udah batuk beberapa kali, sih, tapi, kan, Hani cuma mau jajan…”

“Kalau udah besar, pasti enak. Enggak gampang sakit, enggak diatur-atur lagi,” pungkasnya.

Satria sedikit terbatuk mendengarnya. Teringat bahwa ia sudah kurang istirahat dengan maksimal tidur hanya tiga jam per hari dalam seminggu ini, makan mi instan lagi dan lagi, dan minum obat pereda nyeri kepala entah berapa kali. Tidak ada yang mengingatkan untuk makan dan istirahat.

Kan, Mama Hani ngomong gitu biar Hani enggak jadi makan es krim terus. Segala yang berlebihan itu kurang baik, Hani,” ujar Satria.

Hani justru tampak berpikir sembari menunjuk pipinya. “Memangnya iya, ya, Kak? Apa Hani kebanyakan makan es krim, ya?”

Satria tak menjawab itu. Biarlah anak kecil itu bermain dengan pikirannya. “Memangnya Hani udah tahu kalau besar nanti mau jadi apa?”

Tau! Hani mau jadi pramugari, biar bisa keliling dunia pakai pesawat, terus punya uang banyak. Jadi, bisa main ke mana aja, terus jajan sebanyak-banyaknya.”

Inilah yang Satria suka dari anak-anak, mimpi mereka selalu besar.

“Kalau Kakak mau jadi apa?”

Pertanyaan Hani sedikit membuat Satria sakit kepala. Yah, baginya hidup saja sudah cukup.

“Aku jadi apa aja, deh, yang penting bisa makan es krim kayak Hani.”

Hani mengangguk-angguk setuju. Di kepalanya, bisa makan es krim sepuasnya itu juga tujuan hidup.

“Aku justru pengin jadi Hani, deh. Hani bisa main waktu sore, jajan sama teman-teman, apalagi masih ada mama yang ingatin Hani buat istirahat. Nikmati aja waktu Hani yang sekarang. Mau masih anak-anak kayak Hani atau udah besar kayak aku, tetap ada tantangannya, kok. Kalau waktu bisa diputar, aku pengin jajan, main, dan tidur siang sepuasnya,” ucap Satria seraya menyeruput jusnya sesekali.

“Memangnya kalau udah besar, enggak bisa gitu lagi, ya, Kak?” tanya Hani.

Satria sejenak berpikir. “Bisa, tapi enggak sebebas kayak Hani sekarang.”

“Memangnya kenapa enggak sebebas yang sekarang?”

Satria menggeleng kecil. Begitulah anak-anak dengan segala keingintahuannya. “Nanti Hani tahu sendiri.”

Hani tampak bersungut kecil, tetapi wajahnya terlihat berpikir. Mungkin Satria terlalu banyak menggunakan kata-kata yang tidak sesuai dengan pikirannya.

Satria yang menyadari hal itu, langsung melirik arlojinya. “Hani enggak mau pulang? Udah sore banget, nih.”

Oh, iya! Mama bilang harus pulang sebelum jam enam!” pekik Hani seraya membawa cup jus miliknya dan menuruni bangku taman.

“Kakak, makasih, ya! Hani pulang dulu, nanti kita ketemu lagi, ya!” pamit Hani menjauh, sedikit berlari sembari melambaikan tangannya. Rambutnya seketika mengikuti angin, bergerak-gerak bebas seperti ia dan pikirannya yang masih bebas.

Sekarang, Satria termenung sendiri, mengingat-ingat percakapannya dengan Hani. Anak perempuan itu mengingatkan Satria soal masa kecilnya, berharap bisa mengulangi lagi kehidupan yang masih tanpa beban itu. Ia beranjak pulang, seraya berpikir mi instan varian mana yang diseduhnya malam ini.

Anak-anak ingin lekas dewasa, sementara orang dewasa ingin kembali menjadi anak-anak. Paradoks kehidupan yang membuat kita berpikir: masa mana yang paling menyenangkan? Keduanya menyenangkan, tetapi mungkin dengan catatan. Anak-anak hanya enggak lihat kapan orang dewasa merasa “sakit”. Ada banyak hal yang harus dilewati sampai merasa “sakit” tidak masuk opsi. Sebaliknya, mungkin mereka terlalu sederhana melihat pemikiran sederhana anak-anak karena terlalu menyederhanakannya.

Leave a comment