Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tanggal 31 Mei kembali menjadi momen refleksi bagi semua orang. Ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 1987, peringatan ini awalnya dilakukan untuk menarik perhatian soal bahaya dan dampak mematikan dari tembakau. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, gaya hidup dalam mengonsumsi nikotin telah banyak berubah, termasuk di kawasan pendidikan seperti universitas.
Setiap tanggal 7 April, dunia memperingati Hari Kesehatan Internasional yang juga menandai peringatan berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia atau Word Health Organization (WHO). Pada peringatannya ke 78 tahun, WHO mengusung tema “Together for Health. Stand with Science” yang menekankan pentingnya kolaborasi dan kontribusi sains dalam menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Setiap tanggal 14 November, dunia memperingati Hari Diabetes Sedunia (World Diabetes Day) sebagai bentuk kepedulian global terhadap ancaman penyakit diabetes yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun ini mengusung tema “Diabetes Across Life Stages” atau “Diabetes di Setiap Tahap Kehidupan”, yang menekankan bahwa penyakit ini dapat menyerang siapa pun, tanpa memandang usia.
World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 720.000 orang meninggal dunia disebabkan oleh bunuh diri setiap tahunnya. Dari periode Januari hingga Agustus 2024, Pusat Informasi Kriminal Nasional Bareskrim Polri mencatat sebanyak 852 orang meregang nyawa dengan cara bunuh diri.
Menjaga kesehatan merupakan suatu keharusan dalam menunjang hidup yang baik. Sayangnya, karena satu dan lain hal, kesehatan menjadi hal yang dikesampingkan banyak orang. Isu ini menjadi kekhawatiran bagi World Health Organization (WHO), sehingga 7 April, tanggal berdiri organisasi dunia tersebut, ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Dunia. Pada peringatannya yang ke-76 tahun, WHO mengangkat tema “My Health, My Right” yang merujuk pada pemenuhan hak atas kesehatan individu.
Pada tahun ini perhatian masyarakat terfokuskan kepada pandemi Covid-19, pada kesehatan yang mempengaruhi segala aspek bidang kehidupan manusia.
Olahdulu yang merupakan gerakan kampanye literasi media dalam melawan infodemi, sukses menggelar talkshow bertemakan “Infodemi Sebagai Fenomena dalam Komunikasi Massa” melalui akun instagram-nya @olahdulu.2020 (10/10).
Kegiatan yang bertajuk talkshow ini mengundang Dra. Mazdalifah, M.Si., Ph.D. yang merupakan Dosen Ilmu Komunikasi USU sebagai pemateri. Beliau juga merupakan dosen yang konsen mengajarkan mata kuliah komunikasi massa. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu pakar literasi media di Indonesia.
Psikis manusia semakin hari semakin gencar dibicarakan belakangan ini. Bahkan, yang lebih parah lagi hampir 57 ribu penderita gangguan jiwa di dunia terpaksa dipasung. Data yang dihimpun dari Human Right Watch yang dikutip melalui laman Historia.id, penderita gangguan jiwa yang dipasung itu terpaksa harus hidup seperti binatang hanya karena dianggap lebih aman dan tidak mengganggu orang banyak.
Wanita berkacamata dengan paras yang cantik ini terlihat seperti wanita pada umumnya. Namun siapa sangka, di balik keanggunannya, ia memiliki hati yang mulia dan semangat yang patut dibanggakan. Begitulah sosok Faradila Umaya Nasution, wanita muda pejuang pendidikan. Ia pendiri Biru Langit Education, sebuah komunitas yang bergerak pada pengembangan dan pelatihan pendidikan non-formal untuk anak-anak serta pemuda di Sumatera Utara, khususnya bagi mereka yang putus sekolah.
Hingga kini, belum ada protokol baku bagi wartawan dalam melakukan liputan. Tak ayal mengapa setiap media memiliki gaya masing-masing dalam menghadapi normal baru.
