Yulia Kezia Maharani / Annisa Van Rizky

Pijar, Medan. Pernahkah kamu menonton sebuah film dokumenter? Perlu kita ketahui bahwa film dokumenter merupakan film yang dibuat berdasarkan realitas sebuah peristiwa di kehidupan. Ciri khas yang dimiliki oleh film dokumenter ini adalah mendokumentasikan hal-hal berdasarkan fakta yang berhubungan dengan tokoh, peristiwa, serta lokasi yang nyata. 

Untuk mengenal film dokumenter lebih dalam dan luas lagi, Laboratorium Ilmu Komunikasi (LIK) menyelenggarakan Workshop tentang Film Dokumentasi pada (19/11), yang dimulai dari pukul 08.30-12.30 WIB melalui platform Zoom meeting. Pada kesempatannya, workshop ini mengundang narasumber Onny Kresnawan, seorang Ketua Asosiasi Dokumentaris Nusantara Koordinator Daerah Medan yang dipandu oleh Haris Wijaya, S.Sos., M.Comm sebagai moderator.

Di awal kegiatan, Onny menjelaskan bahwa film dokumenter dahulu hanya dibuat untuk kebutuhan penelitian maupun hal-hal yang berbau ilmiah. “Berbeda dengan film bergenre fiksi, film dokumenter tidak menciptakan peristiwa atau kejadian akan tetapi merekam peristiwa yang sudah terjadi,” tegas Onny.

Seiring perkembangan waktu, film dokumenter semakin banyak diproduksi dan memiliki beragam tipe baik dalam penelitian maupun sarana hiburan. Pada bagian materi, dijelaskan bagaimana dasar-dasar pembuatan film dokumenter, seperti metode-metode pembuatan antara lain: merekam langsung, merekonstruksi ulang cerita, dan membangun benang merah cerita tetapi bukan membuat fakta baru. 

Film dokumenter juga memiliki tipe-tipe, seperti Expository yaitu film yang menggunakan narasi dan biasa dipakai dalam dokumentasi televisi, Observational yaitu film yang tidak menggunakan narasi namun lebih menekankan pada gambaran kehidupan secara langsung, dan tipe gabungan keduanya yang menggunakan narasi dan juga tutur subjek. Adapun jenis-jenis dari film dokumenter tersebut antara lain berupa laporan perjalanan, biografi, sejarah, investigasi, ilmu pengetahuan, perbandingan dan kontradiksi, musik, dokudrama, dan lain-lain.

Workshop ditutup dengan foto bersama pemateri dan peserta melalui platform zoom (19/11/20) (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)
Workshop ditutup dengan foto bersama pemateri dan peserta melalui platform zoom (19/11/20) (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

Film dokumenter juga memiliki berbagai kompleksitas dalam pembuatannya. “Membuat sebuah film dokumenter yang baik dapat dilakukan melalui kesederhanaan itu sendiri tetapi mampu menangkap fenomena yang terjadi di lingkungan kemudian menciptakan sebuah ide dan meraciknya sendiri sampai dengan luar biasa,” ucapnya dalam menjabarkan sistematika pembuatan film dokumenter.

Gregorius Fernand yang merupakan salah satu peserta mengungkapkan bahwa Workshop film dokumenter ini sangat menarik dan menambah wawasan dalam dunia perfilman khususnya film dokumenter. “Jadi dengan mengetahui perbedaan antara film fiksi dengan dokumenter, para mahasiswa nantinya dapat membuat film tidak hanya dari genre fiksi saja melainkan bisa membuat film dari tema dokumenter juga,” ungkapnya.

Saat ini, film dokumenter juga sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat pada dunia industri. Film dokumenter sekarang sudah sangat komersial. Hal ini ditandai dengan masuknya film dokumenter ke bioskop dan menyaingi film-film fiksi. Diharapkan ke depannya karya-karya film dokumenter semakin banyak untuk memajukan industri perfilman Indonesia dan dapat dibawa ke kancah internasional.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment