Yoga Tri Haditya / Sulisintia Harahap

Pijar, Medan.  Penerbitan Kampus Identitas Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyelenggarakan virtual training Google News Initiative (GNI) 2020  dalam rangka Dies Natalis PK Identitas Universitas Hasanuddin yang ke-49, dengan mengungsung tema “Bundel Kisah dalam Memoar Identitas”. Acara ini berlangsung selama empat hari berturut-turut sejak Selasa (16/11) hingga Kamis (19/11) melalui  platform Google Meet.

Penerbitan Kampus (PK) Identitas Universitas Hasanuddin (UnHas) merupakan salah satu pers kampus tertua di Indonesia, yang masih aktif hingga saat ini dalam menyuguhkan berita atau informasi seputar UnHas bagi seluruh mahasiswa. Kehadiran PK juga sejalan dengan AJI yang merupakan organisasi profesi jurnalis yang didirikan oleh para wartawan muda Indonesia. Dengan itu, acara ini diadakan dengan tujuan untuk bekerja sama dan mengembangkan softskill para mahasiswa khususnya Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia yang telah diundang pada kelas pelatihan ini. 

GNI merupakan kegiatan yang berkomitmen untuk memberdayakan indonesia dalam bidang jurnalistik. Di dalam kegiatan ini terdapat 8 kelas materi yang dibagi ke dalam 2 sesi (pagi dan siang) perharinya. Dengan menghadirkan pemateri yang merupakan bagian dari Aliansi Jurnalis Independen yaitu Aribowo Sasmito yang juga merupakan Co-Founder and Head of Fact Chacker, kemudian juga ada Sunarti Sain selaku Pemimpin Redaksi harian Radar Selatan.

Pada hari Kamis (19/11) yang merupakan hari terakhir dari kelas pelatihan ini, ditutup dengan materi terakhir yang membahas tentang Etika Bekerja sebagai Pengecek Fakta dan Digital hygiene. Di dalam sesi terakhir ini, Aribowo memberi tips bagaimana cara yang dapat dilakukan agar akun sulit untuk diretas, salah satunya adalah menggunakan kunci ganda. 

“Nah kalau kita mengunci ganda seperti meletakkan password lalu nomor token, contohnya akun media sosial yang kita punya, itu akan sulit diretas. Karena ketika akun kita diretas orang, mungkin itu hanya password-nya saja tetapi tidak dengan tokenya, yang tahu tokennya berapa kan kita. VPN yang kita pakai juga bisa asal jangan yang gratis ntar sama aja bisa diretas data kita,” jelas Aribowo.

Fikri Mauluddin sebagai salah satu peserta dari mahasiswa jurusan Sosiologi Agama  UIN Alauddin Makassar mengatakan, “menurut saya pelatihan ini sangat menarik karena pematerinya yang interaktif dan pembawaannya yang mudah dimengerti. Selain itu yang membuat saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena tema pelatihan ini membahas tentang bagaimana kita mengetahui dis-misinformasi yang perlu kita ketahui di era digitalisasi,” terangnya.

Selain mendapatkan pengetahuan di bidang jurnalistik, peserta juga mendapatkan e-certificate bagi peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai.

“Saya berharap semua peserta yang ikut, khususnya para pers mahasiswa dapat menghasilkan karya jurnalistik lebih berkualitas. Bisa mendapatkan fakta-fakta dengan mudah karena sudah tahu caranya dan juga dapat mengecek hoaks karena sudah diberitahu cara menangkal dan membuktikannya,” harap Risman selaku ketua panitia.

(Editor: Erizki Maulida Lubis) 

 

Leave a comment