Hits: 33

Ainayyah Safliasha Utami / Cut Tasya Salsabila

Pijar, Medan. Peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 17 Oktober. Gerakan ini berasal dari politikus asal Prancis yang hingga akhirnya diresmikan oleh PBB pada tahun 1992. Adapun tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Membangun Kemajuan Bersama: Mengakhiri Kemiskinan Akut, Menghormati Sesama dan Planet Kita”.

Sejak pandemi Covid-19, kinerja ekonomi Indonesia mengalami keterpurukan hingga berdampak terhadap bertambahnya pengangguran dan meningkatnya  kemiskinan di Indonesia termasuk Sumatra Utara. Meskipun sempat mengalami penurunan, namun tingkat kemiskinan tersebut tetap berada di atas tingkatan sebelum pandemi. Hal ini dikarenakan menipisnya lapangan pekerjaan, banyaknya perusahaan yang bangkrut, karyawan yang terkena PHK, dan faktor lainnya.

Menurut data yang diperoleh dari BPS, jumlah data kemiskinan di Sumatra Utara pada Maret 2020 mencapai 1,28 juta penduduk, sementara pada September 2020 mengalami kenaikan hingga 1,36 juta penduduk, dan sempat mengalami penurunan pada Maret 2021 menjadi 1,34 juta penduduk.

Keadaan yang naik turun ini membutuhkan lirikan dari pemerintah daerah setempat untuk menangani kenaikan angka kemiskinan agar angka tersebut tidak terus melejit naik bahkan sampai tidak dapat dikendalikan.

Dilansir dari antaranews.com, pemulihan ekonomi Sumatra Utara pada tahun 2021 sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional sehingga sejumlah strategi harus segera dilakukan mulai dari Januari 2021.

Pertama, fokus dalam ketegasan intruksi protokol kesehatan dan pemberian vaksin agar mengurangi kekhawatiran masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga dapat perlahan tumbuh menjadi optimal. Kedua, refocusing terhadap program kegiatan prioritas pembangunan sumut agar anggaran dapat lebih efisien dan efektif untuk pencapaian sasaran pembangunan. Ketiga, penyerapan anggaran pemerintah daerah yang berjalan lebih cepat dan produktif.

Keempat, mendorong pembangunan usaha unggulan dengan mengembangkan lapangan usaha seperti lapangan usaha pertanian, industri pengolahan kontruksi efek ganda panjang di Sumatra Utara, dan tentunya sektor pariwisata melalui usaha hotel dan restoran serta transportasi. Kelima, mempermudah serta memberi pajak/retribusi, kepastian, kenyamanan dalam produksi, dan promosi potensi investasi sumut berkoordinasi dengan kabupaten dan kota.

Keenam, meningkatkan investasi yang memfokuskan kepada Human Capital Development untuk menciptakan SDM yang berkualitas di bidangnya. Kemudian yang terakhir, mempertahankan daya beli kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam hal ini, kontribusi yang dibutuhkan cukup besar karena kemiskinan sendiri bukanlah masalah yang mudah untuk diatasi. Namun, bukan berarti juga upaya penanganan kemiskinan tidak dapat berbuah hasil. Menangani kemiskinan di Sumatra Utara bukan hanya bermakna membangun daerah agar lebih maju, tapi juga mendukung kegiatan masyarakatnya agar lebih makmur dan memiliki kehidupan yang terjamin.

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

Leave a comment