Hits: 9
Siti Farrah Aini
“Atas nama, Dwinada,” seru seorang barista dengan kepala yang menyembul dari bilik bertanda “deliver”.
Aku beranjak dari kursi tempatku duduk, lantas mengambil pesanan. Sekilas kulihat barista itu, seorang laki-laki dengan tag nama “Andra”. Kugelengkan kepala, wajahnya tak familiar, setidaknya bagiku sang pembeli tetap.
“Terima kasih, Mbak. Selamat beraktivitas kembali,” ujarnya sopan, lalu menutup tingkap kecil yang menutupi biliknya.
Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Ah, lagi-lagi baristanya berganti.
–
Sudah lama sekali sejak aku menemukan kedai kopi yang menjadi favoritku ini. Setelahnya, aku nyaris selalu membeli menu yang sama, sesekali mungkin berganti ke minuman manis. Namun, aku tak pernah mencoba varian menu lain selain kopi yang diberi nama signature yang menjadi favoritku di sini. Alasannya sederhana, kalau sudah suka, tidak akan berpaling hati. Ah, sudah seperti perasaan saja.
Pagi ini, aku tidak berniat mampir ke kedai kopi. Jadwalku di setiap hari Minggu adalah melengkapi perlengkapan di kos, alias belanja bulanan. Tak jauh dari kos, ada sebuah grosir langgananku. Harganya murah meriah, kriteria yang mutlak disukai anak kos.
Aku telah sampai di grosir. Tanganku otomatis menarik sebuah keranjang, lalu mulai menyusuri rak-rak bagian toiletries. Satu per satu kantong produk mulai diambil, sesekali membandingkan harga, varian, dan ukuran. Bagi anak kos, semuanya masuk ke perhitungan.
Gerak kakiku berhenti lagi pada rak minyak goreng. Kulirik-lirik merek yang biasa kubeli dan … kutemukan pada rak yang agak tinggi. Heran, kenapa merek yang biasa berada di rak paling bawah justru pindah ke atas? Tinggiku cuma 158 cm, yang kata orang tergolong pendek!
Di sekitar sini, tidak ada pegawai grosir. Hanya ada seorang laki-laki dengan padanan kaos hitam dan celana denim yang tengah celingak-celinguk di depan rak gula, tak jauh dariku. Rasa-rasanya, kami berdua adalah orang yang sama-sama kebingungan di lorong ini.
Aku tak sudi membeli merek lain yang jauh lebih mahal. Kudekati lelaki itu, sembari memasang muka sesopan mungkin. Tingginya cocok untuk kuminta mengambilkan minyak goreng itu.
“Permisi, Mas,” ujarku sopan.
Lelaki itu menoleh. Aku bisa melihat lesung pipi serta matanya yang berbinar sedang mengarah kepadaku. Ia tersenyum lebar. “Ada yang bisa dibantu, Mbak?”
Aku terkesiap, sebelum akhirnya tersadar kembali. “Maaf, Mas. Saya mau ambil barang, tapi letaknya agak tinggi. Mau tolongin saya buat ambil di rak minyak goreng di sana enggak, ya, Mas?”
“Boleh, Mbak. Barangnya yang mana?”
Ia meletakkan keranjang belanjanya sejenak, lalu bersiap mengekori langkahku. Aku menundukkan kepala. “Terima kasih, ya, Mas.”
Aku menggiringnya ke bagian yang tak terlalu jauh, lalu menunjuk barang yang kumaksud. Dengan sekali coba, ia mengambilkan barang permintaanku.
“Anu, Mbak.”
Aku terhenti sebentar, lalu mendongakkan kepala. “Iya, Mas?”
Ia memegang tengkuknya. “Mbak tahu letak rak deterjen, enggak, ya? Dari tadi saya cari belum ketemu terus.”
Oh, ini alasan dia mondar-mandir di depan rak gula. Aku tersenyum tipis. “Saya, sih, udah hafal letak barang di sini. Kalau deterjen, memang agak di bagian belakang, Mas. Mau saya tunjukkin letaknya?”
“Mau, Mbak,” ujarnya. Lesung pipinya kembali timbul seraya ia tersenyum.
Aku dan … entah, belum tahu siapa namanya, mulai mengitari grosir itu. Sedikit ke arah belakang dan tentu saja, rak deterjen itu terlihat.
“Ah, itu dia yang saya cari. Duh, biasanya Ibu yang beli deterjen, lagi. Harus pilih yang mana, ya?” ujarnya, yang semakin lama seperti bergumam.
Dia bukan orang yang paham berbelanja. “Nah, kalau Mas cari deterjen yang biasa disukai oleh ibu-ibu, saya sarankan ambil yang warna hijau ini. Terus, kalau Mas-nya tinggal sendiri atau ngekos, pilih yang warna biru karena isinya banyak, tapi harganya murah. Saya kasih opsinya, deh.”
Ia tampak mengerjapkan mata. Pilihannya jatuh pada opsi kedua, kusimpulkan bahwa dia anak kos yang baru saja berbelanja di daerah sini. “Yang biru, cocok dengan kondisi saya.”
Aku mengangguk sembari menyaksikan ia memasukkan tiga bungkus deterjen itu. Setelahnya, ia mengulurkan tangannya. “Terima kasih, ya, Mbak, karena sudah bantu saya. Saya memang baru tinggal di sini. Oh iya, nama saya, Pradana. Nama Mbak?”
Aku mengangguk seraya menyambut tangan itu. “Dwinada, bisa dipanggil Nada.”
Oh begitu, Pradana namanya. Lelaki dengan lesung pipi dan senyum lebar itu terasa sangat hangat. Entah mengapa, aku berharap bisa bertemu kembali. Entah di kebetulan atau kesengajaan mana pun itu. Meski aku tahu, harusnya aku tak boleh berharap.
–
Senin pagi, masa paling menyebalkan yang terus kuhadapi. Semua orang semrawut di jalan, menerobos dari sisi mana pun asal tiba di bagian paling depan jalanan. Kusempatkan singgah di kedai kopi langgananku, setidaknya mempersiapkan diri untuk bertarung di jalan.
Kuparkir motor di tempat biasanya dan beranjak ke bilik “order”. Tingkap kecil itu terbuka. Menghadirkan sosok barista yang tak familiar di kedai ini, tetapi sangat familiar di pikiranku. Tag nama yang tertaut di apron coklatnya meyakinkan bahwa nama itu hadir di memoriku.
“Selamat datang. Silakan order-annya, Mbak.”
Aku dan barista itu saling bertatapan. “Eh, Mbak Nada?”
“Halo, Mas. Kita ketemu lagi, ya,” ucapku seraya sedikit melambaikan tangan.
Ia sedikit terkekeh, lalu melanjutkan pekerjaannya. “Silakan Mbak Nada, mau pesan apa?”
“Signature-nya satu, ya. Saya bawa kantong, enggak usah pakai plastik.”
Ia mencatat pesananku di monitornya. “Ini menu andalan di sini, Mbak. Selalu pesan ini?”
“Selama saya jadi pelanggan, saya selalu beli ini, Mas.”
Ia mengangguk-angguk. Aku melanjutkan transaksi, lantas berpindah bagian ke “deliver”. Tak perlu waktu lama, kopi pesananku telah usai. Pradana menjadi barista yang membuat dan menyerahkan pesananku. “Atas nama Dwinada. Signature-nya satu ya, Mbak.”
Aku meraih satu cup kopi pesananku, memasukkannya ke kantong yang kujinjing sedari awal, lalu lekas pergi dari kedai itu. Aku tak ingin memperpanjang bicara, supaya tak menaruh harapan bahwa ia akan terus berada di cabang kedai kopi ini. Baristanya selalu berganti, membuatku merasa Pradana juga akan berpindah dari sini entah kapan itu.
–
Pertemuan kala itu, membuatku selalu menemui Pradana ketika memesan kopi. Ia malah tak lagi menanyakan pesananku, melainkan langsung memasukkannya ke monitor. Pradana selalu membuka topik kala aku datang. Kami juga sudah memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. Aneh kan, jika selalu menggunakan panggilan “saya”, “Mas”, atau “Mbak”? Namun, bolehkah aku menaruh harapan bahwa ia akan terus di sana?
Aku tak bisa mengatakan kami mempunyai hubungan yang dekat, karena aku tahu bahwa suatu saat mungkin Pradana pun tak lagi di sana. Aku benar-benar tak ingin berharap. Namun, belakangan ini, aku selalu lembur hingga larut, sehingga tak sempat mampir ke kedai kopi. Pulang saja sudah mendekati larut malam, bisa-bisa aku terjaga semalaman kalau harus minum kopi.
Entah bagaimana Pradana belakangan ini, masihkah ia ada di sana?
Hari ini, entah kebetulan yang mana lagi, alam seakan menjawab dengan Pradana yang muncul di hadapanku. Kali ini bukan di kedai kopi, melainkan minimarket yang ada di depan gang kosku. Ia terlihat melahap sepotong roti cokelat, dengan jus buah kotak rasa jambu yang kulihat ada di mejanya.
Untuk lagi dan lagi, aku terkesiap. Ia tampak jauh berbeda dari biasanya, atau mungkin karena kami sudah lama tidak berjumpa? Kacamata lensa tipis, kaos hitam, dan topi berwarna krem membuatnya tidak seperti Pradana yang kutemui di grosir dan kukenal sebagai barista.
Aku sengaja tak menyapanya terlebih dahulu. Aku langsung masuk ke minimarket untuk membeli camilan demi mengganjal perut di sore hari, cukup satu cup es krim dua rasa dan minuman perisa buah rasa jeruk. Namun, ia sadar dengan kehadiranku melalui pintu tembus pandang minimarket. Ia melambaikan tangan dan memberi kode untuk duduk di hadapannya.
Aku mengangguk membalas gesturnya. Setelah menyelesaikan transaksi, aku menghampiri Pradana. Jujur saja, aku tak mengerti. Sepertinya Pradana memang terlalu menawan di mataku, sehingga sulit untuk mengalihkan perhatian darinya.
“Sini, Na,” sapanya sembari mempersilakanku untuk duduk.
Aku tersenyum, lalu duduk tepat di kursi berhadapan dengannya. Pradana berhasil membuat jantungku terasa ingin meledak, untuk ke-sekian kalinya.
“Udah lama enggak ketemu, ya, Na,” sapanya membuka topik pembicaraan, “Terakhir kali kamu mampir, dua minggu yang lalu, tuh. Aku ingat.”
Aku membuka tutup cup es krimku. “Iya, ya. Aku jarang mampir karena belakangan ini lembur sampai larut. Hari ini aku off, jadi bisa istirahat sedikit, deh. Nanti aku mampir lagi, ya,” jawabku riang.
Pradana menyunggingkan senyumnya. “Aku bakal ada pergantian shift untuk minggu depan, jadi aku masuk kerja di waktu siang ke sore gitu, Na.”
“Oh iya? Bagus, dong. Enggak perlu berangkat kerja pagi-pagi banget, kan?” tanggapku dengan … biasa. Kali ini, dia juga akan pergi, kan?
Pradana membenarkan letak kacamatanya. “Iya, tapi … kamu selalu beli kopi jam 9 pagi, kan, Na?”
Aku dan Pradana saling bertatapan. “Enggak selalu, Dan. Kalau aku ingin waktu sore, bisa mampir di waktu itu juga. Memangnya kenapa?”
Ah, dia hanya berganti shift? Bukan berganti lagi?
Pradana sejenak meneguk jus buah kotak di hadapannya, lalu meletakkannya lagi. “Aku selalu nungguin kamu, Na, setiap jam 9 pagi.”
Seketika lidahku terasa kelu.
“Kamu tahu, aku hafal kapan kamu pesan apa dari raut wajah kamu. Kalau kelihatan lelah, aku langsung input matcha latte. Kalau kamu lagi senang seperti biasanya, pasti kamu pesan signature.”
“Kamu memang enggak mampir setiap hari, tapi aku hafal hari-hari saat kamu mampir. Aku … enggak mau kehilangan kesempatan buat ketemu kamu setelah aku berganti shift,” ujarnya.
Pradana tak menatap ke arahku. Ia mengalihkan pandangan sembari memegang tengkuknya. Sekarang, seluruh wajahnya resmi tertutupi dengan topi di kepalanya.
Aku? Tentu, terdiam seribu bahasa. Apa yang harus kukatakan?
“Maaf kalau tiba-tiba aku jadi serius, ya, Na. Kamu … pasti bingung.” ungkapnya memecah keheningan.
“Entah sejak kapan, tapi aku mau berlama-lama kalau sama kamu. Kamu harus tetap mampir walau pun enggak beli kopi di shift aku, ya?”
Padahal ini hanya sekadar pergantian shift, tetapi tidak menjadi “sekadar” lagi ketika Pradana mengatakan hal demikian padaku.
Aku memberanikan diri membuka mulut. “Aku pengin kamu jujur dan langsung ke intinya aja, deh, Dan.”
Pradana menegakkan kepalanya, membenarkan topi yang sedikit turun akibat menunduk. “Kamu udah punya ruang di hatiku, Na. Ehm, kamu keberatan kalau aku minta kamu berbagi hari-harimu ke aku mulai sekarang?”
–
Aku selalu percaya kalau di setiap pertemuan, akan selalu ada yang hanya singgah, kemudian pergi. Akan selalu ada yang datang, lalu hilang tanpa berpamitan. Untuknya, aku tak pernah berharap. Namun, kali ini ada yang datang bukan untuk pergi, melainkan mengisi bagian yang tak pernah kupercayai.
Seperti barista yang selalu berganti, mereka meyakinkanku bahwa besok mungkin ada saja yang tak muncul lagi, digantikan oleh barista lain yang mengisi tempat kosong itu lagi dan lagi. Namun, Pradana hadir, menjadi yang menetap tanpa pergi, mengisi hal yang sudah tidak kuharapkan. Semoga musim ini bisa menetap, tanpa pernah berganti.

