Ketika dua orang bersaudara berjanji untuk saling mengasihi dan melindungi
Hangatnya perapian malam
Membawaku akan hangatnya kebersamaan kita
Kesejukan aliran mata air kebahagiaan
Mengingatkanku pada sejuknya berbagi tawa
Terkadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Dari situlah kebahagiaan bermakna, salah satunya keluarga. Apa yang dialami Ria memang biasa terjadi kepada banyak orang. Hanya saja untuk meraih semuanya membutuhkan perjuangan dan perjalanan yang panjang.
Minggu penghujung musim kemarau
Menyembul awan kumulonimbus yang berhembus
Seketika kelam
Ini hari terburukku. Kupikir bangun kesiangan karena alarm tidak berbunyi, hampir ditabrak mobil saat menyebrang dan diusir dari kelas karena telat semenit sudah cukup buruk untuk memulai hari. Ternyata itu hanya permulaan. Ya, permulaan untuk memulai kegilaan yang sebenarnya.
Aku tidak butuh validasi agar orang menganggapku cantik. Lagi pula, ini sudah abad 20, siapa yang peduli dengan standar kecantikan?
Fahombo (Lompat Batu) dari sejarahnya lahir karena sering terjadinya perang antarsuku di tanah Nias. Namun, eksistensi lompat batu yang sekarang menjadi media wisata sedang dalam ambang kepunahan.
Olahan kolang-kaling yang manis pasti sudah tidak asing lagi di lidah para penikmatnya. Namun bagaimana jika diolah menjadi makanan yang gurih, pedas, dan menggunakan bumbu rendang khas minang?
Jam terus berputar detik demi detik. Bahkan sekarang sudah 1 jam berlalu semenjak ayahnya dikebumikan. Tapi temanku Ebi, masih membisu di makam ayahnya sambil terpaku meratapi nisan yang bertuliskan nama almarhum, apa yang sebenarnya ia pikirkan?
Banyak orang yang memilih untuk diam sebagai pelampiasan ketika frustasi, marah, kesal bahkan jika kewalahan menghadapi suatu permasalahan. Namun, apakah hal itu sudah tepat?
