Nathasya Lydia / Zain Fathurrahman

Whatever will be, will be

The future is not ours to see, que sera sera.”

Pijar, Medan. Apabila lirik tersebut dinyanyikan kepada orang-orang, sangat kecil kemungkinannya mereka tidak mengetahui tentang lagu tersebut. Penggalan lirik di atas merupakan bagian chorus dari lagu “Que Sera Sera” yang diciptakan pada tahun 1956 silam. Lagu ini diciptakan oleh Jay Livingston dan Ray Evans yang kemudian dipopulerkan oleh penyanyi dan aktris kenamaan Amerika Serikat, Doris Day.

Istilah Que Sera Sera dipercaya berasal dari istilah dalam bahasa Italia ‘che sarà sarà’ yang berarti ‘apa yang terjadi, terjadilah’ pertama kali didokumentasikan pada abad ke-16 sebagai slogan heraldik Inggris. Istilah ini digunakan sebagai slogan keluarga oleh John Russell, Pangeran Bedford yang pertama dan juga anaknya Francis Russell yang merupakan Pangeran Bedford kedua.

Istilah ini kemudian diadaptasi oleh Jay Livingston dan Ray Evans ke dalam kaidah penulisan bahasa Spanyol menjadi ‘Que Sera Sera’ yang kemudian dinyanyikan oleh Doris Day dalam film yang berjudul The Man Who Knew Too Much dalam adegan di mana anaknya sedang diculik.

Tiga verse dari lagu ini menceritakan perkembangan kehidupan si narator, mulai dari masa kecilnya, masa muda dan percintaannya, hingga ketika ia menjadi seorang ibu. Masing-masing mempertanyakan tentang ‘akan jadi apa aku nanti?’ dan ‘apa yang akan dihadapi?’. Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab secara berulang di dalam chorus dengan ‘apa yang terjadi, maka terjadilah’.

Rasa keingintahuan dan penasaran sudah menjadi sifat alami manusia. Hal ini dapat menyebabkan rasa khawatir dan kegelisahan bahkan stres tentang hal-hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia, salah satunya adalah masa depan. Bagi sobat Pijar yang sedang memiliki kegelisahan yang sama, mendengarkan lagu ini dapat menenangkan dan membantu untuk menjernihkan pikiran.

Pengulangan lirik “Que Sera Sera, what ever will be will be. The future not us to see, Que Sera Sera juga bukan semata-mata pelengkap lagu, tapi juga agar para pendengarnya menyoroti bagian itu sebagai makna yang tersurat pada lagu tersebut. Lirik ini dimaksudkan agar kita tidak melulu hidup dalam ketakutan akan ketidakpastian masa depan, melainkan agar kita lebih menghargai setiap momen dan proses kehidupan yang sedang berlangsung serta menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Dalam prosesnya, lagu “Que Sera Sera” ini menorehkan beberapa penghargaan dan prestasi berupa lagu peringkat kedua dalam Billboard Hot 100, peringkat pertama pada UK Singles Chart, dan memenangkan Academy Awards (Oscars) sebagai Best Original Song pada tahun 1956. Lagu ini juga kerap kali dijadikan sebagai background music pada iklan atau video yang berhubungan tentang optimisme terhadap masa depan. Liriknya yang sederhana dan mudah dipahami juga mendukung penyampaian pesan dari lagu tersebut dengan baik.

Melalui lagu ini, kita diajarkan untuk tidak jatuh terlalu dalam pada kecemasan-kecemasan kita, terutama tentang masa depan. Apapun yang akan terjadi, maka terjadilah. Kita tidak memiliki kewajiban apapun untuk menerawang masa depan tersebut. ‘Akan sukseskah aku di masa depan nanti?’, ‘bagaimana jika aku gagal?’, ‘bagaimana jika yang terjadi nanti tidak sesuai dengan harapanku?’ buang pertanyaan-pertanyaan seperti ini sejauh mungkin. Berfokus dan berusahalah pada kehidupan kita yang sekarang sedang terjadi, niscaya masa depan akan baik-baik saja.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment