Musim penghujan telah tiba. Selain kenangan bersama mantan yang kembali menguap ke permukaan, ingatan tentang si keriting kuning lezat yang disajikan dengan kuah hangat, irisan sayuran, dan cabe rawit yang dijual di warkop persimpangan jalan pun juga bikin merindu. Masih dengan si keriting, namun dengan varian yang berbeda. Varian yang disajikan dengan lebih kering dan berminyak, serta kecap yang banyak dan telur ceplok di atasnya. Mmm… siapa yang berani menolak?
Menghabiskan banyak waktu di kampus itu menyenangkan, baik belajar di kelas, penelitian, berorganisasi, bimbingan dengan dosen, serta bercengkerama bersama teman-teman seperjuangan. Hal tersebut sudah menjadi keseharian, bahkan keharusan bagi seorang mahasiswa yang ingin segera menyelesaikan perjalanan panjangnya di dunia pendidikan. Ibarat baju dengan celana, seperti itu pula hubungan mahasiswa dengan kampusnya. Dua hal yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan.
Pada dasarnya, menjalin hubungan harus dipenuhi oleh rasa saling peduli dan mengasihi. Sebab, hubungan dengan tindakan kekerasan, baik fisik atau non-fisik, hanya akan merugikan satu pihak.
Dan merayakan kehilangan yang terindah adalah saat kita merasa bodoh, dan bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan “Mengapa aku baru dipertemukan denganmu setelah aku merasakan luka yang begitu dalam?”
Berbicara di depan umum adalah kegiatan yang sulit untuk dilakukan sebagian orang. Belum lagi, jika kita harus berbicara di depan khalayak ramai dalam kondisi kurang kondusif. Semua rasa menjadi satu, mulai dari rasa gugup, takut, hingga rasa cemas lupa akan bahan materi.
Brexit The Uncivil War adalah sebuah film bergenre drama sejarah berdasarkan kejadian nyata yang terjadi pada 23 Juni 2016 di Britania Raya, mengenai referendumnya untuk keluar sebagai keanggotaan Uni Eropa. Pada peristiwa ini, seluruh warga Britania Raya berusia 18 tahun ke atas memberikan hak suara mereka untuk memilih nasib yang akan memenangkan referendum Brexit. Pilihan antara Britania Raya tetap menetap ataukah harus memisahkan diri meninggalkan keanggotaan Uni Eropa.
Hits: 27
Wanita berkacamata dengan paras yang cantik ini terlihat seperti wanita pada umumnya. Namun siapa sangka, di balik keanggunannya, ia memiliki hati yang mulia dan semangat yang patut dibanggakan. Begitulah sosok Faradila Umaya Nasution, wanita muda pejuang pendidikan. Ia pendiri Biru Langit Education, sebuah komunitas yang bergerak pada pengembangan dan pelatihan pendidikan non-formal untuk anak-anak serta pemuda di Sumatera Utara, khususnya bagi mereka yang putus sekolah.
Batik Indonesia memiliki ciri khas yang dapat dikatakan sangat berbeda dari batik-batik negara lain. Ciri khasnya pun tak dapat dicontoh oleh negara lain juga.
Pariwisata Indonesia merupakan sektor potensial yang berkontribusi banyak bagi devisa negara. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama, melalui paparannya dalam rapat kerja bersama DPR pada Januari lalu menyatakan bahwa sektor pariwisata Indonesia pada tahun 2019 lalu menyumbang sebesar Rp 280 Triliun atau setara dengan 5,5% dari PDB Nasional. Hal tersebut menunjukkan begitu besarnya potensi pariwisata bagi perekonomian Indonesia.
