Laura Nadapdap / Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Perkembangan budaya asing di Indonesia semakin mengkhawatirkan bagi perkembangan budaya nasional. Hal ini dapat dilihat dari maraknya budaya asing di negara Indonesia, mulai dari segi musik, tarian, film, makanan, acara pertunjukan, dan lainnya. Hal ini tentu berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, sehingga secara alamiah masuknya budaya asing semakin tidak dapat dihindari.

Mengenai hal tersebut, Solopos FM mengadakan talk show yang mengangkat tema “Komunikasi Hebat” pada 18 November 2020 melaui platform Zoom meeting, Youtube resmi Solopos FM, dan live streaming melalui www.soloposfm.com yang dimulai dari pukul 16.00 Wib – 17.00 Wib.

Talk show kali ini mengundang tiga narasumber. Narasumber pertama Addie MS seorang musisi senior terkenal, kedua Prof. Lusiana Andriani Lubis selaku dosen Ilmu Komunikasi Fisip USU sekaligus pakar Ilmu Komunikasi khusus mahasiswa Antar Budaya, ketiga ada Gusti Moeng seorang pelestari budaya. Sesuai dengan temanya, talk show kali ini memang bertujuan untuk melihat bagaimana kita menanggapi masuknya invasi budaya asing yang semakin marak dari waktu ke waktu.

Menurut Addie MS, semua bangsa pasti mengalami invasi budaya. Ia berkembang secara tidak statis dan terus bergerak serta berakulturasi. Bahkan budaya Indonesia sendiri pun juga mendapat pengaruh dari berbagai budaya lain, seperti Cina dan Arab.

“Keadaan saat ini sangat memprihatinkan untuk mengenali identitas bangsa kita sendiri. Kita lagi kecanduan drakor, K-Pop, apa-apa barat, apa-apa Eropa. Kita lagi berada di pergeseran budaya yang menarik sekali,” tutur Addie.

Addie MS juga menekankan bahwa peran pemerintah masih kurang dalam perhatian pelestarian budaya nasional. Pemerintah selayaknya turut mendukung pengolahan seni budaya yang merupakan aset negara ini. “Indonesia memiliki setidaknya satu saja aula konser. Sehingga musiknya dapat dikenal seluruh dunia, seperti orkestra Malaysia dan Singapura yang masuk pada peta dunia,” tambahnya.

Di sisi lain, Prof. Lusiana selaku pakar ilmu komunikasi menjelaskan bahwa budaya dalam perspektif Ilmu Komunikasi dapat dilihat dari sisi positif dan negatif, tergantung cara pandang seseorang dalam menyikapinya. “Dari sisi positif kita tentu harus kreatif dan inovatif. Kaum millenial pasti akan berlomba-lomba untuk tidak ketinggalan dengan mencari informasi tentang apa saja yang terjadi di belahan dunia lain,” pungkasnya.

Dari sisi negatif, Prof. Lusiana memberikan ilustrasi mengenai seorang anak yang meminta orangtuanya untuk memanggilnya turun dari lantai atas untuk sarapan melalui via WhatsApp saja, walaupun masih berada dalam satu atap. Tentu hal ini memang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional Indonesia.

“Tidak ada gunanya kita menunggu, mengeluh, dan mendatangi pemerintah untuk memberontak adanya invasi budaya asing ini. Melainkan kita sebagai milenial-lah yang harus menghadirkan gebrakan baru untuk tetap melestarikan budaya nasional,” tutupnya mengakhiri.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment