Hits: 25
Nadya Divariz Bhayitta Syam
“Di sini, huruf pun punya jiwa. Bersama kata dan prosa, mereka tak mau lenyap dihapus masa. Bersembunyi di balik pilar-pilar. Mengakar di sela bebatuan. Menunggu kata yang akan lahir dari tangan dan bibir para penyair.”
Pijar, Medan. Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam Bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.
Ada begitu banyak hari yang diperingati di dunia. Hampir setiap hari rasanya. Mungkin hidup ini tak bisa lepas dari perayaan, atau apalah alasan lainnya. Namun apakah hanya perayaan terhadap puisi yang berlandaskan pada kematian seseorang? 28 April, Hari Puisi Nasional.
UNESCO sebenarnya menetapkan tanggal lain, tepatnya 21 Maret sebagai peringatan rangkaian kata bersajak ini dalam skala internasional. Tapi ada terlalu banyak pihak yang ingin didengar hingga saat ketika penyair puisi ‘Aku’ berpulang pun kemudian dipercaya sebagai saat yang tepat untuk memperingati puisi. Mungkin memang tak sah rasanya jika sebuah hari besar tak punya sejarah yang mencengangkan. Seperti kematian.
Perayaan ini dimulai pada hari ketika beberapa prosa memutuskan untuk hidup dengan cara lain. Dikenang bersama dengan kematian sang penyairnya, Chairil Anwar. Namun menurut tulisan milik kumparan.com, Indonesia, tepatnya para pujangga lainnya, memilih momen lain dalam kehidupan penyair itu sebagai hari puisi. Ia dilahirkan pada 26 Juli 1922 di Kota Medan. Memangnya, apa kehebatan ‘Si Binatang Jalang’ ini hingga semua harus berputar pada sejarah hidupnya?

(Sumber Foto: goodnewsfromindonesia.id)
Kisahnya berakhir di rumah pesakitan CBZ (kini RSCM). Bukan tamat layaknya pahlawan dengan semua kisah heroic, ia mati diserang sakit. Begitu saja kalah, kemudian pergi. 27 tahun, 95 karya, Chairil Anwar menghembuskan nafas terakhirnya.
Jika mengutip pendapat Hasan yang dilansir oleh kumparan.com, “Kematiannya kan tragis, nggak punya alamat, miskin, komplikasi penyakit, dan lain-lain.”
Kepergian yang terlalu biasa dan menyedihkan untuk dijadikan sebagai sebuah peringatan karya indah. Lahirnya pun tak seistimewa kisah kelahiran Isa dari Maria yang merupakan perawan suci. Lahir dari sepasang suami-istri berdarah Minang, bernama Toeloes dan Saleha. Bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), turut Ibu menapak Jakarta setelah perceraian mereka, hingga tekad menyair yang muncul pada usia 15.
Tapi dia tetaplah sang pujangga angkatan 45. Anak nakal yang berani-beraninya mendobrak aturan-aturan lama. Aku, Karawang-Bekasi, Cerita Buat Dien Tamala, Doa, kau sebut saja karyanya yang lain. Tak mungkin tak bisa kau rapal setidaknya satu dari 70 puisi yang telah ia gubah. Manusia biasa memang dia, tapi kalau bukan karena kenakalannya, ah mana tau kau bagaimana rasanya berpuisi dengan cara seperti itu. Era kontemporer, realis, apalah nama yang kalian beri pada alirannya.
Tentang Tanggal yang Lain
Kematian adalah kepedihan. Ucapan selamat tinggal pada apapun yang pernah ada kemudian pergi menyambut tiada. Deretan tanggal dan bulan yang terlupa ini dimulai dengan sejarah yang jelas. Sekumpulan penyair dari penjuru Indonesia merasa sudah saatnya Indonesia punya sebuah hari khusus untuk mengenang hebatnya dunia sastra dan prosa. Digagas oleh Rida K.Liamsi dan penyair terkemuka lainnya di seluruh Indonesia, mereka berdeklarasi.
Tapi tak banyak yang tau, sayangnya.
“Aku nggak tau bahkan soal ini. Berasa gagal jadi pecinta sastra,” tambah Putri ketika membahas soal dua hari puisi Indonesia.
Pekanbaru, 22 November 2012 menjadi saksi bisu lahirnya tanggal baru. 26 Juli, hari ketika pelopor angkatan 45 itu lahir, ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia. Dikutip dari kumparan, teks proklamasi yang diselenggarakan di Pekanbaru pada 22 November 2012 itu setidaknya berisi 4 paragraf. Dibacakan langsung oleh penyair terkenal, Sutardji Calzoum Bachri.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Terserah orang ingin merujuk pada tanggal yang mana, sama saja selama keinginan Chairil Anwar masih bisa tercapai. Untuk hidup seribu tahun lagi.
(Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang)

