Nathasya Lydia Nehemia Sianipar

Pijar, Medan. Sosok Sakhyan Asmara mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara. Ia merupakan seorang dosen yang menginspirasi banyak mahasiswanya dengan segudang prestasi yang ia miliki.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, ia telah bergabung menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) majalah dinding terbitan OSIS SMA BOPKRI III Yogyakarta. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan bergabung serta menjabat sebagai Pemimpin Umum (PU) di surat kabar Buana Mahasiswa di Universitas tempatnya berkuliah. Di masa pendidikannya, ia juga menjadi pendiri Organisasi Pemuda Pancasila di Provinsi D.I.Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan perkuliahannya pada 1983, ia berhasil meraih salah satu dari beberapa cita-citanya untuk menjadi tenaga edukatif, eksekutif, dan legislatif. Saat pertama kali menjadi tenaga edukatif, ia bekerja sebagai dosen bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Kemudian pada tahun 2002-2005 silam, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana strata 2 di Universitas Sumatera Utara dengan indeks prestasi sempurna, yang berlanjut pada strata 3 di tahun 2010-2016 di Universitas Indonesia.

Menelaah kembali pada waktu silam, ada banyak sekali riwayat karier dan jabatan yang dimiliki oleh sosok Sakhyan Asmara. Beberapa di antaranya pada tahun 1987-1995, ia menjadi perintis berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan dan menjabat sebagai Pembantu Ketua I.

Di tahun 2000 hingga 2001, Sakhyan Asmara sempat menjabat sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kemudian berlanjut di tahun 2010 hingga 2015, ia mengemban tugas sebagai Deputi Menpora RI Bidang Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga RI, disusul dengan menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan di tahun 2017-2021

Tidak hanya dipercayakan dengan mandat pekerjaan dan jabatan, sosok Sakhyan Asmara juga pernah mendapatkan berbagai penghargaan di kancah nasional. Seperti pada tahun 2006, mendapatkan penghargaan Anugerah Satya Lencana untuk pengabdian 20 tahunnya dari Presiden RI. Kemudian pada tahun 2009, ia juga diberi penghargaan sebagai kontributor kemajuan teater Indonesia dari Federasi Teater Indonesia.

Beberapa penghargaan juga ia dapatkan di tahun 2014 dan 2016 silam, yakni penghargaan atas pengabdiannya sebagai staf ahli Menpora RI oleh Roy Suryo pada 2014 silam, sedangkan di tahun 2016 ia menerima Anugerah Tumenggung Dunia Melayu Dunia Islam dari Gubernur Malaka.

Sakhyan Asmara pada wawancaranya dengan liputan 6 mengenai pembentukan Paskibraka untuk pertama kalinya. (Sumber foto : Liputan6.com)

Menurut Sakhyan pencapaian yang ia dapatkan selama ini tidak hanya sekadar bernilai materi namun lebih dari itu.  “Itu semua bagi saya jabatan dan karier adalah pengalaman hidup dalam rangka dapat memberi manfaat bagi orang lain. Bukan hanya untuk mencari materi. Satu prinsip hidup saya, kita jangan sampai melakukan kesalahan yang akhirnya membuat kita terseret masuk ke penjara,” Ucap Sakhyan kepada Pijar.

Jika bagi sebagian orang harta, jabatan, dan ketenaran adalah segalanya, hal itu tidak berlaku untuk Sakhyan. “Harta sebenarnya bukanlah jabatan dan ketenaran. Melainkan harta itu ilmu pengetahuan, keterampilan, dan bahasa yang nantinya ketiganya akan dibungkus oleh ilmu agama agar tetap pada rel yang akan ditempuh nantinya,” Ucap Sakhyan.

Sakhyan beranggapan untuk menjadi generasi penerus bangsa yang sukses, produktif, dan berprestasi ala Sakhyan Asmara, seseorang harus memiliki nilai-nilai yang dapat meningkatkan daya saingnya. Ia juga menyatakan bahwa mahasiswa generasi bangsa harus mulai untuk back to campus agar dapat meningkatkan daya saing dengan melakukan proses belajar, berlatih melaksanakan penelitian, dan mencoba untuk terjun ke masyarakat

Tidak memandang berapa usia yang ia miliki saat ini, Sakhyan Asmara juga masih memilih produktif dengan keyakinan yang ia pegang teguh. Saat masa pensiunnya nanti, ia tetap berkeinginan untuk meraih gelar guru besar dan setelahnya ia memilih untuk menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama keluarga tercinta. “Seperti air yang mengalir, ketika orang merasa perlu maka kita bersedialah selama masih diberikan kekuatan oleh Allah SWT, masih ada yang bisa kita berikan kepada masyarakat.” Tutup Sakhyan di akhir wawancara.

(Redaktur Tulisan : Lolita Wardah)

Leave a comment