Shilva Devira

Pijar, Medan. Jika membahas soal dunia perfilman, maka negeri gingseng tidak akan lepas dari pembicaraan. Mengapa tidak, kualitas film yang selalu memuaskan ekspektasi para penonton menjadikan Korea Selatan sukses di industri perfilman.

Tidak hanya terkenal akan kisah romansanya yang sering membuat penonton terbawa perasaan, banyak dari film Korea juga mengangkat tentang isu-isu sosial. Hope merupakan satu diantaranya.

Bila Sobat Pijar adalah penggemar film kisah nyata dan keluarga, maka film yang satu ini wajib banget untuk ditonton. Kisah menyayat hati pada film Hope menceritakan pengalaman hidup memilukan seorang gadis kecil korban kekerasan seksual. Kejadian ini terjadi di tahun  2008, saat Na-Young yang saat itu berusia 8 tahun hendak pergi ke sekolah. Ia tiba-tiba diseret dan diperkosa pria berusia 57 tahun dengan inisial Cho di sebuah toilet gereja yang sudah tidak terpakai.

Ayah yang harus menggunakan maskot kartun favorit untuk bisa mendekati So-won. (Sumber Foto: kumparan.com)

Film ini merupakan hasil karya sutradara terkenal Lee Joonik yang juga menjadi orang dibalik kesuksesan salah satu film terbaik Korea,  King and The Clown. Cerita hidup Na-Young dan keluarganya yang mencoba bangkit dari keterpurukan rupanya berhasil mengetuk pintu hati para penikmat film. Kesuksesan film ini mengantarkan Hope meraih predikat film terbaik di ajang 34th Blue Dragon Awards.

Melalui film Hope, keadilan dalam hukum turut dipertanyakan. Hukuman yang didapat tersangka yang dianggap tidak adil terhadap pihak korban menjadi perhatian banyak orang. Dilansir dari beberapa sumber, ribuan masyarakat Korea menuntut hukuman lebih besar untuk pemerkosa seperti Cho.

Lebih dari 600.000 orang menandatangani sebuah petisi dalam situs kepresidenan Gedung Biru, menyerukan untuk pengadilan ulang dan menolak Cho berbaur lagi dengan masyarakat. Tapi pemerintah menolak seruan tersebut. Kemudian aksi protes lain juga bermunculan, termasuk lewat lagu ‘Nayoungee’ yang dirilis penyanyi R&B ALi pada 2011.

Dari film ini, kita dapat melihat gambaran yang kerap terjadi terhadap korban kekerasan seksual. Pandangan sosial dan media yang sering menempatkan korban seperti seorang pelaku. Seperti pada adegan saat Im So Won dikejar para wartawan untuk diwawancarai hingga membuatnya harus pindah ruang rawat inap dan membuatnya ketakutan. Bahkan korban sempat bertanya kepada ayahnya, “Apakah aku berbuat salah?”

Dalam kasus kekerasan seksual, korban kerap kali menjadi pihak yang turut disalahkan. Diskriminasi pada korban juga masih sering terjadi, korban yang seharusnya mendapat perlindungan justru menjadi pihak yang disalahkan. Film Hope menggambarkan betapa kejamnya masyarakat dan media terhadap korban kekerasan seksual.

Kurangnya dukungan sosial dan lemahnya perlindungan hukum membuat korban pelecehan memilih untuk bungkam. Lelah menghadapi si pelaku sekaligus hukum negara yang dianggap belum berpihak kepada korban, membuat tidak sedikit dari mereka memilih untuk menyimpan rapat kekerasan yang menimpanya.

Sistem hukum mendapat sentilan halus melalui film ini dengan harapan hukum tersebut dapat diperbaiki dan memberikan keadilan bagi pihak korban. Nah, buat Sobat Pijar yang sudah setia membaca hingga akhir, jangan lupa untuk sediakan tisu saat menonton ya!

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

Leave a comment